Valiant menatap layar ponselnya, mendengar Vivienne dengan suara gemetar bercerita tentang Diana yang mencoba menyakiti dirinya. d**a Valiant terasa panas, darahnya mendidih. Ia menatap Jeremi yang sedang menenangkan Vivienne, dan dadanya bergetar campur cemas dan marah. “Jeremi… kau harus berhati-hati! Itu Diana tidak main-main,” tegas Valiant, suaranya dalam tapi tegas, matanya menyala dengan kemarahan. Jeremi menatap kakak Vivienne, menenangkan. “Aku tahu, Valiant. Aku sudah memperhatikan gerak-geriknya. Tapi jangan khawatir, aku akan melindungi Vivienne. Selamanya.” Valiant menghela nafas, matanya berkaca-kaca melihat adiknya yang sedang duduk di sofa, wajahnya pucat tapi tetap tersenyum mesra kepada Jeremi. “Vivienne… kau selalu terlalu lembut menghadapi orang jahat. Aku tidak bisa

