PART. 2 CINTA UNTUK DEVITA

1102 Words
Devita baru saja menyelesaikan salat isya, ia merapikan mukena, dan sajadahnya, ia letakan di rak kecil di sudut kamarnya. Lalu ia duduk menghadapi meja belajar. Rumah terasa sepi, karena selepas maghrib tadi kedua orang tuanya, dan Devira pergi ke undangan pesta ulang tahun salah satu sahabat orang tua mereka. Devita memilih untuk tidak ikut saja, toh di sanapun nantinya pasti keberadaannya tanpa makna. Panggilan ponsel membuat Devita cepat meraih ponselnya. "Elang, Assalamuallaikum," sapa Devita, saat melihat nama si penelpon di layar ponselnya. "Walaikum salam, Vita, kamu di mana?" Tanya Elang. "Aku di rumah," jawab Devita. Ada senyum terukir di bibirnya, seakan Elang ada di hadapannya. "Aku di depan rumahmu," ucap Elang, membuat Devita sungguh terkejut jadinya. "Haah!" Devita berseru kaget. "Aku ingin bertemu, dan bicara penting denganmu, bisa ijinkan aku masuk?" "Ooh, sebentar ya, aku ke depan." Devita segera beranjak. "Iya." Devita mematikan ponsel, lalu mengambil jilbab yang langsung ia kenakan di kepala. Lalu berlari kecil ke luar dari kamarnya. Saat ia membuka pintu depan, tampak Elang sedang bicara dengan Satpam rumahnya di dekat pos jaga. "Elang!" Panggilnya, dilambaikan tangannya pada Elang. Elang menolahkan kepala, lalu kembali menatap Pak Satpam. Elang menganggukan kepalanya, meminta ijin pada Satpam untuk menemui Devita. Pak Husni, Satpam itu menganggukan kepalanya. Elang mendekati Devita yang menunggunya di teras. Tampak ia membawa bungkusan plastik di tangannya. "Sama siapa?" Tanya Devita. "Sendirian," jawab Elang. "Kok mobilmu tidak dimasukan?" Devita menunjuk mobil Elang yang terparkir di luar pagar rumahnya. "Tidap apa, biar saja di luar. Ini aku bawakan pisang kesurupan, kerupuk acan, sama kacang jaruk, kamu pasti suka!" Elang menyodorkan plastik di tangannya pada Devita. "Terimakasih, kita makan sama-sama ya, duduk Lang, mau minum apa?" Devita tersenyum pada Elang, senyum yang sudah sekian lama tidak bisa dinikmati Elang, sejak Devita selalu menutup wajahnya dengan masker saat di sekolah. "Elang, mau minum apa?" Devita mengulangi pertanyaannya, karena Elang yang tengah terpesona pada senyum Devita tidak menjawab juga. "Es sirup boleh tidak?" Tanya Elang. "Es, malam-malam begini?" Devita mengerutkan keningnya. "Cuacanya terasa gerah, " sahut Elang. "Ya sudah, tunggu sebentar ya, aku ke dapur dulu." "Iya," kepala Elang nengangguk. Devita masuk ke dalam dengan diikuti tatapan Elang. Elang duduk di kursi teras yang terbuat dari bahan rotan, produksi kebanggan orang Kalimantan. Elang menyandarkan punggungnya, mencoba menetralkan detak jantungnya. Yang ingin ia bicarakan dengan Devita bukanlah hal biasa, ini menyangkut hatinya, mengenai masa depannya. Devita datang dengan membawa dua gelas es sirup berwarna merah, es sirup rasa koko pandan. Setelah meletakan dua gelas es sirup di atas meja, Devita duduk di kursi yang berhadapan dengan Elang. "Minum, Lang!" "Terimakasih," Elang meminum es sirupnya. "Kok sepi, Devira mana?" "Ikut Papi Mami, ada sahabat Papi yang ulang tahun." "Ooh, kamu kok tidak ikut?" "Kalau aku ikut, kita pasti tidak akan ketemu, iyakan?" Elang terkekeh mendengar jawaban Devita. "Benar juga ya. Artinya kamu sudah punya feeling kalau aku bakal datang ya," goda Elang, kali ini Devita yang tertawa. "Malam minggu begini biasanya siapa yang ngapelin kalian?" Tanya Elang mencoba mencari tahu, apakah Devita sudah memiliki pacar. "Ngapelin kami, tidak ada." Devita menggelengkan kepala. "Kalian berdua belum punya pacar ya?" Selidik Elang. "Katanya ingin bicara penting, kok malah wawancara sih?" ujar Devita mengingatkan Elang akan tujuan kedatangannya. Elang tersenyum, ia menundukan wajahnya, lalu menghela napas. Diangkat wajahnya, ditatap Devita dalam. "Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya, karena kita akan mengikuti ujian akhir sebentar lagi. Tapi hatiku tidak tenang kalau aku belum mengatakannya padamu, Vita. Aku harus mengatakannya, aku ingin kamu tahu perasaanku padamu. Soal jawabanmu, aku akan terima apapun jawabanmu" Elang menatap mata Devita, tatapan mata mereka bertemu. "Maksudmu apa, Lang?" Devita menatap Elang dengan kening berkerut dalam. Meski Devita bisa meraba arah pembicaraan Elang, tapi Devita tidak berani meyakini kalau itulah yang menjadi tujuan Elang, ingin bicara dengannya. "Aku jatuh cinta padamu," cepat Elang mengatakan itu, seakan takut waktu terhenti sebelum ia selesai mengungkapkan isi hatinya. Tatapan mereka masih lekat satu sama lain. Elang tersenyum, digenggamnya jemari Devita. Devita membalas senyum Elang, lalu menarik perlahan jemarinya dari genggaman Elang. "Maaf," Elang menarik tangannya agar menjauh dari tangan Devita. "Aku ingin jawaban jujur, Vita. Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Ataukah cintaku hanya bertepuk sebelah tangan saja?" Ucap Elang penuh harap agar Devita juga merasakan hal yang sama dengannya. Devita menundukan kepalanya, ia tahu kalau hatinya juga menyukai Elang, tapi Devita tahu, Devira juga menyukai Elang. Ia tidak bisa mengatakan ya pada Elang. Karena apapun yang disukai Devira, tidak akan pernah bisa menjadi miliknya, kecuali Devira sudah bosan dan menberikan itu padanya. Meski, saat ini Devira sudah bersedia menerima perjodohan dari orang tua mereka. "Devita?" Elang menunggu jawaban Devita dengan hati gelisah. Devita mengangkat wajahnya, ditatapnya Elang dengan matanya yang teduh. Kepala Devita menggeleng pelan. "Maafkan aku," ujar Devita lirih. Elang memejamkan matanya, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia berusah tegar menerima jawaban Devita. Meski itu sangat menyakitkan baginya. Selama ini, ia belum pernah ditolak gadis manapun saat ia mengungkapkan isi hatinya. "Maafkan aku, Elang. Aku menyayangimu, tapi cukup bagi kita menjadi teman saja, itu lebih baik bagi kita aku kira" ucapan Devita yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang dirasakannya. Ia bukan hanya membohongi Elang, tapi membohongi perasaannya sendiri juga. Tapi bagi Devita, itu adalah pilihan yang paling baik baginya. Elang tersenyum pahit. "Aku hargai keputusanmu, Vita. Meskipun kamu menolakku, aku tetap menyayangimu. Kamu benar, kita masih bisa jadi teman. Hmmm, ayo kita makan pisang kesurupannya, ini kesukaan adik perempuanku. Aku pikir kamu juga akan menyukainya!" Elang berusaha tetap ceria, Devitapun begitu juga. Elang membuka kotak pisang kesurupan yang dibelinya, mereka nikmati berdua sambil bercanda, meski luka berdarah menetes di dalam hati mereka. 'Maafkan aku Elang, aku tidak bisa jujur kepadamu, karena aku tahu kak Devira juga menyukaimu, meskipun Papi mengatakan, kalau Kak Devira akan dijodohkan dengan salah satu putra relasi Papi. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku hanya berhak atas apa yang sudah menjadi bekas Kak Devira. Karena aku hanya bayangannya' ***** BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD