Lampiaskan amarahmu Padaku

1070 Kata
Langkah kaki Hera berhenti saat berada tepat didepan kastil. Tarikkan kasar dari pria yang menyeretnya turun dari gerobak barang tak bisa menggerakkannya sedikitpun. Karena jarak dari gubuk yang Hera tempati kekastil lumayan jauh, pelayan laki-laki itu memerintahnya untuk naik kedalam gerobak barang yang memang sengaja dibawanya untuk mengangkut Hera. Pelayan itu mendengus kasar lalu berakata dengan suara menggeram rebdah, "masuk! Tuan sudah menunggumu, jangan membuatnya marah atau kami akan menanggung akibatnya." Dia mendorong kasar bahu Hera tapi gadis itu tidak bergeming. Sejak awal datang ketempat ini, belum pernah sekalipun dirinya masuk kedalam kastil. Dan sebenarnya dia tidak boleh masuk karena kastil ini bisa mendapat kesialan karenanya. Pelayan pria itu hilang sabar, dengan sengaja mendorong kedua bahu Hera, karena dorongan terlalu keras gadis itu justru jatuh terjerembab dengan kedua tangan menahan tubuh. Alhasil kedua telapak tangan Hera terluka karena tanah rumput yang ternyata berbatu. Hera memejamkan mata sambil menggigit bibir, menahan ringisan. Kedua tangannya berdarah saking rapuhnya. Dan pelayan itu tidak perduli, dengan langkah angkuh melewati Hera. Masuk kedalam kastil untuk melaporkan pada Polo, tugasnya telah selesai. Dia tidak mau menanggung resiko dari kekeras kepalaan Hera. Setelah melaporkannya pada Polo, pelayan itu kembali bekerja. Sementara Hera masih terduduk lemas tanpa daya, kepalanya sangat pusing ditambah lagi tubuhnya panas dingin, rasanya dunia berputar cepat. Tidak lama Polo keluar dengan langkah lebar lalu melihat Hera yang masih terduduk lemas. Untuk beberapa saat dia menatap Hera dengan tatapan yang sulit di artikan tapi setelah itu berkata. "Tuan menunggumu, cepat temui dia agar semua selesai dan kau bisa kembali ketempatmu." Suaranya dingin dan tegas, membuat Hera langsung bangkit meski dengan tubuh sempoyongan. Dia tidak punya pilihan lain selain masuk kedalam kastil yang seharusnya tidak boleh dia injak. Takut kalau pemilik kastil itu mengalami kesialan karenanya. Tapi apa dia bisa memutuskan? Tentu saja tidak, dia tidak ubahnya seperti b***k yang telah di beli. Tubuh dan hidupnya milik si tuan. Sayup Hera mendengar suara seorang perempuan yang berteriak keras dan perlahan semakin jelas. Tapi karena kepalanya menunduk, dia tidak dapat melihat siapa pemilik suara tersebut. Dalam hatinya Hera mengakui keberanian perempuan itu karena berani teriak didepan sipemilik kastil yang duduk di sofa single besar. Hera hanya melihat ujung jarinya yang terbungkus sendal rumah. "Sudah ku katakan bukan karena dia aku tergelincir. Kenapa papa bekeras kalau kejadian ini harus di limpahkan padanya?!" Mendengar itu Hera langsung mengangkat kepala, tapi bukannya beradu tatap dengan perempuan tersebut melainkan dengan Edmund. Tatapan pria itu berhasil menusuk jantung Hera hingga menimbulkan nyeri yang teramat sangat. "Lalu karena siapa? Kau tidak pernah tergelincir sebelumnya. Ini bukan pertama kalinya kau masuk dan berkeliaran dihutan itu. Pasti karena keberadaannya sehingga aura kegelapan menyelimutimu." Dengan keras kepalanya pria paruh baya itu tetap menyalahkan Hera. Dia bahkan menatap jijik Hera. Dengan ketus dia berkata, "memang sudah sepantasnya kau dibunuh ketika dilahirkan. Kau bayi iblis yang sialnya harus tumbuh dalam rahim temanku." 'Teman?' Batin Hera. Kalau begitu pria paruh baya ini teman almarhum ibunya? "Papa! Apa yang kau katakan?" "Nona, aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi apa yang ayahmu katakan benar. Untuk informasi, setiap orang yang membelanya berakhir dengan kematian, tunanganku salah satunya." Suara Edmund mengintrupsi. Hera meremas ujung bajunya dengan kuat, kepalanya kembali menunduk. Apa yang Edmund katakan sangat benar, tidak salah sama sekali. Perempuan itu menatap Edmund tidak percaya, "kau juga berpikir seperti itu? Aku tidak tahu kalau kalian berpikir sesempit itu. Yang aku tahu tidak ada manusia yang terlahir dengan kesialan." "Esperanza!" Bentak ayahnya yang membuat gadis itu terlonjak kaget. Tahu telah mengagetkan putri kesayangannya pria paruh baya itu berkata, "jangan bicara asal pada tuan Edmund. Minta maaf dan bersikaplah layaknya seorang perempuan bangsawan." Gadis itu tersenyum getir, "bagaimana aku bisa bersikap layak pada pria yang bisa dengan mudahnya merendahkan perempuan lain? Apalagi perempuan itu keponakkan dari wanita yang sangat di cintainya. Aku rasa nona Camelia merasa beruntung tidak menikah dengan pria sepertinya." Sorot mata Edmund menggelap. Hera langsung bersimpuh dan mengatupkan kedua tangannya lada Edmund, "nona ini tidak bersalah. Aku yang salah, hukum saja aku." Sorot mata Edmund semakin menggelap dengan rahang mengeras. Esperanza langsung menghampiri Hera dan ikut bersimpuh, "hei! tubuhmu sangat panas. Harusnya kau istirahat, kenapa kemari? Dunia tahu kau tidak salah, jangan memohon hukuman yang tidak seharusnya kau terima. Ayahku dan semua pria dimuka bumi ini memang sudah gila, senang mengintimidasi perempuan lemah." Kemudian dia menoleh pada Edmund, "dia bisa mati kalau tidak dirawat! Dimana nuranimu?" "Tuan Scott, mulai hari ini aku mengakhiri kerjasama kita. Dan untuk semua hutangmu lunasi kurang dari satu minggu. Kalau dalam kurun waktu itu kau tidak bisa melunasinya, angkat kaki dari estatmu." Tubuh Esperanza membeku, Edmund tersenyum iblis. Sedangkan pria yang di panggil tuan Scott bersimpuh memohon ampun pada Edmund. Tapi pria itu mengabaikannya. Hera yang tidak bisa melihat itu langsung merangkak mendekati Edmund yang sudah bangkit ingin pergi, "jangan! Tolong, aku mohon jangan lakukan itu pada mereka. Lampiaskan amarahmu padaku, aku yang menyebabkan semua ini terjadi." Edmund menendang Hera hingga kepalanya terbentur kaki meja, darah segar keluar dari ujung pelipis Hera tapi gadis itu tidak berteriak sedikitpun. "Karena ada yang bersedia bertanggung jawab, aku akan menangguhkan sementara keputusanku. Kita lihat sampai dimana kesanggupannya, kalau lebih dari satu minggu, aku akan membatalkan segalanya." Tuan Scott langsung mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tanpa menunggu dia langsung menyeret paksa putrinya untuk meninggalkan kastil Edmund. Hera mendesah lega dan setelah itu hitam menyambutnya. Dia pingsan. ** Saat matanya terbuka, Hera menyadari kalau dirinya tidak berada di gubuknya tapi disebuah ruangan besar yang memiliki kolam air panas yang sangat luas. "Bersihkan ruangan ini sekarang juga. Jangan ada debu sedikitpun atau aku akan menggunting rambutmu. Selama seminggu siapkan air mandiku, sehari tiga kali. Tidak perduli jam berapa aku mandi, kau harus menyiapkannya tanpa pemberi tahuan. Gunakan otakmu dengan benar." Suara Edmund mengintrupsi Hera yang sedang menerka-nerka dimana dirinya sebenarnya. Hera langsung bangun meski kepalanya terasa sangat sakit. "B-b-ba-ikk," jawab Hera terbata. Edmund melepas bathrobe yang dikenakannya. Hera langsung berpaling. Pria itu berjalan masuk kedalam tempat pemandiannya. "Tempat ini hanya di masuki olehku, Polo dan kau. Jangan berani membuat kekacauan." Hera mengangguk dengan tubuh menggigil. "Sekarang pergi! Aku tidak mau melihat kondisi lemah seperti ini lagi, besok dan seterusnya." Hera langsung bangkit dan turun dari tempatnya tidur. Dia segera berlari mencari pintu. Dan begitu membukanya, Hera melihat hutan. Baru dirinya sadari kalau tempat pemandian ini jauh dari kastil. Dan jalan yang harus dilaluinya terdapat tumbuhan berduri sementarar dirinya tidak mengenakan alas kaki. Alas kakinya tertinggal dikastil. Dia melepasnya sebelum masuk kedalam kastil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN