Vivienne melangkah melewati koridor kampus dengan langkah cepat, menunduk seolah tidak ingin bertemu mata dengan siapa pun. Pandangan yang dilemparkan mahasiswa lain padanya terasa seperti belati yang menusuk kulitnya satu per satu. Bisikan-bisikan pelan yang menyusul di belakangnya membuat dadanya terasa sesak. Semua orang tahu. Semua orang membicarakannya. Seolah-olah dia bukan lagi Vivienne William, putri dari pengusaha kaya yang mandiri dan pintar, tetapi hanya seorang gadis yang baru saja diculik oleh senior kampusnya sendiri. Dia menarik napas dalam-dalam dan mempercepat langkahnya menuju kelas. Sesampainya di dalam, suasana tak lebih baik. Beberapa teman sekelasnya berhenti berbicara saat dia masuk. Beberapa lainnya berpura-pura sibuk dengan buku atau layar ponsel, tetapi tatapan m

