Siang itu cuaca di Jakarta agak mendung. Angin sepoi-sepoi bertiup, membuat suasana terasa santai di teras rumah keluarga William. Vivienne duduk santai di kursi rotan, mengenakan kaos oversized putih dan celana pendek, rambutnya diikat setengah. Ia menggoyangkan kaki sambil memainkan ponselnya. Di depannya, Jeremi duduk dengan laptop terbuka, sibuk membalas email kerjaan. “Jem…” panggil Vivienne pelan, nada suaranya jelas menggoda. Jeremi langsung mengangkat kepala. “Hm? Kenapa, sayang?” Vivienne menatapnya sambil tersenyum tipis. “Aku mau rujak.” Jeremi mengernyit. “Rujak? Sekarang?” “Iya, sekarang. Yang pedes banget. Bumbunya harus banyak cabenya. Pokoknya sampai bikin lidah kepanasan,” ucap Vivienne sambil menunjuk bibirnya sendiri, seolah-olah membayangkan sensasi pedas itu. Jer

