Nenek Carla mendesah lelah ketika dirinya mendapati sosok Yuren yang tengah merenung seorang diri di teras rumah. Niat awalnya untuk pergi ke dapur, dia urungkan. Lantas mengambil arah lain, dia pun melangkah melewati pintu keluar dan berhenti tepat di belakang Yuren. Yuren memutar lehernya, menghadap seseorang yang bisa dia rasakan kehadirannya. Memaksakan senyuman palsu untuk menyapa seramah mungkin nenek Carla. Begitu banyak hutang budi yang dirasakan Yuren baik pada Nenek Carla maupun suaminya, Kakek Paul. Di samping telah merawat dan membesarkan putranya, mereka juga dengan baik hati bersedia menerimanya untuk tinggal bersama mereka. Saat itu, dikala Yuren kebingungan mengambil langkah. Sekelebat bayangan tentang kakek dan nenek Hie terlintas di benaknya. Tak ada lagi orang yang
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


