Terurai Delilah 2

1527 Mots
Aku langsung melompat berdiri dengan cepat. Meraih pakaianku secepat mungkin, aku mengenakannya dalam keheningan, jemariku meraba-raba kancing, tidak mempedulikan apa pun yang tidak bisa kutemukan dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Maggie tetap berada di dekat pintu, kepalanya menoleh ke arah tempat tidur. Zedd bergerak. Kami berdua langsung terdiam kaku. Dia mengembuskan napas panjang. Laporannya terentang di atas seprai—melintasi ruang tempat tubuhku berada—dan kemudian diam di sana. Napasnya kembali teratur. Maggie merangkul pergelangan tanganku, dan kami bergerak. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku begitu kami melangkah keluar hotel. Baru saat pintu taksi tertutup di belakang kami, aku bisa bernapas lagi. Pintu taksi bahkan belum sepenuhnya tertutup ketika aku menoleh ke arah Maggie. "Bagaimana aku bisa sampai di sana?" Dia menatapku cukup lama, seolah sedang menimbang-nimbang seberapa banyak yang harus dia katakan. Kemudian dia mengembuskan napas. "Kamu tidak mau berhenti minum. Demi Tuhan, aku sudah mencoba menghentikannya, tapi kamu sudah berada di dimensi lain begitu dia berjalan ke arah pandanganmu." Dia berhenti sejenak. "Kamu melihatnya dari seberang ruangan dan langsung… berjalan ke sana seolah ada sesuatu yang menarikmu. Aku mencoba berdiri di antara kalian dua kali, dan kamu melangkah mengitariku dua kali seolah aku tidak ada di sana." Aku menatapnya dengan mata terbelalak. "Aku menghampirinya?" "Menghampiri saja tidak cukup." Dia merapatkan bibirnya. "Kamu berjalan langsung ke arah Alpha paling berkuasa di ruangan itu, menatap tepat ke matanya, dan berkata—dan ini kutipan langsung—'kamu punya mata yang seksi untuk ukuran pria yang begitu menakutkan'." Aku memejamkan mata. "Dia tertawa," lanjut Maggie, dan aku bisa mendengar dia menahan senyum bahkan sekarang. "Benar-benar tertawa. Dan kemudian dia… mempertahankanmu. Orang-orangnya mencoba mengalihkan situasi dua kali, dan dia mengibaskan tangannya menolak mereka berdua. Apa pun yang terjadi setelah itu, aku hanya tahu sebagian kecilnya saja karena kamu sudah berada di dalam mobilnya sebelum aku sempat menyusul." Aku membuka mata dan menatap keluar jendela. Dia telah mengibaskan tangannya untuk mengusir orang-orangnya sendiri. Dia telah memilih untuk menjagaku tetap dekat ketika dia bisa saja menyuruhku pergi tanpa berpikir dua kali. Seorang Alpha seperti Zedd tidak melakukan itu secara kebetulan. Kenapa? Pertanyaan itu mengendap di dalam dadaku dan tinggal di sana. Perjalanan setelah itu terasa sunyi kecuali dengungan pelan mesin mobil. Maggie membayar sopir tanpa sepatah kata pun, dan kami melangkah masuk ke rumah bersama-sama. Perjalanan pulang telah memberiku waktu selama dua puluh menit untuk meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Rumah yang kosong menghancurkan keyakinan itu dalam hitungan detik. Saat itulah kilas balik itu datang. Suaraku sendiri, terengah-engah dan tanpa rasa malu di dalam kegelapan. "Tolong, Zedd, tolong—" Mata birunya yang kelam menatapku seolah aku adalah sesuatu yang berharga sekaligus penuh dosa. Jemarinya membuka dekapanku sementara lampu-lampu kota berkelebat cepat di luar jendela. Geraman rendah di dekat telingaku. "Begitu, badai kecil. Datanglah untukku." Aku menempelkan punggungku ke pintu depan yang tertutup dan tetap bergeming sampai gelora panas itu mereda. Mengapa dia membiarkannya? Pertanyaan itu menolak untuk pergi. Aku melepaskan diri dari sandaran pintu. Aku memandangi segala sesuatu yang telah kubangun, dan yang kulihat hanyalah Layla dalam gaun perak itu. Nama Karyk dalam ucapan siulang tahun. Cara mereka membangun seluruh kehidupan di belakang punggungku sementara aku mencurahkan segalanya untuk kehidupan kita berdua. Aku telah mengenalkannya pada para investor utamanya melalui jaringan kerjaku sendiri. Aku telah bekerja lembur di kantornya, percaya padanya ketika tidak ada orang lain yang peduli. Aku telah menelepon Layla setiap kali melewati malam yang dingin dan sunyi di ranjang kami, menangis pelan di ujung telepon sementara dia menghiburku. Mereka berdua. Pada saat bersamaan. Berapa lama? Kesedihan itu datang tanpa air mata. Aku sudah tidak bisa menangis lagi. Kesedihan itu datang bagaikan bayangan pekat yang menantikan cahaya untuk menghalaunya. Segala hal yang kukira telah kubangun, pernikahanku, persahabatan terdekatku, ternyata busuk sampai ke akar-akarnya. Aku telah menjadi tangga, dan mereka menaikinya bersama-sama, lalu menendangku begitu saja. Rahangku mengatup rapat. Kesedihan itu berubah wujud menjadi sesuatu yang lebih dingin. "Ambilkan kunci mobilku. Aku akan menemui Karyk," perintahku. Maggie mengamatiku sejenak. "Kamu yakin?" Aku menatap matanya. "Ya." Aku benci mengemudi. Kehilangan kendali, kerentanan yang menyertainya, tetapi hari ini aku perlu merasakan sesuatu yang kupilih sendiri. Aku memegang kemudi itu sendiri. Ruas jemariku memutih, dan aku mengemudi seolah-olah iblis sendiri sedang mengejarku. Maggie duduk di kursi penumpang, terdiam untuk pertama kalinya. Asisten Karyk melompat berdiri saat aku menerobos melewati mejanya. "Nyonya Moonbane, tunggu! Beliau sebentar lagi akan memulai rapat penting. Anda tidak bisa—" Aku tidak memperlambat langkahku. Aku mendorong pintu ruangannya hingga terbuka. Karyk mendongak dari laptopnya, keterkejutan melintas di wajahnya sebelum dia mengubahnya menjadi ekspresi kesal. "Delilah. Ini bukan waktu yang tepat." Aku melangkah masuk. Maggie mengikuti dan mengambil posisinya di dekat pintu tanpa berkata apa-apa. "Kamu bertunangan dengan Layla," kataku. Dia bersandar perlahan ke kursinya. "Apa yang kamu bicarakan?" Aku mengulurkan tangan ke arah Maggie tanpa melihatnya. Dia meletakkan ponsel ke telapak tanganku. Aku menyeberangi ruangan, meletakkannya di atas meja kerjanya, menekan tombol putar, lalu mundur selangkah. Video itu mengisi keheningan di antara kami. Tepuk tangan dan ucapan selamat berdenting bagai lonceng yang tidak akan pernah bisa kuhapus dari pendengaranku. "Untuk Layla dan Karyk!" Dia menontonnya tanpa bergeming; tidak ada satu otot pun yang bergerak di wajahnya. Ketika video itu berakhir, dia mendongak menatapku, dan matanya tampak datar serta benar-benar kosong dari apa pun yang pernah menyerupai cinta. "Pernikahan ini sudah mati sejak bertahun-tahun lalu, Delilah." Suaranya terdengar hampir bosan. "Kamu tahu itu. Aku tahu itu. Tidak ada anak. Tidak ada pewaris. Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari semua ini?" Setiap kata memutarbalikkan sesuatu di dalam dadaku. Kemudian dia merogoh laci meja kerjanya dan meletakkan selembar dokumen di depannya. Dia menggesernya di atas meja ke arahku tanpa berdiri, bahkan tanpa sedikit pun kesopanan untuk menatap mataku dengan benar. "Aku sudah meminta pengacara membuat ini bulan lalu," ujarnya. "Surat perceraian. Tandatangani atau tidak, para pengacaraku akan mengurusnya." Dia melirik jam tangannya. "Aku juga menolakmu dan rahimmu yang terkutuk itu. Semuanya sudah selesai, Delilah. Sudah selesai sejak lama sekali." Aku menatap lembaran kertas itu. Sesuatu di dalam diriku retak. Itu adalah keretakan yang lambat dan mutatif dari sesuatu yang telah bertahan jauh melampaui batas waktunya. Serigalaku merintih di tempat yang begitu dalam dan pribadi sampai-sampai aku tidak tahu bahwa dia masih menunggu sesuatu untuk berubah. Seluruh tahun-tahun itu. Semua pagi yang sunyi dan malam-malam yang hampa serta makanan yang disantap berhadapan dengan seorang pria yang jiwanya sudah pergi sementara raganya masih ada di sini. Aku sudah tahu. Sebagian dari diriku selalu mengetahuinya. Namun aku tetap tinggal, membangun, memberi, dan berharap. Aku telah mencintainya. Itulah bagian yang paling menyakitkan. Bukan pengkhianatannya, bukan Layla, atau bahkan lembaran kertas yang tergeletak di antara kami. Melainkan kenyataan bahwa aku sungguh-sungguh, dengan bodohnya, mencintai pria ini, dan dia melihat cinta itu tanpa menemukan apa pun yang layak untuk dipertahankan. Tiga detik. Kuberi waktu diriku selama tiga detik. Lalu aku mengembuskan napas dan melangkah maju. Ketika suaraku terdengar, suaranya terasa begitu tenang dan tidak hampa seperti isi hatiku. "Kamu berani." Aku sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Setelah setiap pintu yang kubukakan untukmu. Setiap investor yang kuserahkan kepadamu melalui jaringan kerjaku sendiri, saat kamu tidak punya apa-apa selain rasa lapar tanpa cara untuk memuaskannya. Setiap malam larut, aku duduk di kantormu mempercayaimu ketika seluruh dunia telah meremehkanmu. Aku yang membangunmu, Karyk. Aku yang meletakkan setiap batu tempat kamu berdiri sekarang." Aku mempertahankan tatapannya. "Dan kamu malah menggeser surat-surat di atas meja ke arahku seolah aku hanyalah sebuah ketidaknyamanan yang harus segera diselesaikan." Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Rahang Karyk mengatup rapat. Matanya beralih melewati diriku ke arah pintu. "Keluar, Delilah." Aku berbalik. Dan dia ada di sana. Zedd berdiri di ambang pintu, diapit oleh orang-orangnya. Dia tinggi, berwibawa, dan memancarkan kekuatan magnetis yang sama yang telah menghancurkan diriku tadi malam. Mata birunya yang kelam mengunci mataku. Udara di antara kami berderak tegang. Keterkejutan, rasa panas, rasa malu, serta sesuatu yang lebih gelap dan penuh tuntutan memenuhi diriku dalam waktu bersamaan. Dia tahu persis apa yang telah kami lakukan. Dan dia sama sekali tidak terkejut. Karyk membentak, "Kubilang keluar." Aku berjalan keluar. Maggie dan aku berhenti di koridor tepat di luar dinding kaca ruang rapat. Melalui kaca itu, aku melihat Zedd menduduki kursi kepala meja bagaikan seorang raja yang mengsinggasanai tahtanya. Karyk mulai menyampaikan presentasinya yang sempurna. Itulah versi diri Karyk yang telah kubantu ciptakan. Maggie mengembuskan napas di sampingku. "Sekarang apa, Bos?" Aku menatap Zedd. Ingatan itu menghantamku sekali lagi, begitu jelas dan tanpa ampun. Suaranya yang berat di dekat telingaku di dalam mobil yang gelap. "Aku akan merusakmu untuk pria lain mana pun, badai kecil." Jemarinya di dalam diriku, melengkung dengan pas sementara lidahnya mempermainkan k******s-ku. Cara punggungku melengkung lepas dari jok, paha yang bergetar hebat saat o*****e merobek diriku. Itu jauh lebih kuat, lebih lama, dan lebih dalam daripada apa pun yang pernah diberikan Karyk padaku selama bertahun-tahun pernikahan kami. Cara aku mendekapnya erat setelahnya, merintih menyebut namanya saat dia membawaku menembus gelombang demi gelombang, menggeramkan pujian rendah di leherku. Aku menempelkan jemariku sejenak ke bibirku dan mengembuskan napas perlahan. Tubuhku masih terasa nyeri sekaligus masih mendambakan. Aku menegakkan tubuh, sebuah rencana kejam mulai mekar di dadaku. "Maggie," kataku dengan suara rendah dan mantap. "Apa yang kita ketahui tentang Alpha Zedd?"
Lecture gratuite pour les nouveaux utilisateurs
Scanner pour télécharger l’application
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Écrivain
  • chap_listCatalogue
  • likeAJOUTER