05 | Langit Biru

2557 Kata
Langit mendengus melirik arloji hitamnya. Ia tidak suka menunggu, apalagi di tempat ramai seperti ini. Belum lagi, mereka—para penggosip di sekolah—berada di satu halte yang sama dengannya. Sial, umpatnya dalam hati. Seandainya tadi malam ia tidak sembarangan menaruh kunci mobil, mungkin sekarang ia sudah sampai di rumah! Sialnya, kunci mobil miliknya terletak di atas meja ruang tamu, tempat Surya terduduk sambil menyesap kopi dan membaca koran paginya. Langit tidak mau berpapasan dengan pria itu meskipun ia bisa saja membuang muka dan bersikap acuh tak acuh seperti biasa. Akhirnya, ia terpaksa kembali ke kamar dan mengambil kunci motor di laci nakasnya. Namun, lagi-lagi sialnya, motor Langit kehabisan bensin! Langit menghela napasnya lega begitu bus yang ditungguinya datang. Ia buru-buru naik ke dalam bus agar mendapat kursi yang nyaman. Sepasang matanya menyisir bangku-bangku kosong yang tersedia. Sampai kedua matanya menatap sosok Bintang yang duduk di bangku ketiga dari belakang. Gadis itu belum menyadari kehadiran Langit karena tengah asyik mendengarkan lagu dengan earphone terpasang di kedua telinganya. Langit tidak sadar telah berdiri di tengah jalan selama beberapa menit seraya memandangi sisi wajah Bintang, sampai suara kondektur bus mengejutkannya. “Weh Mas, duduk dah. Banyak yang kosong malah demen berdiri.” Langit berdeham, membersihkan kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Baru saja ia mau melangkah, suara kondektur tersebut kembali mengusik. “Eh jangan pergi dulu, bayar bayar,” ucapnya seraya menimang-nimang beberapa recehan di tangannya. Ingin rasanya mengumpat, tapi Langit masih waras. Bila ia memperpanjang masalah, maka seluruh penghuni bus di sini akan heboh dan membuat suasana menjadi tidak nyaman karenanya. Laki-laki itu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang membuat kondektur tadi berdecak. “Uang kecil aje, Mas. Dari tadi uang gede mulu pada ngasih, nggak ada kembalian lagi ntar.” “Ambil aja deh,” balas Langit tidak ingin ambil pusing. Jelas saja hal itu membuat wajah kondektur yang sekusam terpal warung jadi berseri-seri. Bintang yang tengah asyik mengkhayal seraya memandang kosong pemandangan di luar jendela, tiba-tiba merasakan seseorang duduk di sebelahnya dan semakin terkejut saat mendapati siapa yang memilih duduk di sampingnya. Bintang bersiap membuka mulut dan mengucapkan nama Langit, tapi niatnya tersebut kemudian ia urungkan mengingat sikap Langit akhir-akhir ini padanya. Gadis itu kembali memandangi pemandangan luar tanpa mengindahkan Langit yang kini meliriknya dengan sebelah alis terangkat. Mencoba tidak peduli dengan Bintang, Langit memejamkan kedua matanya. Dengan kendaraan umum, perjalanan ke arah rumahnya lumayan terasa lama. Langit merasa lebih baik mengistirahatkan pikirannya sejenak sebelum otaknya kembali berulah memikirkan gadis di sebelahnya. Tapi tidak berhasil! Dengan tetap memejamkan kedua matanya, dahi Langit berkerut dalam hingga kedua alis tebalnya bertaut. Lagi-lagi, ia memikirkan dirinya sendiri juga gadis di sampingnya. Dari sekian banyak—ralat, dua-tiga bangku kosong yang tersedia di bus tersebut, mengapa pilihannya malah duduk di samping gadis ini? Memaksa dirinya untuk tertidur agar tidak memikirkan hal itu, Langit berhasil membuat dirinya terlelap dengan kedua tangan bersedekap. Di sampingnya, Bintang mengamati Langit yang tertidur. Dahi laki-laki itu sedikit berkerut, membuat kening Bintang ikut-ikutan mengernyit. Pikirannya tengah berkelana memutar memori di mana tatapan dingin Langit yang mampu membekukan jemarinya. Tapi apa yang dilihatnya saat ini? Langit malah memilih bangku di sampingnya. Bukankah itu artinya Langit sudah baik-baik saja dengannya? Bintang menggeleng samar, mengenyahkan asumsi dalam benaknya. Ia takut, Langit malah menunjukkan hal sebaliknya lagi dan membuat hati Bintang semakin tercubit. Tidak ingin memikirkan hal tersebut lebih jauh, Bintang mengikuti jejak Langit. Keduanya pun tertidur. *** Langit mengubrak-abrik seluruh tempat di kamarnya. Ponselnya hilang! Langit menggeram frustrasi saat ia tidak menemukannya di segala tempat. Di mana ia menaruh benda pipih tersebut? Seingatnya, terakhir kali ia menggunakan ponsel saat masih di sekolah, artinya... Sialan! makinya kesal. Inilah yang Langit tidak sukai jika menaiki angkutan umum! Banyak orang bertangan panjang yang tanpa tahu malu dan dosa, mengambil hak orang lain! Langit mencari ponsel satunya yang memang jarang sekali ia gunakan. Ponsel ini memang tidak sebagus miliknya yang baru, namun dengan ini, setidaknya dapat membantu ia melacak keberadaan ponsel barunya. Jemari Langit memperbesar gambar peta pada layar dan menemukan nama jalan di mana ponselnya berada. Langit menimang-nimang Iphone 5s-nya dengan sepasang alis bertaut. Ia akan memberi pelajaran untuk siapa pun yang telah berurusan dengannya. *** “Bintang?” Bintang menoleh pada pintu kamarnya. “Ya, Bun?” “Turun yuk, kita makan malam bersama mumpung ada Bulan.” Suara lembut sang bunda menerbitkan senyuman Bintang. Bukan makan malam di restoran mewah yang dimaksud, hanya makan malam sederhana di rumah. Hal kecil itu sudah cukup membuat Bintang bahagia. “Iya Bun, Bintang turun lima menit lagi, yah.” Begitu langkah bundanya terdengar semakin jauh, Bintang kembali mengamati benda mahal di tangannya. Mahalnya mungkin bisa sampai membeli sepeda motor yang Bintang dan Bulan butuhkan. Ponsel milik Langit. Oh ayolah, Bintang bukan pencuri! Justru Bintang menemukan benda ini di kursi yang Langit duduki. Yep, Langit turun lebih dulu saat itu. Syukurlah Bintang yang menemukannya, bagaimana jika orang lain yang berniat jahat? Setidaknya, Bintang berniat akan mengembalikan benda ini besok. Bahkan Bintang baru menyadarinya sekarang, lagi-lagi mengapa harus dirinya yang menemukan apa pun milik Langit yang tertinggal? Tapi bukan soal harga dan mahalnya benda ini yang membuat Bintang terus memandangi ponsel Langit. Ini soal keanehan Langit. Demi bintang-bintang di angkasa! Di jaman seperti ini, tidakkah laki-laki itu menyimpan satu atau dua lagu di dalam ponselnya? Saat pertama membuka ponsel yang tidak terkunci ini—yah, memangnya siapa yang berani mengutak-atik ponsel sang Langit? Oh ya, pengecualian untuk Bintang sendiri—ibu jari gadis itu langsung tertuju pada icon musik dan menyentuhnya. Folder itu kosong! Bintang sempat kecewa karena tidak bisa mengetahui selera musik apa yang diketahui Langit. Bintang sangat mencintai musik! Siapa tahu, Bintang bisa membawakan lagu kesukaan Langit nanti untuk membuat Langit tersenyum. Ya? Nanti. Kapan-kapan. Bintang terkikik sendiri karena pemikirannya. Memangnya kapan ia bisa memainkan piano untuk Langit? Itu sih hanya khayalannya saja. Jujur saja, dari dulu Bintang memang bermimpi suatu saat akan menyanyikan atau memainkan piano untuk seorang Pangeran dalam khayalannya. Dan yah, sepertinya Langit cocok menjadi pangerannya. Kini kedua pipi itu merona akibat pemikiran barusan! *** Langit menatap rumah mungil di hadapannya dengan alis terangkat tinggi. Ia kembali memastikan alamat rumah tersebut dengan petunjuk yang tertera di ponselnya. Tepat dan benar. Namun, ia masih tidak yakin. Rumah tersebut tampak bukan seperti rumah pencuri atau macam penjahat lainnya. Langit bahkan bisa merasakan kehangatan rumah tersebut dari luar. Entah mengapa rumah ini mengingatkan ia pada masa lalunya. Langit membuka pagar mungil yang bahkan tidak melebihi pinggulnya. Ia meniti perlahan ketiga anak tangga beranda sebelum akhirnya sampai di depan pintu. Langit menyimpan ponsel dalam saku jaket jins hitamnya dengan gerak melambat. Tiba-tiba saja ia meragu. Ada perasaan aneh yang membuat dirinya tanpa sadar mengulur waktu hanya untuk mengetuk pintu di hadapannya. Tok... tok... tok... Buku-buku jemari Langit pada akhirnya tergerak perlahan. Sangat pelan hingga Langit sendiri meragu jika sang penghuni akan mendengarnya. Namun, tidak. Langit yang sudah mantap mengurungkan niat dan ingin segera berlalu pun hanya bisa terpaku saat pintu di hadapannya terbuka. Seorang perempuan yang sedang mengunyah, muncul dan berdiri di ambang pintu. “Mau apa?” Langit mengangkat sebelah alisnya. Pertanyaan apa itu? Tidak sopan! Sambutan tak bersahabat dari gadis itu sanggup membuat Langit berpikir untuk mengikhlaskan ponselnya begitu saja. “Sopan,” sindir Langit. Gadis itu berjengit. Baru kali ini ada yang bertamu orang-baperan-macam-ini. “Bulan? Siapa tamunya? Kok nggak diajak masuk?” suara lantang bundanya yang berasal dari dapur, terdengar sampai ke ruang tamu. “Bentar, Buuun. Ini ada tamu nggak jelas!” Bulan kembali mengunyah kerupuk yang tersisa di tangannya. “Jadi, mau apa lo ke sini?” tanyanya, kembali memusatkan perhatian pada tamu-nggak-jelas yang dimaksud. “Eh, Bulan! Nggak boleh begitu sama tamu. Kamu ini kebiasaan. Disuruh masuk dulu itu temannya.” Bunda tiba-tiba muncul dan memberi senyuman hangat pada pemuda di hadapannya. “Dia bukan teman aku, Bun.” Bulan meringis mendapati pelototan bundanya yang semakin menajam untuknya. “Berarti ini temannya Bintang! Kenapa kamu nggak bawa masuk dan panggilkan adikmu? Astaga, Bulan!” Langit kontan menoleh. “Bintang?” Belinda menoleh padanya tatkala Bulan telah berlalu untuk memanggil Bintang. “Iya, kamu ke sini buat bertemu Bintang, bukan? Soalnya kamu nggak mungkin dong mencari bundanya Bulan dan Bintang?” ucapnya lantas tekikik geli mendapati kebingungan yang tersirat jelas di wajah pemuda itu. “Mari masuk. Angin malam nggak baik buat anak-anak.” Kalau remaja lain, mungkin akan mengamuk dan merasa tersindir dengan panggilan “anak-anak”. Tapi, mendengarnya dari wanita itu, membuat hati Langit menghangat. Suaranya begitu lembut membelai telinga Langit. Bahkan Langit merasakan kehadiran sosok yang telah lama meninggalkannya, kini seolah kembali. “Kak Langit?” pekik Bintang terkejut saat mendapati Langit duduk di sofa ruang tamu kecilnya. “Langit?” Bulan dan Belinda saling berpandangan, namun keduanya yang tidak ingin mengganggu Langit maupun Bintang, memilih untuk kembali ke dapur dan lanjut menyiapkan makan malam mereka. Langit berdiri, melangkah mendekati gadis. “Bintang? Bulan?” Bintang yang awalnya hanya berani menatap Langit dari balik bulu matanya, kini mendongak dan mengulum senyum mendapati kebingungan di wajah Langit. “Iya, Ayah dan Bunda suka sama nama-nama kayak gitu. Bahkan waktu Bulan belum lahir, ayah berencana ngasih nama Pelangi buat Bulan dan Awan buat Bintang kalau seandainya Bulan punya adik laki-laki...” Pelangi. Kenyataan itu sanggup membuat Langit tertegun sekaligus penasaran. Alih-alih menginterupsi Bintang, Langit tetap bergeming membiarkan bibir mungil itu menceritakan kisahnya. “...Tapi ternyata Bunda lebih suka nama Bulan dan Bintang. Bintang, kan, bisa dipakai buat perempuan atau laki-laki, jadi aman. Dan benar aja, Bintang lahir sebagai perempuan,” celoteh Bintang. Entah mengapa ia selalu senang menceritakan tentang sejarah namanya pada orang lain, tidak terkecuali. Lagi-lagi. Selalu ada alasan kuat yang membuat gadis ini, segala yang berbau dengan Bintang, susah untuk ia singkirkan dari pikirannya. Bintang ternyata juga memiliki Bulan-nya seperti Langit memiliki Pelangi-nya. Bedanya Bulan masih bersinar karena selalu ada Bintang yang ceria menerangi hidupnya. Sedangkan Langit? Pelangi-nya telah tiada. Berapa kali pun Langit menangis menurunkan hujannya, Pelangi tidak akan pernah kembali mewarnai Langit. Bintang menelengkan kepalanya, memandangi Langit yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apa yang membuat wajah dingin itu kini terlihat begitu mendung? “Kak Langit?” Bintang menyentuh jemari Langit yang menggantung di sisi tubuh menjulang pemuda itu. Dingin. Langit malamnya kembali lagi. Langit terkejut karena sentuhan itu. Sentuhan hangat yang menjalar nyaris ke setiap inci tubuhnya. Tatapan hangat Bintang saat ini terasa sanggup menghangatkan langit malam dengan cahayanya. Tanpa sadar Langit tersenyum. “Sori,” lirihnya kemudian berdeham begitu mencium aroma makanan yang begitu menggoda. “Lo mau makan, kan? Gue balik kalau gitu.” Bintang kontan menahan lengan Langit tatkala laki-laki itu berniat berlalu. “Eh, maaf.” Gadis itu meringis kecil dan melepas pegangannya. “Ng… jangan pulang dulu, Kak Langit. Mending ikut makan sama keluarga Bintang, yuk? Bintang lagi senang hari ini soalnya Bulan ikut gabung makan malam. Pasti bakal lebih asyik kalau Kak Langit ikutan. Kan, jadi makin ramai.” Sepasang mata bundar Bintang menatap Langit dengan memohon. Keluarga. “Emang Bulan biasanya ke mana?” Langit menormalkan nada bicaranya sebaik mungkin. Ia tidak ingin melukai Bintang dengan penukasan yang kerap dilakukannya. Setidaknya untuk malam ini. Bintang tersenyum. “Bulan, kan, kuliah. Tugasnya lebih banyak dan lebih sibuk dari pada Bintang. Jadi, dia sering nginap di kostan temannya dekat kampus biar gampang katanya. Kalaupun pulang ke sini sering lewat dari jam makan malam, jadi jarang bareng gitu,” jelas Bintang panjang lebar. “Yaudah yuk, ikut kita makan. Masakan Bundanya Bulan Bintang enak lho!” Langit hanya memanggut-manggut dan mengekori Bintang yang mendahuluinya. Ruang makan di rumah Bintang tidak begitu luas. Bahkan tidak ada setengahnya dari ruang makan di istana Langit. Tapi kehangatan yang terpancar sampai pada hatinya, membuat Langit tanpa sadar begitu lahap menyantap seluruh hidangan di atas meja. *** “Bi, kebabnya habis. Mau gue beliin burger juga?” Bintang menggeleng. “Lagi nggak mau burger, Nari. Beliin siomay aja deh ya.” Nari mengangguk lantas berlalu, meninggalkan Bintang seorang diri di tempatnya. Pikiran Bintang kembali memikirkan Langit. Semalam, Langit tidak sedingin sang malam. Tadi malam bahkan Bintang mendengar tawa Langit. Serius! Bintang tidak berbohong. Ya, walaupun hanya kekehan kecil ketika Belinda membicarakan dirinya dan Bulan yang sering berdebat, tak mau ada yang mengalah, tapi sama-sama membutuhkan, tawa Langit sanggup membuat Bintang menoleh dan tersenyum. Bintang tersenyum seraya memainkan jemarinya. Jika