Valiant berdiri di ambang pintu kamar Rosalinda dengan wajah lelah. Cahaya lampu kamar yang redup membuat sorot matanya terlihat sayu, namun ada ketegasan yang mencoba ia tunjukkan. Rosalinda masih duduk di tepi ranjang dengan bahu tertunduk, jelas terlihat betapa hatinya diliputi keraguan dan luka. Ketika pintu terbuka dan Valiant melangkah masuk, Rosalinda langsung mendongak, sorot matanya penuh kekecewaan. “Ros…” suara Valiant serak, berat, seolah butuh keberanian besar hanya untuk mengucapkan nama itu. Ia berjalan mendekat, sementara Rosalinda buru-buru bangkit dan menatapnya dengan tatapan tajam bercampur sakit hati. “Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi, Valiant,” ucap Rosalinda dingin. “Aku sudah cukup menanggung semuanya sendirian di sini. Aku tidak tahu harus percaya lagi ata

