Hari-hari berlalu dengan pelan, tapi menyakitkan bagi Nancy. Dulu, sebelum semua ini, Nancy masih bisa tidur dengan nyaman di pelukan Vincent. Bangun pagi dengan kecupan di kening dan suara lembut suaminya membangunkan anak-anak. Dulu, sebelum semua ini, Vincent selalu pulang sebelum jam makan malam, memeluk anak-anak, lalu membantu Nancy menyuapi mereka. Kadang Vincent bahkan menggendong Vivienne sambil mencicipi masakan Nancy di dapur, memuji setiap rasa meski Nancy tahu dia hanya bicara karena cinta. Tapi kini, semuanya berubah. Hari itu saja, sudah tiga malam berturut-turut Vincent tak pulang ke rumah. Alasan klasiknya: kerja lembur, meeting mendadak, rapat dengan direksi pusat. Tapi Nancy tak lagi naif. Setiap nama Maria muncul dalam pikiran, jantung Nancy seolah diremas. Ia tahu.

