Tawanan pertama, pria bertubuh besar itu, menjerit dengan suara yang tinggi dan menusuk, yang segera diikuti oleh erangan tertahan saat cambukan menghantam punggungnya bertubi-tubi. Bau anyir darah segar, bercampur keringat dan besi, segera menyeruak, membuat Aroe mual. Aroe berdiri diam, kaku seperti patung, di belakang bahu kanan Damon. Matanya, di balik topeng ketenangan, dipaksa untuk menyaksikan adegan itu. Ia merasakan panas yang memancar dari punggung Damon, bukan panas fisik, melainkan energi predator yang dilepaskan. Damian, yang biasanya tenang dan rapi, kini telah berubah total. Dia bukan lagi asisten pribadi yang efisien, melainkan seorang eksekutor. Dia mengayunkan cambuk itu dengan ritme yang teratur, setiap cambukan menghantam titik yang berbeda, menghindari organ vital,

