4

1039 Kata
Plaak!! Tari langsung berpaling saat sebuah tangan mendarat keras di pipi kirinya. Ia sentuh pipi yang terasa panas itu perlahan. Sementara air mata yang sejak tadi berderai membasahi wajahnya, terus ia biarkan seperti itu. Masa bodoh. Tak akan ada seorang pun yang melihatnya serapuh ini selain sang mama yang kini menatapnya penuh kebencian. "Jangan jadi gadis bodoh! Kenapa kamu membuang kesempatan emas ini?! Di mana otakmu?!" tanya sang mama sambil menatapnya penuh kemarahan. Tari tersengal. "Dia menghamili gadis lain, Ma! Bagaimana mungkin aku tetap menikah dengannya?" tanya Tari balik. Ditatapnya perempuan di hadapannya dengan air mata kian membanjir. Tari sangat tahu, mamanya begitu mengharapkan pernikahannya dan Evan berjalan lancar. Lelaki itu sudah kaya, tampan, juga tak sungkan memberi. Tak jarang Evan mentransfer sejumlah uang untuk keperluan mamanya. Tak jarang pula Evan membelikannya dan sang mama baju-baju bagus dan mahal. Bahkan ayahnya, pernah dibelikan mobil. Tetapi, apa artinya semua itu jika Evan ternyata selingkuh di belakangnya? Sebagai sahabat dekat sejak kecil, ia tahu semua tentang Evan. Evan memang bukan lelaki baik-baik. Sejak SMA sering dilihatnya Evan berganti-ganti pacar. Kebiasaan jeleknya itu terus berlanjut hingga masuk perguruan tinggi. Bahkan Evan dengan terang-terangan mengatakan padanya bahwa ia selalu meniduri pacar-pacarnya. Namun, itu dua tahun lalu sebelum Evan tiba-tiba mengatakan cinta padanya. Sebelum cowok tengil itu berkali-kali menggaungkan janji akan berubah. Tentu saja, ia tak percaya begitu saja walau pada akhirnya luluh. Akhirnya tanpa cinta, juga karena terus didorong oleh sang mama, ia mau menerima cinta Evan asalkan lelaki itu mau berubah. Namun faktanya .... Tari sesenggukan. Ia tak menyangka Evan selama ini membohonginya. Buktinya, lelaki yang mulai dicintainya itu menghamili gadis lain. "Dasar gadis bodoh!" Tari langsung memandang sang mama. Kekecewaan terlihat jelas di wajah gadis itu. Apa sang mama tak tahu bahwa hati dan perasaannya saat ini sedang sangat terluka? "Dasar bodoh!" "Ma ...." "Apa kamu tak berpikir bahwa mungkin saja w************n itu telah merencanakan semuanya?" "Kalaupun iya, memangnya kita bisa apa, Ma? Dia hamil. Anggap saja, ini hukuman untuk kita karena selama ini, mau diakui maupun nggak, kita secara nggak langsung telah memanfaatkan Evan. Kita memeloroti hartanya, Ma." Plak!! "Pukul saja terus, Ma. Biar mama puas!" kata Tari, memandang sang mama dengan wajah sedih. Perempuan berambut ikal di hadapannya terisak. Tangannya segera merengkuh Tari lalu membelai sayang kepalanya yang tertutupi jilbab manik-manik warna putih. "Maafkan mama, Nak. Mamamu ini terbawa emosi. Kamu seperti melepas emas dalam genggaman, Nak. Evan baik pada mama, sangat menyayangimu, pula. Tak mungkin dia sampai menghamili gadis sialan itu. Pasti, hanya akal-akalan gadis busuk itu agar bisa memiliki Evan." Tari tak menanggapi. Ia hanya terisak keras. Dadanya terasa sesak bergemuruh. Apa benar yang dikatakan mama kalau sebenarnya semua hanya akal-akalan gadis cantik itu? Tetapi, mana mungkin? Tari tahu Evan cukup kaya, sulung dari dua bersaudara. Namun ia masih tak percaya kalau semua hanya rekayasa gadis itu saja. Mana mungkin ada seorang gadis yang mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang dengan mengaku hamil hanya demi harta? Pasti, hanya gadis bodoh yang mau melakukannya. Tetapi jaman sekarang, apa sih yang tidak mungkin? Mempermalukan diri demi uang, hal itu bisa saja terjadi. Karena semua orang menyukai uang. Termasuk mama. Juga dirinya. Tari tak mengelak. Sang mama memandang Tari, wajahnya tampak begitu menyayangkan pada perkara yang baru saja terjadi. "Seandainya gadis itu memang benar hamil, tak seharusnya kamu melepaskan aset begitu saja, Nak." Ucapan mama membuyarkan lamunannya. Tari menatap mamanya dengan air mata yang lagi-lagi menyeruak keluar. Tidak menyangka perempuan yang telah melahirkannya 25 tahun lalu akan begitu tega. Ini bukan lagi masalah uang, tapi hati dan harga dirinya. Tari menggigit bibir, tangannya bergerak menyusut air mata yang kian menderas. Apakah selamanya ia akan terus dimanfaatkan oleh mamanya sendiri? Tari menggeleng, merasakan pedih dalam hati. Ia rela meninggalkan sang pacar yang hidup pas-pasan demi memenuhi ambisi mama yang ingin hidup bergelimang harta. Ia berusaha melupakan Rendi dan menerima cinta Evan sepenuhnya. Tapi, ketika ia mulai merasa sayang pada Evan, malah begini yang ia dapat. "Aku lelah, aku mau tidur, Ma." Tari berdiri, membalikkan badan, lalu setengah berlari masuk ke kamarnya, menutup cepat lalu bersandar di pintu. Kedua tangan Tari bergerak cepat menutup wajah. Ia terus begitu sampai bahunya berguncang ringan oleh sengalan-sengalan yang mulai keluar dari mulut. Pernikahannya yang batal membuat hati dan perasaannya amat pedih. Fakta bahwa sang mama tak berpihak padanya, lebih membuat terpukul lagi. "Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa harus terjadi padaku?" Tari menjatuhkan tangan dari wajah saat mendengar dering HP. Ia mengusap kristal bening di wajahnya yang pucat lalu mendekati ranjang, di mana benda pipih berwarna merah itu terus menyandungkan lagu kesukaannya dan Evan. Tari kembali menyeka wajah saat melihat panggilan vidio dari perempuan tua yang ingin sekali menjadikannya cucu. "Halo," ucapnya dengan ekspresi setegar mungkin seolah tak terjadi apa-apa. Berbeda dengannya, perempuan berjilbab mini dengan pakaian mewah di layar HP, tengah menatapnya dengan wajah sedih. "Maafkan nenek, karena gagal mendidik Evan dengan baik." "Ngak, Nek. Nenek nggak salah." Karena Tari tahu, Evan memang sulit diatur. Ia menjadi saksi lelaki itu beberapa kali diusir oleh neneknya. Terkadang numpang tidur di rumahnya, kadang pula memilih tidur di hotel. "Dia telah menyakitimu. Anak itu benar-benar keterlaluan." Ucapan nenek langsung membuyarkan lamunan Tari. Gadis manis bermata bulat seperti kucing itu tak kuasa lagi membendung kesedihan. Tangisnya meledak lagi. Bahunya semakin berguncang keras diselingi sengalan-sengalan yang membuat dadanya terasa kian sesak. Kepedulian nenek sungguh membuatnya terharu. Di layar HP-nya, terlihat sang nenek sedang mengusap air mata. "Walau kalian tak jadi menikah, kamu tetap cucuku, Ri. Meski kamu tak menikah dengan si nakal itu, aku tetap menyayangimu sebagai cucu. Apa boleh, Ri?" Tari mengusap air mata sambil mengangguk. Tentu saja boleh. Apalagi, nenek begitu baik padanya. Tari mencoba menyungging senyum termanis untuk nenek karena nenek tak pernah senang melihatnya murung. Tari terus mencoba tersenyum, tak peduli hatinya sakit bukan kepalang. "Dini! Antarkan aku ke rumah anak nakal itu!" seru nenek. Tari melihat di layar HP-nya, seorang gadis berwajah baby face yang sangat dikenalnya berjalan ke arah nenek. Sambungan tiba-tiba diputus. Tari mengembuskan napas. Lagi-lagi terisak. Kenapa batal nikah rasanya sangat menyakitkan? Tatapan Tari tertuju ke arah gunting di atas meja. Mungkin, gunting itu akan segera melupakannya dari rasa sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN