1st Floor

1042 Words
            “Kelly ! Ayo cepat, kita harus segera berangkat. Kau masih harus melakukan pemeriksaan sebelum interview. Kau juga Milly, mum akan mengantarmu sekalian ke sekolah bersama Ollie. Cepat habiskan sarapan kalian !” seorang wanita paruh baya berseru pada ketiga anak perempuannya saat akan keluar dari pintu. “Ya mum ! Aku akan sarapan di mobil saja !” balas anak tertuanya, Kelly.             Gadis itu keluar dari rumah sambil membawa ransel dan mantel cokelatnya. Rambutnya lurus panjang sepinggang dan berwarna cokelat kemerah-merahan. Ia mengenakan sweater hitam dengan celana kulit yang cukup ketat. Sepatu boots cokelatnya berdentum pelan setiap ia melangkah. Tangannya memegang sepotong roti isi sambil berjalan menuju mobil yang sedang dinyalakan oleh ibunya. Gadis itu langsung duduk di depan dan mengunyah dengan tenang.             Tidak berapa lama kemudian, kedua adiknya keluar dari dalam rumah dan yang lebih tua sedang sibuk mengunci pintu rumah mereka. Ollie si gadis kecil berumur 8 tahun langsung masuk ke dalam mobil dan diikuti kakak keduanya Milly.             Mobil mereka langsung melaju meninggalkan kompleks perumahan itu. Milly sibuk mendengarkan musik melalui ipod-nya sementara Ollie membaca buku ceritanya. “Apa cuma ini syarat untuk masuk di perusahaan A&J ?” tanya ibunya pada Kelly. “Ya mum. Aku telah menyelesaikan tes lainnya sebelum pihak A&J memintaku melakukan tes kesehatan sebagai syarat akhir. Ah, kita hampir sampai. Itu di sana mum !” Kelly menoleh dengan bersemangat pada sebuah gedung rumah sakit. “Rumah sakit St.Victoria ? Bukannya kita mau ke Petersburg Medical ?” sang ibu mengernyit memandang gedung itu. “Tidak mum. Apa aku belum memberitahumu ? St.Victoria termasuk grup A&J dan mereka memintaku melakukan tesnya di sana. Mungkin aku akan ditempatkan di sana.” Jawab Kelly dengan berharap. “Oh baiklah, mungkin mum lupa.” Ibunya tersenyum dan memarkirkan mobil mereka segera.             Kelly segera turun dari mobil dan melambai pada mereka. “Mum akan menjemputmu saat makan siang sekalian menjemput mereka pulang sekolah. Kurasa tesnya akan cukup lama bukan ?” si ibu tersenyum sambil memandang Kelly. “Baiklah mum. Kurasa aku akan menunggu di dalam jika kau belum datang. Tes kesehatan bisa membuatku pusing jika aku harus pulang sendirian.” Kelly balas tersenyum dan berbalik meninggalkan mereka.             Gadis itu masuk ke dalam rumah sakit besar itu sambil memandang sekelilingnya. Banyak orang yang berlalu lalang dan semuanya terlihat sibuk. Ia segera menghampiri bagian pendaftaran dan sibuk menyelesaikan urusannya.             Menjelang siang, Kelly telah selesai melakukan semua tes kesehatannya. Ia hanya perlu menunggu panggilan dari A&J apakah ia diterima bekerja di sana atau tidak. Ia sudah belajar sangat keras untuk mendapatkan gelar seorang dokter bedah dan masuk ke perusahaan besar seperti A&J adalah impiannya.             Gadis itu memilih berkeliling di lobi saat menunggu ibunya menjemputnya. Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di sayap kiri bangunan rumah sakit itu. Sepertinya gedung yang telah rusak. Kelly melihat pengumuman di pintu masuknya yang hangus terbakar, ‘Bahaya ! Dilarang masuk ! Gedung sedang direnovasi !’.             Ia ingat dulu pernah ada berita kebakaran yang membuat rumah sakit St.Victoria kehilangan gedungnya sebelum akhirnya mendirikan gedung yang baru. Tapi, gedung terbakar itu tidak terlalu terlihat dari luar saat ia datang tadi.             Saat masih menatap reruntuhan gelap itu, tiba-tiba ada sesuatu yang melesat melewati Kelly dan membuatnya terkejut.             Kelly terkesiap saat melihat seorang anak kecil berambut pendek sebahu dengan gaun merah berlari ke arah gedung terbakar itu. Anak itu langsung masuk dan mengabaikan papan pengumuman yang ada di depannya. “Hei ! Di sana berbahaya ! Tunggu !” Kelly langsung berseru dan tanpa sadar ia berlari mengejar anak itu.             Tepat pada saat itu, ibu Kelly baru saja turun dari mobil bersama Milly dan Ollie. Ia melihat putri sulungnya berlari menuju sayap kiri dan matanya membelalak saat melihat papan pengumuman itu. “Kelly ! Apa yang kau lakukan ??? Di sana berbahaya !” teriak ibunya sambil ikut berlari menuju Kelly yang tidak mendengar panggilannya.             Kelly masuk ke dalam bangunan yang sudah menghitam dimana-mana akibat terbakar. Ia yakin bahwa anak kecil tadi masuk ke dalam bangunan itu tapi ia sudah tidak melihat sosoknya lagi. Kelly mengedarkan pandangannya ke dalam gedung hangus itu. Tempat itu gelap dan bau asap masih tersisa di sana. Tanpa sadar Kelly mengusap kedua lengannya. Ada perasaan tak enak yang muncul saat ia masuk ke gedung itu. “Hello ? Gadis kecil ? Kemarilah... kau masuk ke tempat yang salah.” Panggil Kelly sambil memandang berkeliling. Nampaknya itu bekas ruang resepsionis.             Tidak ada sahutan dan Kelly tiba-tiba mendengar bunyi dentingan dari sebelah kirinya. Ia langsung menoleh ke sana dan melihat kelebatan gaun merah masuk ke sebuah lift di ujung lorong. “Hey ! Berhenti nak ! Di sana berbahaya !” Kelly kembali memanggilnya dan kakinya lagi-lagi langsung melaju menuju lorong lift itu.             Matanya memandang pintu lift yang telah tertutup. Ia bisa melihat lift itu naik ke atas karena model pintunya yang masih kuno. Ia terlambat dan ia memandang nomor lantai yang ditekan si anak kecil tadi.             Panah nomor lift berpindah dari angka satu ke dua dengan cepat. Tapi, jarumnya melambat saat menuju angka empat. Lift itu nampaknya berhenti di lantai empat dan entah apa yang merasuki Kelly, ia langsung menekan tombol lift itu. Ia menunggu dengan tidak sabar saat lift mulai berhenti di depannya.             Lift berdenting dan ia langsung masuk ke dalam. Tepat pada saat itu ibu Kelly berhasil menyusulnya. Wanita paruh baya itu langsung berlari ke arah lorong lift dan masih melihat anak perempuannya yang baru saja masuk ke dalam.             “Kelly ! Apa yang kau lakukan ??? Keluar dari sana !” ibu Kelly memandang panik dan menekan tombol pintu terbuka dengan terburu-buru.             “Mum ! Ada anak kecil yang naik ke gedung rusak ini ! Aku mau mengajaknya turun dari sini.” jelas Kelly sambil memandang ibunya dengan terkejut.             “Mum tidak melihat ada anak kecil saat mengejarmu tadi ! Mana mungkin ada ! Ayo cepat keluar dari sana !” ibu Kelly masih berusaha menekan tombol pintu terbuka pada lift. Tapi, nampaknya tidak bekerja.             “Tidak mum ! Aku benar-benar melihatnya ! Dia naik ke lantai empat dengan gaun berwarna merah dan aku akan segera membawanya turun. Mum tenang saja.” Kelly tersenyum singkat pada ibunya yang membelalak.             “Berhenti Kelly ! Mum menyuruhmu untuk tidak melakukan hal itu ! Buka pintunya sekarang ! Dia bukan tanggung jawabmu !” kali ini ibu Kelly memandangnya dengan marah dan Kelly terkejut. Ini pertama kalinya ia melihat ibunya terlihat sangat gusar. Rasa naluri sang ibu mengatakan tempat itu berbahaya dan ia tidak ingin anaknya masuk ke tempat seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD