Jeremi menunggu di halaman rumah besar keluarga William. Mobil hitamnya sudah diparkir rapi di depan, namun ia tidak turun. Tangannya terus menggenggam setir, jantungnya berdegup kencang. Hari ini ia sudah menyiapkan sesuatu yang besar. Ia ingin mengajak Vivienne menemaninya dalam perjalanan bisnis ke luar negeri. Kebetulan Vivienne sedang libur semester kuliah, jadi waktunya sangat pas. Pintu depan rumah terbuka, dan dari dalam muncul sosok Vincent William. Wibawa seorang ayah yang sekaligus pengusaha besar benar-benar membuat Jeremi merasa tegang. “Jeremi? Kenapa diam di mobil? Masuklah, jangan sungkan,” suara Vincent terdengar berat namun ramah. Jeremi segera turun, merapikan jasnya, lalu berjalan cepat menghampiri. “Selamat siang, Om Vincent. Maaf saya malah nunggu di luar. Tadinya

