Part 02: Benua

1071 Words
Dibawah pohon rindang dengan teriknya matahari siang ini, seorang gadis yang tadi merasa sial malah dengan asik berleha-leha manja sambil ML-an. Jangan lupakan bukunya yang malah dia jadikan bantal, sepertinya cuaca 37° celcius siang ini tidak mampu mengganggu dirinya. Item? Whatever! Dea mana peduli yang namanya penampilan, "b*****t! Temen gue kenapa pada AFK Semua deh?!" Gadis berambut sebahu itu langsung duduk tegak sambil mengumpati handphone yang dipegangnya. Sepertinya hari ini akan dinobatkan sebagai hari tersial untuknya. Saat pagi dia dimarahi Bapaknya, lalu setelah itu ketahuan sama dosen tua bangka itu, dan sekarang dia kalah mabar. Benar-benar hari yang menyebalkan untuknya. Karna merasa bosan, Dea memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Lagian di sini juga sepi karena semua sedang ada mapel kuliah, aslinya Dea juga ada .... tapi bodo amat lah, Dea udah terlanjur betmut! Dea menyampirkan tasnya di lengan kanannya, menutup kepalanya dengan kupluk hoodie merah marun nya. Celana piggy pants dan sepatu putih sneakers nya merupakan style yang yang disukai Dea, tidak seperti wanita umumnya yang lebih ke arah feminim. Karena sejujurnya Dea kapok menggunakan rok, terakhir kali dia menggunakan rok. Roknya malah terbang tertiup angin. Untung saja waktu itu dirinya menggunakan dalaman celana. Coba kalau enggak .... Innalillahi sudah. Masalahnya ini aset masa depannya. Dea menghentikan langkahnya saat melihat gerombolan orang yang berkumpul di depannya, karena memang dasarnya tukang kepo, Dea memutuskan untuk melihat apa yang tengah terjadi disana. "Eh ... Dek, umurnya berapa?" "Ini seragam sekolah Bayangkara yang elite itu? Adek sekolah di situ?" "Dek kenalin kakak Amira-" "Alah enggak usah sok kenal deh!" "Biarin terserah gue dong!" Dan bla ... bla ... bla .... Dea mendengus geli sendiri mendengarnya. Apakah semua cewek di kampus ini pada kekurangan cowok sampai harus berperilaku mirip bencong begini? Iyuh Dea jijay sendiri kan melihatnya. "Oey hush hush! Pada gak malu apa gangguin bocah?!" "Apaan sih De, pergi sono lo. Sirik aja!" Balas salah satu diantara mereka. Dea menatap ke arah mereka sambil mengernyitkan dari, "sirik? Sama lo? Sorry-sorry aja lah ya, nggak level banget!" Cibir Dea dengan sarkas yang langsung dibalas umpatan oleh mereka semua, badut-badut comberan berdempul dan berpakaian kurang bahan itu. "Udah deh! Pergi sana kalian, badut comberan!" Selanjutnya Dea langsung nyempil-nyempil di antara mereka lalu menarik seseorang yang bahkan tidak dikenalnya itu keluar dari gerombolan mereka, ya lagian berani banget masuk ke kandang wanita kurbel macam mereka. Kurang di belai maksudnya. "Ehm, Kak." Dea langsung menghentikan langkahnya seketika, kepalanya memutar menghadap kearah pemuda di belakangnya itu. "Eh," Dea reflek melepaskan pegangan tanganya. "Sorry deh, lupa gue." Dea menyengir kuda dengan santai. Pemuda itu tersenyum sungkan ke arah Dea, "enggak papa kok Kak, aku yang harusnya makasih karena Kakak udah bantuin aku." Balasnya dengan sedikit semburat pink di pipinya, yaelah pemalu banget nih bocah. "Santuy aja dan juga manggilnya jangan Kak dong, berasa tua banget gue," Dea mengibaskan tangannya di depan pemuda itu. "Panggil aja gue Dea, lo siapa?" Tanpa ada salam-salaman segala Dea langsung memperkenalkan dirinya. "Aku Benua Kak- eh ... Dea maksudnya." Benua terkekeh pelan. "Whisss ... Benua mana nih? Asia, Eropa, Amerika, Afrika, atau Australia?" Canda Dea selanjutnya mereka tertawa bersama. "Kakak-- eh ... Dea maksudnya, bisa aja deh!" Dea menyengir lalu selanjutnya mengikat rambutnya dengan karet gelang secara asal, ternyata cuaca yang panas bisa membuatnya jadi kegerahan. Besok dirinya harus bawa AC nih! "Habisnya nama lo antik banget sih, ya udah ya bye! Berhubung gue kan orang penting jadi gue itu sibuk banget!" Dea melambai ria. " Okelah dadah Benua Asia, moga-moga ketemu lagi!" Belum sempat Benua menjawab. Dea langsung menghilang dari hadapannya membuat Pemuda 18 tahun itu mendesah pelan. "Harusnya aku tanyain jurusannya tadi." gumamnya lirih. *** Dea mondar-mandir di depan pintu coklat itu sejak 15 menit yang lalu. Maju mundur, maju mundur tanpa kepastian. "Bodo ah, mendingan gue masuk aja. Didalam pasti AC-nya dingin," tanpa pikir panjang Dea lalu membenarkan tas ranselnya di lengan kanannya, setelah itu mengetuk pintu 3 kali. Gini-gini kan Dea tahu tata krama bertamu. Tok.. tok.. tok.. Merasa tidak mendapat sahutan, Dea mengulangi kegiatan mengetuknya lagi, masih tidak mendapat sahutan, Dea kali ini sudah mulai menggedor pintu itu dengan kurang santai. DOK.. DOK... DOK! Sepertinya ia lupa kalau ini merupakan ruang dosennya. "Kamu ngapain gedor-gedor pintu saya?!" Dea hampir saja terjengkang saking kagetnya. Menoleh ke arah belakang, ternyata Sam baru datang dengan setumpuk buku di gendongannya. "Kamu pikir biaya renovasi pintu itu murah apa? Kamu yang belum tahu rasanya bekerja mencari uang jangan berani-berani merusak fasilitas yang ada di kampus ini!" Dea mencibir pelan, dosennya ini terlalu perhitungan sekali menurutnya. "Ya-ya Pak, maaf saya kan enggak tahu kalau Bapak enggak ada di ruangan ini." Dea menjawab dengan slengekan. "Kamu bodoh ya?! Kamu kan bisa tanya sama satpam yang menjaga di sini, Pak Herman pasti tahu kalau saya sedang mengajar dan juga saya tadi kan mengajar di kelas kamu. Bagaimana kamu bisa nggak tahu, kamu tadi bolos ya?!!" Mam Pus! Selain cerewet abis dosennya ini juga sangat lemes mulutnya, Dea yang sudah megap-megap di posisinya malah langsung ditarik Sam masuk ke dalam ruangan dengan tidak santai. Sam melepaskan cekalanya setelah berada di dalam ruangan. "Ternyata selain tukang malak, kamu juga suka bolos ya! Kamu itu baru berapa minggu jadi mahasiswi di sini kenapa kelakuan kamu itu minus banget sih, kamu mau ngulang semester?!" Cecar Sam bertubi-tubi dengan bersungut. "Maaf deh Pak, saya nggak akan ngulangi lagi tapi jangan bikin saya ngulang semester dong Pak. Saya bisa diceramahin tujuh hari tujuh malam sama Bapak saya nanti." Dea malah sudah curhat sendiri. Sam nampak mengabaikannya, memilih untuk duduk di kursinya sambil mencari-cari sesuatu yang Dea mana mungkin tahu, saat hendak mendudukkan dirinya di kursi Sam langsung melotot lebar. "Kamu jangan duduk di situ!" Dea menghentikan gerakan bokongnya yang hampir menempel di bantalan kursi dengan kaget, mengernyitkan dahinya sambil menatap kearah Sam dengan tidak mengerti. "Memangnya kenapa, Pak?" "Saya sudah bersihin ruangan ini sampai steril. Jadi jangan sampai kamu kotorin kursi saya dengan p****t tidak higienis kamu itu!" What the hell?!! Dea sudah kembang kempis di tempat. Masyallah ... ajaib sekali tingkah laku dosenya ini, Dea memilih untuk berdiri di hadapan Sam sambil memanyunkan mulutnya kesal. "Ini!" Sam memberikan setumpuk kertas yang langsung membuat Dea meneguk ludahnya susah payah. Firasat nya mulai tidak enak. "Tulis semua yang ada di sini, tidak boleh fotocopy, dan kalau sampai ketahuan kamu nyuruh orang buat nulis ini maka saya akan berikan tugas lebih banyak lagi." Dea melompong syok. Tuh kan dosennya ini benar-benar naudzubillahimindzalik!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD