19 | Lagu Sang Langit

1851 Kata

Langit kembali mencoret bait dari lirik yang ditulisnya. Seraya menggigit ujung pena hitamnya, jemari itu kembali menari di atas tuts piano. Telinganya menajam, mencari pasang nada untuk irama yang sempurna. Langit tersenyum begitu nada yang tepat telah ditemukannya. Ia mencatat chord yang baru ditemukannya tersebut lantas menulis kembali bait lirik yang sempat dihapusnya. Namun, baru beberapa detik membacanya kembali, kening laki-laki berkerut dalam. Langit berdecak. Ia teramat tidak pandai dalam membuat puisi seperti ini! Pemilihan kata yang kurang tepat justru semakin membuat lagunya terdengar absurd! Dari kejauhan, Surya tersenyum geli mengamati Langit yang tengah frustrasi dengan kertas-kertas di tangannya. Laki-laki itu bahkan tidak jarang terlihat mengacak rambutnya kemudian me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN