1

1023 Kata
"Saya terima nikah dan ka--" "Ka-mu! Bagaimana bisa kamu ingin menikahi gadis lain sementara aku sedang hamil anakmu?! Di mana otakmu?!" seru Ivy, mata sipitnya menatap galak ke wajah Evan yang tersentak kaget. Orang-orang langsung memperhatikannya. Ivy menarik napas dalam. Diusapnya keringat dingin di wajah. Dadanya berdebar keras. Dalam hati ia bertanya, apa wajahku sudah terlihat sangat marah? Sang calon mempelai wanita, Lestari, refleks mengangkat wajah. Mata bulat beningnya menatap Ivy dengan pandangan tak percaya. Di sampingnya, perempuan paruh baya berwajah mirip, terlihat terkejut. Keningnya mengerut, mata tuanya menatap calon menantu dan Ivy bergantian. Urungkan, tidak. Urungkan, tidak. Batin Ivy berkecamuk. Sungguh, sebenarnya dari hati nurani yang paling dalam, ia tak tega pada si calon mempelai wanita. Pasti, sakit hatinya. Buktinya, wajah dewasa itu kini terlihat seperti akan menangis. Ivy langsung mengalihkan pandang saat tatapannya berbenturan dengan gadis itu. Lalu, Ivy menggeleng mencoba menepis keraguan hatinya. Sambil memasang wajah marah, Ivy bergerak mendekat, lalu menggeretakkan gigi. Tatapan gadis tinggi ramping berambut pirang sepinggang itu terus terpaku ke wajah Evan yang terlihat bingung. Sangat wajar, jika lelaki itu kebingungan. Evan sama sekali tak mengenalnya. Lebih tepatnya, ia dan lelaki itu tak saling mengenal. Orang-orang di belakang pasangan yang hendak melangsungkan ijab kabul itu, kini mulai berbisik-bisik. Tari yang tampak cantik dengan kebaya yang melekat pas di tubuh moleknya menoleh, menatap calon suaminya dengan wajah curiga. Matanya dipenuhi kaca-kaca yang siap meluncur kapan saja. Dengan tubuh sedikit gemetar, Ivy menyaruk kaki mendekati pasangan itu. Jantungnya bertalu kencang saat ia berkata dengan wajah sinis. "Apa kamu lupa yang telah kita lakukan di hotel malam itu? Aku sekarang hamil. Hamil anakmu!" hardiknya. "Aku ... tak mengenalnya, sungguh," ucap Evan saat lelaki paruh baya yang duduk terhalang meja kecil di depannya, menepis tangannya. Lelaki itu, mirip sekali dengan Tari. "Kamu siapa? Aku tak mengenalmu," tanya Evan lirih. Ia memandang Ivy dengan wajah bingung. Ivy menarik napas dalam, berusaha tak terlihat gugup meski dadanya kian bergemuruh. Jelas, lelaki itu merasa asing padanya. Akan tetapi, ia tidak karena sering melihat foto Evan di dompet sang sahabat. Ia tak pernah lupa saat dua tahun lalu, Liana terisak di pelukannya, begitu meratapi hubungannya bersama sang kekasih yang harus kandas di tengah jalan. Saking sedihnya, Liana sampai tak berselera makan, membuat tubuh indahnya menjadi kurus kering. Hampir 5 bulan sahabatnya itu terpuruk dalam kepedihan. Mungkin adalah kebetulan, saat secara tak sengaja ketika ia hendak ke taman, di depan halaman rumah ia melihat foto besar yang begitu familier. Ternyata, Evan. Ia memang tak mengenalnya, tapi ia sering melihat fotonya. Tak jarang, Liana mengirimkan fotonya bersama Evan saat Ivy sedang kuliah di luar negeri. Sekarang, saatnya membalaskan sakit hati Liana. Malang benar nasib gadis itu karena Evan tiba-tiba memutuskannya, dengan gampang berkata hatinya telah berpindah pada gadis lain. Mungkin, Liana akan senang saat mendengar apa yang ia lakukan sekarang. Membalaskan sakit hatinya. "Jangan pura-pura." Ivy berkata dengan suara bergetar. Sekilas, ia menatap calon mempelai wanita yang terus membisu, wajah itu telah berubah pucat dengan air mata mengalir perlahan di pipi. Sang ibu menggenggam tangannya erat. Ivy menarik napas, ketegangannya membaur dengan rasa gugup karena semua tatapan ingin tahu, kini mendarat di wajahnya. Lalu ke wajah Evan. Tenangkan diri, Ivy. Ini demi Liana yang telah begitu baik padamu. Katanya dalam hati. "Setelah membuatku hamil, apa kamu sungguh ingin kabur? Ingat, kita melakukannya di hotel dan itu berkali-kali. Masa kamu lupa." Suara Ivy nyaris menyerupai bisikan. Ia tahu itu hanyalah fitnah. Besar dosanya. Namun ia terpaksa melakukannya demi Liana. Walaupun sudah lama berlalu, sakit hati ya tetaplah sakit hati. Harus dibalas. "Apa yang dikatakannya benar?" Tari menoleh, menatap tajam calon suaminya. Napasnya terlihat naik turun. Wajahnya sembab. "Bohong. Aku bahkan tak mengenalnya," sahut Evan cepat. Lelaki tinggi berkulit putih itu memberi Ivy pandangan geram. Ia berdiri, tanpa membuang waktu segera mencengkeram pergelangan tangan Ivy sampai gadis itu meringis kesakitan. "Katakan siapa yang menyuruhmu! Aku tak mengenalmu jadi bagaimana mungkin bisa menghamilimu?!" Ia menatap ke arah perut ramping lawan bicaranya sambil tersenyum merendahkan. "Kamu keterlaluan! Kita sampai di sini saja!" Tari berdiri dari duduknya, lantas berlari sambil mengusap air mata. Orang-orang langsung heboh. Sang ibu cepat mengejar sambil berseru memanggil. "Tunggu, sayang! Tungguu!" Ivy menarik napas dalam. Sepertinya, sudah cukup. Lelaki ini pasti sudah merasa sangat malu. Ia menatap keluar, merasa bersalah pada Tari. Sungguh, tak ada maksud menyakiti gadis itu. "Dasar gadis gila!" Ivy tersentak, memandang ngeri pada wajah Evan yang menatapnya sinis. Tangan lelaki itu terkepal. Sebagian para undangan terdiam menyaksikan. Tampak begitu ingin tahu. Sebaiknya lekas pergi, kata Ivy dalam hati. Ia mundur selangkah lalu berkata, "Tak apa jika kamu tak mau menikahiku. Kamu hanya perlu ... bertanggungjawab. Berikan aku uang setiap bulan, dan berikan kehidupan yang layak pada anak kita kelak." Hanya alasan. Ia tak butuh uang karena telah memiliki harta yang melimpah. Ia hanya ingin melihat Evan merasakan sakit seperti yang dirasakan Liana dulu. Hanya itu. "Jika kamu memang lebih mencintainya, aku rela. Selamat tinggal." Ia membalikkan badan dan bergegas keluar dengan jantung bertabuh kencang. Ia berharap, lelaki itu tak menuntut karena telah mempermalukannya. Ivy tersenyum riang saat mencapai ambang pintu. Ketegangan yang sejak tadi mengimpit d**a, perlahan mencair. Namun, saat hendak melangkah keluar, sebuah tangan tiba-tiba menyambar keras pergelangan tangannya, lalu dengan sekali sentak memutar tubuhnya sehingga mereka kini bertatapan. Deg. Deg. Deg. Ivy merasa, jantungnya seperti akan meledak. "Walau aku sangat membencimu karena ucapanmu yang ngawur, tapi bertanggung jawablah, Jalang!" Apa ia akan membawaku ke kantor polisi? Pikir Ivy dalam hati. Ia menggeleng lalu memberontak mencoba melepaskan diri. "Ayo menikah." Mata gadis berkulit putih itu membelalak lebar. Menikah? Ivy menatap sekeliling, semua orang sedang menatapnya. Bagaimana mungkin menikah dengan lelaki asing? Ivy kembali memberontak. Namun, karena cengkeraman Evan begitu kuat, akhirnya ia memilih memegangi kepala, mengernyit seolah sedang menahan sakit, kemudian melemaskan tubuh. Pura-pura pingsan. Seketika, terdengar teriakan. "Rias dia. Saat dia bangun nanti, kami akan menikah!" Suara lelaki yang baru ia permalukan, terdengar lantang memenuhi ruangan. Jantung Ivy berdetak kencang saat sepasang tangan meraih tubuhnya. Ivy perlahan membuka mata dan langsung menutupnya kembali saat melihat wajah Evan begitu dekat dengannya, tatapan lelaki yang sedang menggendongnya ini lurus ke depan. Menikah? Bagaimana ini? Tidak. Ia tak sudi menikah dengan lelaki asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN