“Angkat telfonnya, bilang kalau ada bukti baru dan kau sedang berusaha untuk mendapatkannya,” titah Azzalyn. Lelaki itu tak merespon. Sementara dering HP terus terdengar. Azzalyn gusar. Kalau dibiarkan bisa-bisa Riska akan curiga dan melarikan diri sebelum ia sempat tertangkap. Clakk!!! Bandi mengeluarkan pisau lipat dan mengarahkannya ke leher lelaki itu. “Angkat, kalau tidak pisau ini akan menancap di lehermu,” ancam Bandi, membuat tawanannya itu menelan ludah karena takut. Lelaki itu mengambil HP nya. “Bicaralah dengan suara senormal mungkin. Awas kalau kau membuat dia curiga,” Azzalyn menghidupkan pengeras suara dan menempelkan telepon genggam itu ke telinga orang suruhan Riska. “Ya Nyonya.” “Kamu ke mana aja? Lama sekali angkat telfonku. Mau cari mati?!” suara Riska te

