Pelangit. Nama itu kerap membelai pendengarannya dulu. Nama yang digunakan sang bunda untuk memanggil kedua anaknya.
Langit Angkasa dan Sinar Pelangi. Nama yang terlalu muluk bagi Langit dan Pelangi sendiri. Terlalu indah. Terlalu mengagumkan. Padahal mereka tidak sesempurna apa yang dunia lihat.
Pelangi, merupakan gadis paling cantik yang pernah Langit temui. Seperti namanya, Pelangi selalu mewarnai hari-hari Langit dengan senyum dan tawanya. Meskipun Pelangi lahir lebih dulu darinya, tapi Langit merasa ialah yang berperan menjadi sang kakak dan melindungi Pelangi.
Langit mengelus bandul pelangi di tangannya. Benda peninggalan Pelangi satu-satunya yang begitu berharga. Hampir setiap malam Langit tidak pernah bosan meminta dan memohon pada Tuhan agar mereka dipertemukan dalam mimpi. Meskipun hanya bunga tidur, setidaknya hal itu bisa mengawali harinya dengan senyum karena hati yang terasa damai.
Denting piano yang terdengar hingga kamarnya membuat Langit mendengus. Lagi-lagi, ketentramannya di rumah terusik oleh obsesi pria tua itu. Apalagi kalau bukan musik?
Langit memang membenci dan tidak pernah lelah berusaha menghindar dari apa pun yang berbau tentang musik. Sejak saat itu, hingga kini. Ia membenci musik sebesar ia membenci pria egois.
Ayahnya sendiri.
Langit memendamkan wajahnya dengan bantal. Gusar dengan bunyi alat musik yang indah bagi banyak orang tapi sanggup menyayat hatinya. Kapan pria itu akan berhenti menanamkan musik dalam dirinya? Langit rasa tidak akan pernah. Begitupun hubungan keduanya.
Mustahil akan kembali harmonis.
***
“Bi, udah tidur belum?”
“Beluuuum.”
Jawaban Bintang membuat Bulan menyusup masuk ke dalam kamar adiknya dan langsung merebahkan kepala di atas b****g tepos Bintang yang sedang tengkurap.
“Jangan kentut ya, Bi.”
“Iiissh! Bulan ih,” desis Bintang sebal. “Ada apa ke sini?”
“Emang nggak boleh?” Bulan berpura-pura tersinggung. “Biasanya lo ngintilin gue kalau gue di rumah. Sekarang malah sibuk sendiri.”
“Bintang lagi ngerjain PR, Bulan. Lihat nih!” Bintang menoleh pada Bulan dari balik bahu seraya memamerkan buku tulisnya.
“Oh, gue kirain sibuk mikirin cowok.”
Sumpah! Bulan tuh asal ceplos. Tapi kenapa wajah Bintang justru memerah seolah membenarkan gurauannya?
Melihatnya membuat Bulan sontak terbangun dan melotot. “Eh, omongan gue benar???”
Bintang langsung menggeleng kuat hingga poninya berayun hebat. “Nggak. Bintang nggak mikirin cowok!”
“Heh, Bi, gue tuh tahu banget kalau jawaban cewek itu ‘nggak’ berarti maknanya ‘iya’!” ngotot Bulan.
“Ih, teori dari mana itu?!” pekik Bintang, memandang Bulan horor. “Terus kalau benaran ‘nggak’ gimana?”
“Kalau benaran ‘nggak’ cewek tuh bakal ngomong ‘apaan sih’ atau ‘ya mikir aja dong’, gitu!” Kemudian Bulan tersadar jika Bintang terlalu lembut dan lugu untuk mengelak seperti kebanyakan gadis. “Ya nggak semua sih.”
“Bintang bukan salah satu dari mereka tahu!” kilah Bintang seraya memalingkan wajah, takut Bulan semakin menangkap jelas rona di pipinya.
Tapi tindakan itu justru membuat Bulan mengira jika Bintang merajuk padanya. “Iya deh, jangan marah tapi. Atau nggak gue nginep aja deh di kost—”
“Eh, jangan doooong!” Bintang langsung menahan Bulan yang bersikap seolah-olah ingin berlalu. “Sebentar ya, PR-nya sedikit lagi nih. Bulan tidur sama Bintang ya malam ini?”
Bulan hanya bergumam. Tidak berniat membahas kejanggalan yang baru saja terjadi. Menurutnya, tidak perlu bersusah payah mengorek informasi kalau itu hanya membuat yang bersangkutan merasa tidak nyaman. Ia yakin, jika memang diizinkan mendengar, Bintangnya sendiri yang akan berbicara.
***
Tidak ada yang salah dengan Senin, hanya saja ia berdampingan dengan si merah Minggu yang membuat orang-orang membencinya.
Seperti Bintang yang tidak menyukai Senin. Menurutnya, waktu bersantai di hari Minggu bisa terganggu hanya karena mengingat besok harus masuk dan mungkin tugas-tugas untuk minggu depan yang belum disentuh. Sekalipun tidak ada PR, Senin adalah waktunya Upacara!
Bintang tidak suka Upacara. Bukan apa-apa, Bintang hanya sering sekali pusing dan merasa ingin pingsan saja saat Upacara tengah berlangsung. Ugh! Bintang benci terdengar seperti gadis lemah, meski nyatanya memang begitu.
“Bi, lo nggak bawa topi?” tanya Nari menempatkan diri di belakang Bintang.
Bintang mengernyit kemudian memegang kepalanya sendiri. “Lho? Topi Bintang mana?” paniknya begitu mengetahui topinya hilang.
Nari berjengit. “Lah? Dari pas naruh tas sampai turun ke lapangan, gue lihat lo nggak bawa topi, kok. Makanya gue nanya.”
Mau tidak mau, Nari ikut panik. Cuaca saat ini sangat panas meskipun masih pagi. Bintang bisa saja dihukum berdiri sendiri di depan lapangan, di hadapan umum, di bagian yang terpapar sinar dan paling terik. Bukan hanya akan membuat siapa pun mendidih, tapi juga malu.
Nari langsung berpindah ke barisan beberapa kelas demi “menyelamatkan” Bintang dari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Weh, ada yang bawa topi dua nggak?”
“Ya kagaklah, anjir! Beli satu aja udah lima belas ribu!”
Nari berdecak tatkala jawaban yang diterimanya malah terdengar perhitungan. Tidak menyerah, ia pun beralih ke barisan lain, dan terus begitu hingga dirinya tidak sadar telah berdiri di barisan senior tingkat akhir.
“Permisi. Ada yang bawa topi dua nggak?”
Di barisan paling belakang, sebelah alis Langit kontan terangkat menyambut kedatangan Nari di wilayah kelas 12. Benda yang dicari telah terpasang sempurna di kepala gadis itu, lantas untuk apa ingin meminjam topi lagi?
Seolah embusan angin mampu berbisik di telinganya, Langit menjulurkan lehernya dan langsung menemukan Bintang. Gadis itu terlihat gelisah di barisannya. Yang pasti tidak ada topi di atas kepalanya.
Entah apa yang merasukinya, Langit menggeser tubuhnya. Berpindah dari baris ke baris hingga berdiri di barisan kelas Bintang. Terlalu cemas, gadis itu sampai tidak menyadari kehadiran Langit yang telah berdiri tepat di belakangnya.
Ketakutan Bintang pun semakin menjadi ketika suara microphone mulai berdenging, dan disusul suara Kepala Sekolah yang terdengar tidak terbantahkan.
“Tes... tes...! Baik, yang tidak memakai topi, bet lengkap, dan kaus kaki tidak putih, silakan berdiri di depan sebelum saya tarik langsung!”
Nari yang mendengarnya pun bergegas kembali pada barisannya dan berniat membawa Bintang ke UKS, berpura-pura sakit agar temannya itu terbebas dari hukuman. Namun, belum sampai langkahnya membawa ia ke hadapan Bintang, Nari sudah dikejutkan terlebih dulu oleh adegan yang tidak terduga.
Langit memakaikan topinya pada Bintang!
“LANGIT ANGKASA!”
Suara menggelegar itu lantas membuat semua orang menoleh terkejut pada Kepala Sekolah, kemudian pada Langit, lantas beralih pada Bintang yang mematung di depannya.
Tubuh menjulang Langit membuat laki-laki itu sulit bersembunyi dan menghindar dari hukuman jika ia melanggar. Langit akan selalu menjadi sorotan utama. Di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun.
“Saya tidak akan memulai Upacara ini sebelum kamu berdiri di depan!” ancam Pak Sam seraya bertolak pinggang.
Langit mendengus jengkel tapi tetap mematuhi perintah pria yang kepalanya nyaris licin itu. Meninggalkan Bintang yang menatap punggung Langit penuh tanda tanya. Apa yang baru saja laki-laki itu lakukan? Mengapa Langit memberikan topinya pada Bintang dan membiarkan dirinya sendiri terkena hukuman?
Nari lantas menghampiri Bintang saat Langit tidak lagi mengisi posisinya dalam barisan. “Bi, lo nggak apa-apa?” tanyanya begitu menyadari Bintang hanya bergeming dengan mulut sedikit terbuka.
Bintang menggeleng, tidak ingin membuat Nari khawatir. “Nggak.”
“Tenang. Lo nggak mimpi kok, Bi.” Nari tersenyum seolah mengetahui isi kepala Bintang.
“Tadi itu…” Bintang menelan ludah. “…beneran Kak Langit?”
Meski Nari mengangguk, Bintang tetap saja terkejut. Seharusnya senang, tapi Bintang malah merasa sebaliknya. Gadis itu merasa tidak enak hati sekaligus tidak tega melihat Langit yang kini tampak berpeluh karena panas yang terik dan menyengat.
Bintang benar-benar merasa bersalah karenanya dan Nari menangkap raut kecemasan itu. “Lo beneran nggak apa-apa?”
Bibir Bintang sudah pucat, meskipun lidah topi milik Langit telah melindunginya dari terik matahari, bibir mungil itu tidak lagi berwarna.
Bintang tersenyum. “Nggak apa-apa, Nari.”
Nari membalas senyuman Bintang. “Nggak perlu merasa bersalah, Bi. Kak Langit sendiri yang ngasih topinya, kan? Besok tinggal lo kembaliin dan jangan lupa bilang makasih.”
Kalimat Nari sedikit banyak telah menenangkan perasaan Bintang. Yah, walaupun pandangannya tidak pernah beralih dari Langit yang kini hanya terlihat sebagian tubuhnya karena terhalang beberapa siswa yang berbaris.
“Semoga Kak Langit nggak pingsan ya.”
Nari mengangguk. Seharusnya kalimat itu untuk Bintang sendiri.
***
Bintang tidak tahu di mana kelas Langit. Meskipun banyak yang membicarakan Langit, Bintang baru sadar mereka tidak mengungkit-ungkit kelas yang ditempati Langit. Dan Bintang terlalu malu untuk bertanya pada temannya tentang laki-laki itu.
Alhasil, setelah berhasil mengupulkan kepercayaan dirinya, Bintang melenggang dan mencari-cari keberadaan Langit sepulang sekolah. Batinnya berharap semoga laki-laki itu belum pulang mengingat gerak Bintang yang lambat untuk sampai ke area senior.
Bintang melongok-longok dalam kelas yang pintunya masih terbuka. Ia berhasil menemukan Langit yang ternyata masih termangu di kelasnya yang sudah sepi. Bintang berniat mengetuk pintu upaya menyadarkan Langit akan kedatangannya, tapi belum sampai buku-buku jemari Bintang menyentuh kayu kokoh tersebut, tatapan Langit sudah terlebih dulu menembus iris matanya.
Langit sore kali ini berbeda dengan Langit pagi tadi.
Bintang menelan ludah karena tatapan itu. Ekspresi yang begitu dingin, sanggup membuat tubuh Bintang membeku di tempat.
Tidak ada yang berusaha terlebih dulu memutuskan kontak. Bintang yang berhasil terjerat oleh sorot tajam itu, dan Langit yang tidak sadar tenggelam dalam hangatnya setitik cahaya yang memantul di kedua mata Bintang. Sampai suara benda terjatuh yang berasal dari topi di tangan Bintang menyadarkan Langit. Bergegas laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya dan berlalu meninggalkan Bintang yang berdiri mematung.
Dalam diamnya Bintang membantin, mengapa Langit berubah-ubah? Langit paginya berbeda sekali dengan Langit saat ini. Sama seperti pertama kali bertemu.
Cemberut, Bintang memungut kesal topi Langit yang terjatuh sebelum akhirnya berlalu dan pulang. Ugh! Kalau saja bukan karena topi milik orang lain di tangannya, Bintang tidak akan mau repot-repot seperti ini.
***
Ada apa dengan dirinya?
Langit memandang langit malam seolah tengah bercermin dengan dirinya sendiri. Parahnya, kali ini hadirnya bintang-bintang itu membuat Langit mau tak mau teringat pada Bintang.
Tidak ada kemiripan sama sekali di antara Bintang dan Pelangi. Jelas. Pelangi itu cantik. Kulitnya seputih porselen. Rambutnya yang bergelombang senada dengan warna mata Langit. Hidung yang mancung dan bibir yang sedikit bervolume.
Sedangkan Bintang?
Bintang tidak cantik, tapi senyumannya cukup menawan bagi beberapa orang. Kulitnya bersih, selembut bayi. Rambut lurus yang panjang nan lebat dan berponi sepekat langit malam saat ini. Hidungnya ramping yang bertulang agak tinggi, sedikit mancung. Bibirnya pun tipis. Meskipun ciri-ciri ini merupakan gambaran gadis manis, Langit tidak melihatnya seperti itu.
Lantas, mengapa dirinya kerap terpikirkan oleh Bintang? Mengapa juga ia merasa tidak terusik dengan kehadirannya? Bintang seolah memiliki sesuatu yang berbeda dalam dirinya yang membuat Langit sulit bersikap tidak peduli.
Dia memang Bintang yang berbeda dari bintang-bintang di langit malam saat ini.
Tatapan langit kemudian beralih pada salah satu bintang dengan cahaya paling terang di antara dalam gulitanya.
“Pergi dari langitnya, bintang!” seru Langit pada bintang kecil tersebut. “Pergi dari Langit, Bintang,” lirihnya terlebih pada dirinya sendiri.
Ini terlalu cepat baginya untuk peduli pada orang lain. Tidak ada alasan pasti mengapa ia beberapa kali bersikap manis khusus untuk gadis itu. Walaupun berbeda, entah mengapa saat pertama kali melihat sosok Bintang, ia merasa berada di sisi Pelangi.
Namun, tetap saja. Bintang-bintang tersebut tidak boleh berada dalam langitnya!