cahaya Bintang dan Bulan memang dapat menghangatkan Langit malam, Bintang akan dengan senang hati menyambut Langit setiap hari di rumahnya. Bintang menatap sekelilingnya. Ada yang tengah asyik bergosip, bermain adu panco, makan dengan lahap hingga kepalanya nyaris mencium pinggiran mangkuk, bahkan ada yang bermain kartu uno di pojokan. Bayangkan, dari sekian banyak mereka-mereka yang telah lama mengetahui Langit, mengenal Langit, atau pun ingin berkenalan dengan Langit, Bintanglah gadis beruntung yang pernah mendengar tawa sang Langit. Garis bawahi: tawa Langit! Jangankan teman-teman sekelasnya, Ando pun sama sekali belum pernah mendengar tawa Langit. Kekehan sedikiiit pun belum pernah di dengarnya. Langit sangat pelit berbicara. Bukankah sudah pernah dikatakan bahwa Langit pernah dilabeli “bisu” pada sebagian orang yang mengetahuinya? Langit tetaplah Langit. Ia tidak peduli. Mereka hanya bumi yang selalu syirik pada langit di atasnya. Mereka hanya sekumpulan benda bumi yang dapat dirusaki oleh ulah penghuninya sendiri. Tidak seperti langit yang selalu dijunjung dan indah di atas sana. “Hey.” Bintang mendongak lantas menelengkan kepalanya, bingung. “Ada apa ya?” tanyanya pada laki-laki yang duduk di hadapannya. Tempat yang seharusnya diduduki oleh Nari. Pemuda itu tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya. “Kenalan dong. Ando. Senior manis nih,” ujarnya dengan sebelah alis terangkat. Mengubah senyuman manisnya menjadi sebuah seringai. Bintang memandangi uluran tangan itu dengan perasaan cemas. Ia tidak pernah berkenalan dengan cara seperti itu pada lawan jenis. Apalagi senyuman laki-laki itu sepertinya ingin menggoda Bintang! “Kakak mau ketemu Nari ya? Atau Kakak salah orang?” Bintang diam-diam bangkit dan bersiap untuk kabur. Cara Ando mendekatinya cukup membuat Bintang merinding! “Eh, mau ke mana?” Ando kontan menahan lengan Bintang yang siap berlalu. Bintang terkejut. Sontak ia berusaha melepaskan tangan Aldo dari pergelangannya. “Bintang ada urusan, Kak!” pekik Bintang dengan suara bergetar. “Lho? Kan, gue lagi ngomong—” “Lepasin, Do!” Entah dari mana Langit datang dan menarik Bintang ke belakangnya, membuat pegangan Ando kontan terlepas. “Mau apa lo?” “Mau kenalan doang,” jawab Ando, santai. “Jangan ganggu dia,” titah Langit dengan bibir menipis. Sebelah alis Ando terangkat, menantang balik sang Langit. “Lah, urusan lo apa? Gue mau kenalan sama Bintang malah lo yang sewot. Kan, lo bukan siapa-siapanya!” Demi langit dan bumi. Siapa pun yang mengenal keduanya pasti akan bertanya-tanya dengan pertengkaran ini. Meski Langit pelit berbicara dan Ando yang selalu mau tahu urusan orang, mereka berdua tidak pernah terlihat bertengkar. Hubungan keduanya baik-baik saja meskipun tidak “sedekat” persahabatan pada umumnya. “Sekarang urusan gue,” tegas Langit. Laki-laki itu menarik Bintang dengan lembut dan membawanya keluar dari kantin, tanpa memedulikan Ando yang masih bergeming pada posisinya. Nari yang sejak tadi menyaksikan kejadian tersebut dari tempat siomay dengan ternganga-nganga, kini berlari kecil ke tempat di mana Bintang terduduk sebelumnya. “Selamat, Dek. Cahaya sahabat lo berhasil ngubah malam jadi pagi. Good!” Ando menepuk sekilas bahu Nari di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum senang sebelum akhirnya berlalu, meninggalkan Nari yang tercenung. Gimana? Batin Nari tidak mengerti. Apa maksud dari ucapan senior itu? Bintang berhutang penjelasan padanya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN