Prolog

159 Words
 London, 26 April 2019             Netra abu-abu itu menatap tajam sebuah bingkai kecil di atas meja kerja miliknya. Ada sorot keriduan dalam pancaran mata pria berwajah western itu.             Sudah lebih dari setengah jam, tapi fokus pria itu masih saja tertuju pada benda mati tersebut. Figura kecil yang berisi selembar foto seorang gadis yang sedang tertawa lepas, menampakkan bahwa dia sangat bahagia kala itu. Di balakangnya ada seorang pria yang melingkarkan lengan erat melewati perut sang gadis, seakan tak ingin berada jauh dari perempun dalam pelukaannya walau hanya satu senti.             Akan tetapi, entah apa yang terjadi hingga akhirnya pria ini terlihat murung memandangi foto yang sudah cukup lama ia letakkan di atas meja itu. Mimik wajahnya berubah-ubah, dan kini, perlahan-lahan sudut bibirnya terangkat ke atas, menampilkan segaris senyum yang telah lama terbenam ke dasar gunung es yang mengelilinginya.                 "Dia sudah kembali," bisiknya parau, bagaikan sebuah nyanyian sunyi di tengah malam, membuat seluruh orang bergidik jika tak sengaja mendengar. Dialah Liam Peterson.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD