Sepeninggalnya asisten rumah tangga itu, kini kaki jenjang Vanya mulai berjalan ke arah pintu utama seraya membawa beberapa paper bag yang berisi belajaannya tadi. Tanpa harus menunggu lama, Vanya pun langsung membuka pintu utama yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi itu. Baru beberapa langkah Vanya memasuki rumahnya, kini suara bariton pria yang paling Vanya benci mulai terdengar memenuhi ruangan. "Dari mana saja kamu?" tanya Alex seraya menatap tajam ke arah Vanya yang masih berdiri di ambang pintu. Tatapan mata Vanya kembali menjadi dingin. "Mall." "Sampai selarut ini?" tanya Alex seraya menautkan kedua alisnya. Vanya hanya berdehem menanggapi Alex, bisa di katakan Vanya sedikit tidak sopan terhadap Alex, hal itulah yang membuat Alex semakin naik pitam. "Apa saya pernah mengaja

