Three

756 Words
Aku melirik ke arah Bisma. Kaget? Tentu saja. Sebelumnya aku belum pernah mendengar dia berucap sepanjang itu. Dan juga, untuk apa dia minta maaf? Seorang Bisma? CEO perusahaan properti itu minta maaf sama aku? Tunggu! Benar juga ucapannya. Aku nggak punya alasan buat kesel sama dia sampai kayak gini. Soal perjodohan itupun, aku yakin dia tak mengerti apapun. Aku rasa dia benar, dia berusaha baik padaku. Dia mau mengantar jemputku meski aku yakin pekerjaannya di kantor menumpuk. Dia juga sama sekali tak memarahiku setelah aku membanting pintu mobil mewahnya dua kali. Padahal aku yakin dia sangat menjaga mobilnya itu. Dia juga sabar menghadapiku yang selalu kasar padanya. Cara bicaranya pun sopan padaku. Padahal dia seorang CEO terhormat sementara aku hanya mahasiswi biasa. Cukup lama terdiam, ternyata mobil Bisma sudah berhenti di halaman rumahku. Aku segera tersadar dari lamunanku. Detik berikutnya, aku turun dari mobil, diikuti oleh Bisma. Bisma mengikuti langkahku hingga masuk rumah. Ia duduk di ruang tamu, bahkan sebelum aku mempersilahkannya. "Lo...eh..kamu mau minum apa?" tanyaku kaku. "Nggak usah. Aku nggak akan lama kok." Bisma. Ibu muncul dari pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang makan. Wajah beliau tampak ceria menyambut kedatanganku dan Bisma. "Eh Nak Bisma..." ucap Ibuku ramah. Bisma bangkit berdiri kemudian menyalami Ibuku. Ibu menarikku untuk duduk di sampingnya, tepat di hadapan Bisma. Akupun menurut. "Mau minum apa?" tanya Ibu pada  Bisma. "Saya kesini cuma mau mengantar Mawar saja, Tante. Saya harus segera kembali ke kantor. Jadi lebih baik tidak usah repot-repot." jawab Bisma sopan. Entahlah. Semenjak ucapannya tadi, segala kesan burukku tentangnya hilang. Aku mulai belajar melihat sisi baik yang ada pada pria itu. Bagaimanapun dia sudah berusaha. Jadi apa salahnya jika aku menghargainya? "Nggak istirahat disini dulu?" tanya ibu. Bisma menggeleng. "Maaf Tante, tapi kerjaan di kantor masih banyak. Masih mau nyiapin bahan meeting besok pagi juga." Bisma. Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Bisma. "Eh! Em..kalo kamu besok pagi ada meeting nggak usah jemput aku!" sambungku Bisma menoleh ke arahku kemudian tersenyum. "Nggak papa. Masih sempat kok kalau cuma nganter ke kampus doang." Bisma. Aku menggeleng cepat. Aduh!! Dia tidak tau saja jika aku suka ngaret. Aku nggak mau meetingnya gagal cuma gara-gara aku. Yang ada nanti dia ngomel-ngomel lagi. "Eng..bukan gitu. Masalahnya aku nggak bisa berangkat pagi. Aku pasti ngaret." ujarku jujur. Bisma terkekeh kecil, begitupun Ibu. "Iya Nak Bisma, Mawar ini kalau pagi susah dibangunin. Dan kalau ngapa-ngapain lelet banget. Benar kata Mawar, mending besok Nak Bisma langsung ke kantor saja! Jangan sampai meeting Nak Bisma keganggu cuma karena Mawar." sambung Ibu. Hufftt..entah kenapa aku jadi kesal. Kenapa Ibu harus menjelek-jelekkanku di depan Bisma sih? Lagi, Bisma tersenyum. Ekspresinya masih sama seperti beberapa waktu lalu. "Kamu taruh aja HP kamu di nakas. Besok pagi aku telfon buat bangunin kamu." Bisma. "Eh!! Emang kamu punya nomorku?" kagetku. Tentu saja. Aku tidak pernah merasa memberi taunya nomor handphoneku. Bisma mengangguk sebagai jawaban pertanyaanku. Aku menyeritkan alisku, menatapnya bingung. "Ibu yang kasih nomor kamu, Mawar. Biar kalian lebih mudah berkomunikasi." sambung Ibu. Aku berpikir sejenak. "Em...okay deh. Tapi kalau besok aku nggak bisa bangun ditinggal aja ya! Aku nggak mau bikin masalah di kerjaan kamu." ucapku. Bisma mengangguk. "Em...yaudah Tante, Bisma pamit dulu ya. Masih mau ke kantor soalnya." pamit Bisma pada Ibuku. Ibu mengangguk. "Iya, Nak. Hati-hati ya! Makasih udah nganterin anak Tante dengan selamat." balas ibu sembari bersalaman dengan Bisma. Aku dan Ibu mengantar Bisma hingga pintu utama rumah kami. Ketika Bisma berhasil menuruni tangga terakhir terasku, aku memanggilnya. "Bis..." panggilku. Pria itu menoleh ke arahku. "Em...thanks!" ujarku kaku. Bisma tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Aku menatap punggung Bisma yang akhirnya menghilang ke dalam mobil mewah itu. Aku terkejut saat tangan Ibu tiba-tiba sudah ada di pundakku. Aku menoleh ke arah Beliau. "Gimana?" tanya Ibu. Aku menyeritkan alisku bingung. "Dia baik, kan? Berbudi pekerti, pekerja keras. Ibu sama Ayah nggak salah pilih, kan?" lanjut Ibu. "Iya Ibu, dia baik." balasku. "Ibu sama Ayah cuma mau yang terbaik buat kamu. Kalau Nak Bisma itu bukan orang baik, walaupun sudah ada  perjanjian diantara Kakek kalian, kami nggak akan menerima perjodohan ini. Kami menerimanya karena kami tahu, Nak Bisma itu pria yang baik. Yang bisa menyayangi dan membahagiakan kamu." terang Ibu. Aku menatap haru ke arah Ibu. Detik berikutnya aku memeluk wanita yang telah melahirkanku itu dengan erat. Beliau sempat terkejut, namun segera membalas pelukanku. "Maaf ya Ibu, selama ini Mawar udah berpikiran yang enggak-enggak. Mawar akan coba menerima perjodohan ini kalau Ibu sama Ayah yakin memang dia yang terbaik." ujarku. "Iya, sayang. Bagi kami, kebahagian putri kecil kami ini yang paling penting." Ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD