Hera menatap kosong langit kamar yang gelap, bukan karena tidak ada cahaya tapi karena ornamennya memang gelap, segelap si pemilik kamar ini. Dia bagai batang kayu yang teronggok di tengah hutan gelap mencekam dengan lembah hisap yang siap menelan. Tubuh tanpa busananya dibiarkan dalam keadaan yang sangat menjijikkan. Hera tidak berani menatap dirinya. Kehormatan dan kesucian yang menjadi pertahanan terakhirnya runtuh tak bersisa. Pria itu menodainya tanpa ampun, benar-benar menganggapnya bukan manusia. Sedari lahir sudah terbiasa sakit dan menderita tapi tidak sesakit saat ini. Nyeri yang dirasakannya dibawah sana menyadarkannya kalau dia sudah tidak suci lagi. Aroma yang menyengat hingga menusuk indra penciumannya kembali mengingatkan bagaimana cara pria itu menerosbos paksa liang s

