“Vivienne, kamu serius mau ke kebun buah?” Jeremi menatap gadis di sampingnya sambil tersenyum geli. “Padahal tiket kita ke Jakarta sudah aku ubah ke jadwal terdekat. Kamu mau menunda lagi?” Vivienne mengangguk mantap, matanya berbinar penuh semangat. “Iya, Jer. Aku kan cuma sekali ini ada di Swiss sama kamu. Lagian, katanya kebun buah di daerah Valais itu luar biasa indah, pohon apel, ceri, anggur… semuanya tumbuh subur di sana. Aku pengin lihat langsung.” Jeremi menghela napas, tapi kemudian tertawa kecil. “Kamu ini… setiap kali aku pikir perjalanan kita selesai, selalu ada alasan baru. Tapi ya sudah, kalau itu bikin kamu bahagia, kita tunda pulang. Aku urus tiketnya lagi nanti.” Vivienne tersenyum lebar dan langsung meraih tangan Jeremi. “Makasih, Jer. Kamu baik banget.” “Bukan baik

