6

769 Kata
"Permisi Pak, Bapak memanggil kami?" tanya Vanya seraya memasuki ruangan itu diikuti dengan Regan yang berjalan dibelakangnya. "Iya, kemarilah, bergabung dengan teman-temanmu juga," balas kepala sekolah itu seraya menunjuk ke arah anak tim basket putra yang sudah berkumpul di hadapan kepala sekolah itu. Dengan perlahan, Vanya dan Regan mulai berjalan menghadap kepala sekolah itu. Detak jantung Vanya semakin berdetak tidak beraturan, dengan susah payah Vanya mencoba menelan salivanya. Jujur suasana mencekam seperti inilah yang Vanya tidak sukai. Vanya dan Regan mulai bergabung dengan anggota tim basket pria SMA Garuda yang tengah berbaris rapi di hadapan kepala sekolah itu. Suasana disana sangat hening, Vanya dan Regan saling beradu pandang satu sama lain seolah sedang bertanya apa yang sedang terjadi. "Kalian tau kenapa saya memanggil kalian ke ruangan saya?" tanya kepala sekolah yang berambut tipis dengan nada yang mengerikan. Dengan kompak, mereka pun menggeleng. "Tidak tau Pak." Kepala sekolah itu menatap sinis ke arah semua siswa yang berkumpul di hadapannya ini. Kepala sekolah yang bernama Wisnu ini pun terlihat sangat kecewa dengan anak didiknya yang sedang berdiri di hadapannya. "Apa yang kalian lakukan kemarin sore?" tanya Wisnu dengan tatapan penuh selidik. Semua bungkam, tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Wisnu. Semua anggota tim basket putra serta Regan pun sontak menundukkan kepala mereka. Hanya Vanyalah yang tetap berdiri tegap dan menatap lurus kepada Wisnu. "Kenapa diam?" tanya Wisnu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Vanya?" panggil Wisnu dengan tersenyum sinis kepada Vanya. Dengan wajah santainya Vanya berkata. "Ada apa Pak?" "Apa yang kamu lakukan kemarin sore sepulang sekolah?" tanya Wisnu. "Tidak melakukan apapun, hanya bersenang-senang bersama teman-teman saya," balas Vanya dengan nada tenang dan tidak ada rasa khawatir sedikitpun di wajahnya. "Bohong!" sentak Wisnu dengan nada suara yang sudah meninggi. Vanya dan siswa lainnya pun tersentak kaget, saat Wisnu tiba-tiba membentak Vanya. Helaan nafas berat Vanya pun berhembus. "Iya, Bapak benar. Saya memang berbohong," balas Vanya sembari menatap lurus Wisnu. "Jelaskan kegiatan apa yang telah kalian lakukan kemarin sore!" titah Wisnu dengan emosi yang sudah cukup memuncak. Semuanya terdiam, tidak ada yang berani menjawabnya. Lagi-lagi Vanya menghela nafasnya dan memutar bola matanya jengah, Vanya berpikir jika Regan dan anggota tim basketnya sangatlah cupu karena mereka tidak berani menjelaskan apapun kepada Wisnu. "Dasar cupu! Kalau gini aja mereka diam," batin Vanya sambil melirik sinis ke arah Regan dan anggota timnya. "Vanya! Tolong jelaskan apa yang kamu dan mereka lakukan kemarin sore!" ucap Wisnu sambil menunjuk ke arah Regan dan anggota timnya. "Kami memberikan sedikit pelajaran untuk Gavin," balas Vanya dengan nada santai. "Jadi? Apa yang terekam di video ini benar-benar nyata?" tanya Wisnu sambil menyodorkan handphone miliknya yang sedang memutarkan sebuah video yang berisi kegiatan Vanya, Regan dan anggota timnya saat sedang memberikan pelajaran kepada Gavin di gudang tua itu. Seketika tangan Vanya mengepal keras, rahang Vanya pun turut mengeras tatapan mata Vanya berubah menjadi penuh amarah dan tidak setenang tadi. Vanya sama sekali tidak takut dengan hukuman apa yang akan diberikan kepala sekolahnya ini kepada dirinya, Vanya hanya kesal dan marah kepada seseorang yang merekam video itu. Vanya sangat marah saat dia lengah dan tidak mengetahui sama sekali siapa dalang yang sebenarnya dibalik video itu. "Kenapa diam? Jawab saya Vanya!" gertak Wisnu dengan tatapan tajam dan rahang yang sudah mengeras. Sejenak, Vanya menutup matanya lalu berkata. "Benar." Sontak Wisnu menyederkan punggungnya ke kursi yang dia duduki dan memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pening di kepalanya. "Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Wisnu dengan menatap tajam ke arah Vanya. "Saya hanya membalas perbuatan yang dia perbuat kepada anggota tim basket sekolah kita, seharusnya dia pantas mendapatkan hukuman yang lebih berat dari saya karena luka-luka lebam yang dia terima tidak sesakit tusukan yang Arvin rasakan," balas Vanya dengan nada dingin andalan Vanya. "Apa kamu pikir semua masalah hanya bisa diselesaikan dengan cara kekerasan? Kamu pikir kamu itu siapa Vanya! Kamu hanya seorang siswi dari SMA Garuda yang selalu membuat kehebohan dan masalah di sekolah ini," ucap Wisnu dengan menatap penuh amarah ke arah Vanya, serta rahang yang sedikit menggertak. "Hukuman itu pantas untuk dia, saya tidak akan menyakiti seseorang jika dia tidak memulainya terlebih dahulu,";ucap Vanya dengan nada tenang dan mennyedekapkan kedua tangannya di depan d**a. "Tetapi apa kamu tau jika perbuatan b***t dan tidak terpujimu ini membawa dampak untuk nama sekolah kita Vanya!" balas Wisnu. "Saya pikir biarkan saja orang lain beranggapan yang mereka pikir benar tentang sekolah ini, saya tidak perduli jika semua orang membenci saya. Tetapi saya melakukan ini hanya sekedar memberikan hukuman kecil kepada Gavin yang telah berani menusuk Arvin," ucap Vanya dengan nada tenang dan aura yang terasa dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN