Helsa mengeratkan pelukan pada kekasihnya. Hari ini Akmal resmi dikeluarkan dari sekolah, gadis itu tampak sedih dengan kepindahan kekasihnya. Rasanya akan berbeda dengan tidak adanya sosok Akmal di sekolah ini. Helsa akan lebih khawatir dengan Akmal yang harus bertemu orang-orang baru.
"Nggak usah sedih, aku di SMA Diaksa. Gak jauh dari sini, sayang."
Helsa melepaskan pelukannya, "kenapa kamu nggak minta di skors aja sih?"
"Apa yang kamu takutin?" tanya Akmal, sembari merapihkan helaian rambut Helsa yang sedikit berantakan.
Masalah yang dihadapi Akmal memang sudah tidak bisa ditolerir. Sudah ditegur berkali, diberi SP, tapi tetap saja tidak ada perubahan.
"Banyak!" Jawab Helsa cepat.
Akmal menarik kembali gadis itu dalam pelukannya, dikecupnya kening gadis itu. Tidak peduli dengan banyaknya orang di parkiran sekolah, itu sudah menjadi makan minum mereka.
Satu sekolah tahu betul dengan pasangan ini, pasangan yang kalau bucin tidak memandang tempat. Bahkan sebagian dari guru di sekolah itu sudah mengetahui tentang hubungan mereka.
"Kita udah tiga tahun bareng, aku gak mungkin berpaling dari hal yang gak pasti. Kamu itu segalanya buat aku."
"Aku percaya sama kamu," kata Helsa.
"Akhirnya gak ada lagi yang bucin di sekolah ini," sindir Bella.
"Sirik aja," sahut Akmal dan Helsa bersamaan.
Bella adalah sahabat Helsa sejak kecil, mereka sudah seperti perangko. Dimana Helsa, disitu pasti ada Bella.
"Lo pindah kemana, Lik?" Bella memang suka memanggil Akmal dengan nama belakangnya; Malik.
"Diaksa," jawab Akmal.
"DEMI APA SMA DIAKSA? GILA, ITU SEKOLAH KUMPULAN COGAN."
"Cowok mulu pikiran lo," kata Akmal.
"Biarin," cibir Bella.
"Bell, jagain pacar gue." Pinta Akmal, lalu kembali memeluk Helsa. Harinya akan terasa berbedah, Akmal akan merindukan momen manis mereka di sekolah ini.
"24/7," sebut Bella.
***
Sepulang sekolah, Helsa tidak langsung ke rumah. Mereka menghabiskan waktu bersama di rumah Akmal, hanya berdua. Sebelumnya mereka menyempatkan diri berkunjung ke supermarket, belanja bahan makanan untuk masak bersama. Hal ini sudah mereka lakukan terus-terusan, kalau kata Akmal latihan buat rumah tangga mereka.
"Tumben kulkas kamu kosong? Biasanya penuh," tanya Helsa saat membuka lemari pendingin itu di rumah kekasihnya.
"Males aja akhir-akhir ini," kata Akmal. Biasanya Akmal selalu punya stok sayuran, daging, dan juga ikan. Pemuda itu sudah dbiasakan makan masakan rumah oleh tantenya.
"Sa," panggil Akmal.
"Apa?" sahutnya, Helsa masih sibuk menatah sayuran dan buah ke kulkas.
"Kalau kita nikah muda asyik kali ya?! Pulang sekolah masak bareng, mandi bareng."
Helsa tergelak mendengar haluan Akmal. Kekasihnya ini selalu punya mimpi seperti ini, hampir setiap saat membicarakan perihal pernikahan. Dia pikir nikah muda enak? Enak sih, but banyak hal yang harus dipelajari sebelum ke jenjang yang serius.
"Otak m***m," tanda Helsa.
"Tapi, kalau sama aku, kamu mau kan?!" goda Akmal, jaraknya sudah dekat dengan Helsa.
"Apa sih? Jangan macem-macem, aku lagi pegang pisau." Ancamnya, tapi bohong.
"Dih, mukanya merah gitu." Akmal tertawa mendapati wajah Helsa yang merah berserih, pemuda itu memang paling suka menggodai kekasihnya.
Suasana di dapur tampak ramai, padahal hanya berdua. Rasa bahagia yang Akmal dapatkan bersama Helsa tidak pernah didapatkan dari keluarganya, itulah kenapa Akmal selalu mengatakan bahwa Helsa adalah dunianya.
Akmal tidak bisa tanpa gadis itu, Akmal tidak bisa menemukan sosok seperti Helsa pada perempuan lain. Apapun bisa dia tukarkan di dunia ini, asal bukan Helsa.
Akmal mencintai Helsa.
***
"Nginep aja, yuk. Kan besok pagi kita bisa ke rumah kamu dulu, " Rengek Akmal yang tertidur di pangkuan Helsa.
Ini sudah jam tujuh malam, Akmal belum membolehkan Helsa pulang. Katanya masih rindu. Apa banget si Akmal.
"Enggak ah, nanti aja. Lagian besok kan kamu udah harus masuk sekolah baru, aku gak mau kamu telat."
"Alasannya pas banget ya?!" sinis Akmal.
Helsa tersenyum menampilkan deretan gigi putih nan rapih.
"Sa, aku punya hot news." Ujar Akmal, " bungkukin dikit badan kamu, biar aku bisik."
"Hanya kita berdua ini, Al. Kenapa pake bisik segala?!" protes Helsa.
"Takut jin disini dengar," sebutnya pelan.
"Mana ada? Kamu mau modus kan?" selidik Helsa dengan mata yang memicing.
"Ngapain aku modus, langsung aku sosor juga bisa."
"Nah kan, benaran kamu mau modus." Kesal Helsa.
Akmal bangun dari tidurnya, duduk bersilah diatas sofa berhadapan dengan kekasihnya.
Tidak menunggu persetujuan dari Helsa, pemuda itu lantas mencium pucuk bibir kekasihnya lalu disusul gigitan kecil disana.
"Sakit," celoteh kekasihnya.
"Bodoh amat," balas Akmal.
Helsa berdecak kesal, lalu membalas ciumannya pada hidung mancung pemuda itu.
Akmal tidak tinggal diam, dengan cepat menangkup wajah Helsa dan memberi ciuman mesrah pada bibir kekasihnya dengan diiringi lumatan-lumatan kecil disana.
Akmal memberi jedah saat Helsa hampir kehilangan oksigen, keduanya lalu saling menatap. Akmal membawa Helsa ke pelukannya, mencium puncak kepala gadis itu, memberi kehangatan disana.
"Sa, janji sama aku. Kalau nanti aku punya kesalahan, tegur aku. Jangan pergi!"
"Apapun itu, terkecuali kamu selingkuh. Aku nggak segan ninggalin kamu, Al." Pungkas Helsa dengan mimik wajah yang serius.