Bab 200

2118 Kata

Dapur rumah itu sore hari berbau harum sayuran segar. Tirai tipis berwarna putih bergerak pelan ditiup angin dari jendela, cahaya matahari masuk menimpa meja kayu panjang di tengah ruangan. Nancy berdiri di depan kompor dengan apron putih, rambutnya diikat rapi ke belakang. Di sampingnya, menantunya berdiri agak canggung sambil menggenggam pisau, sementara Jeremi duduk di kursi dengan tangan menopang dagu, memperhatikan mereka penuh semangat. Nancy menoleh dengan senyum lembut. "Kita mulai dari hal sederhana dulu, ya. Kamu pernah potong bawang sebelumnya?" Menantunya menelan ludah, wajahnya agak gugup. "Pernah… tapi hasilnya berantakan, Mama." Jeremi langsung menyahut sambil tertawa kecil. "Berantakan? Wah, aku nggak sabar lihat hasilnya kali ini. Jangan sampai mata kita semua pedih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN