PROLOG

221 Words
“Buat aku terkesan,” kata Saga yang tengah menikmati segelas alkohol ... lagi.  Tak perlu ditanya berapa banyak gelas dari jenis minuman yang Saga teguk malam ini. Malam yang seharusnya ia nikmati bersama Alexa–kekasihnya–yang ternyata tidak hadir dan setahu Saga, perempuan itu tengah b******u bersama produser video clip-nya. Seperti malam-malam sebelumnya, Saga akan menggila untuk melupakan sejenak rutinitas keartisannya.  Wanita yang disewa Saga mulai beraksi, menggerakkan seluruh bagian tubuh tanpa mengenakan sehelai benang. Di dalam ruangan yang biasa Saga gunakan, jika menginginkan pestanya berlangsung. Dentuman musik sama sekali tidak mengusiknya. Bahkan baginya suara itu kurang menghibur. Diletakkan gelas, lalu berjalan cepat menuju penari t*******g yang membuat rahang Saga mengeras.  “Kenapa perempuan sepertimu tidak menghibur sama sekali, sih?” desis Saga, seraya mencengkeram leher perempuan tersebut dengan kuat. Belum puas dengan membuat napas perempuan itu hampir habis, ia menamparnya hingga sudut bibir perempuan itu mengeluarkan cairan kental berwarna merah. “Ssstt ... jangan menangis! Saya nggak sejahat itu. Kenapa kamu setakut ini? Suaramu itu, sangat menjijikan, oke? Jangan nangis lagi, nurut kalau ingin pulang dengan selamat. Paham?!” tekan Saga, yang dibalas anggukan lemah perempuan tersebut.  Ia melihat sekeliling ruangan di mana dirinya berada saat ini. Menarik lengan kemeja hingga sebatas siku, lalu mengambil ponsel dalam saku celana, guna menghubungi seseorang yang bisa membantunya malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD