Terpaksa Nikah - 5

1138 Kata
Hari Jum'at waktunya Hana ekskul. Hana berada di tengah lapangan sekolah bersama teman-teman satu ekskulnya. Mereka berlatih basket, dengan Rio sebagai pembimbingnya. Mereka berlatih mendribel, mengoper dan melemparkan bola ke dalam ring. "Latihan untuk hari ini selesai! " Teriak Rio. Semua peserta ekskul basket berjalan ke pinggir lapangan begitu juga Hana. Hana duduk di pinggir lapangan, ia meluruskan kakinya. Lalu mengusap peluh dengan handuk kecil yang diambil dari dalam tasnya. "Haus?" Rio yang tiba-tiba berada di depan Hana menawarkan sebotol air mineral. "Punya gue lebih seger, nih!" Revan yang berdiri di samping Rio menyodorkan sekaleng minuman isotonik. Hana melihat keduanya bergantian. "Gue bawa minum sendiri." Hana mengambil sebotol infused water yang dibawanya dari rumah. Lalu meminumnya. "Good. That’s my girl." gumam Revan. Rio menatap Revan. Rio duduk di samping kiri Hana dan Revan duduk di samping kanan. "Gerakan kamu udah bagus banget, sering main basket?" Tanya Rio. Revan mengamati sambil menenggak minuman isotonik yang sebelumnya ditawarkan pada Hana. "Waktu SMP ikut ekskul basket juga." "Pantesan." Rio mengangguk. "Baru liat lo cewek gue jago main basket?" Kata Revan sinis. "Hana bukan cewek lo!" sanggah Rio. "She will." Kata Revan penuh keyakinan. "No. Gue nggak akan biarin itu terjadi!" Rio dan Revan mulai saling menatap penuh benci. Revan mengepalkan tangannya dan Rio menantangnya dengan matanya. "Hah...kalian berantem gih, gue mau pulang." Ucapan Hana menyadarkan mereka berdua. "Hana gue anter pulang ya?" tawar Revan. "Sama gue aja, gue bawa mobil ntar lo masuk angin kalo pake motor." Kata Rio. "Lo bisa lebih cepet sampe rumah kalo pake motor." "Lo bisa sambil istirahat di mobil gue." Hana tidak mempedulikan keduanya yang terus saja bicara sambil mengiringi Hana berjalan. "Hana pulang sama gue!" tegas Revan. "Gue yang anter Hana pulang!" Mereka terus saja berdebat sampai tidak menyadari Hana sudah tiba di depan sebuah mobil lalu masuk ke bagian penumpang. Revan dan Rio hanya bisa melihat. ●○●○● Hana menyiapkan dirinya. 100 lembar questioner, alat tulis, handphone sudah ia masukkan ke dalam ransel miliknya. Ia sudah siap dengan jumpsuit kotak-kotak yang longgar dan kaos sebagai dalamannya. Ia juga memakai sepatu tanpa hak yang lentur dan nyaman digunakan sehingga tidak mudah lelah. "Mau gue anter?" Tanya Hanif "Sama daddy aja." jawab Hana. "Gue juga bisa nyetir." "Tapi lo belum punya SIM." "Taun depan gue udah punya." "Yaudah kalo gitu nganterin guenya taun depan aja." Hana nyengir. "Udah siap Hana?” Ibu menginterupsi. "Udah bu." "Hati-hati ya, kalo ada apa-apa langsung telpon." "Iya, Hana nggak sendiri kok bu kan ada Cecil." ibu mengangguk. "Hana berangkat bu." Hana mencium punggung tangan ibunya. "Assalamualaikum" "Waalaikum salam" Hari sabtu ini Hana mulai mengerjakan tugas yang diberikan guru Ekonominya. Mencari data untuk bahan makalahnya bersama Cecil. Mereka berjanji untuk bertemu di terminal. "Cecil mana?" Tanya daddy begitu mereka sampai di terminal. "Belum dateng kayaknya." "Coba telpon dia." Hana mengeluarkan ponselnya lalu mendial nomer Cecil. Hana melakukan itu sampai 3 kali namun Cecil tidak juga menjawab. "Cecil nggak jawab dad." "Kita pulang! Besok aja cari datanya." Ajak daddy. "Jangan dad, tugas aku harus dikumpulin minggu depan. Ini baru mau cari data, belum ngolah datanya. Kalo diganti lain hari takut nggak kekejar." "Daddy nggak mau ninggalin kamu sendiri di sini." "Bentaran lagi juga Cecil dateng dad, paling kena macet dia." "Daddy nggak bisa nungguin kamu lama-lama. Daddy ada janji juga sama orang." "Daddy pulang aja, Hana nggak pa-pa kok." "Daddy khawatir sama kamu. Pulang aja ya!" "Nggak. Daddy aja yang pulang aku masih mau nunggu Cecil." "Mending kamu pulang aja sama daddy, tinggalin pesan di hpnya Cecil kalo ngerjain tugasnya besok aja." "Kalo Cecil keburu nyampe sini gimana? Kasian dia dad." "Itu sih resiko dia karena telat."  Tiba-tiba handphone daddy berdering dan daddy bicara sangat serius dengan orang yang menelponnya. "Daddy harus pergi Hana, orang yang janjian sama daddy udah nunggu." "Kalo gitu daddy pergi aja, aku nunggu Cecil. Kalo Cecil nggak dateng aku buru-buru pulang." "Beneran ya. Hubungi daddy dateng atau nggaknya Cecil." "Ok dad. Pasti." Hana berdiri di halte terminal menunggu Cacil sementara ayahnya sudah pergi. Hana berusaha menghubungi Cecil namun lagi-lagi tidak dijawab. Sudah satu jam ia menunggu. Tiba-tiba handphone nya berdering. "Cecil, lo dimana?" "...." "Nyokap lo masuk rumah sakit?" "..." "Yaudah nggak pa-pa" "..." "Gue di terminal" "..." "Nggak pa-pa, nanti gue survey sendiri aja" "..." "Kita nggak punya banyak waktu" "..." "Lo tenang aja gue bisa sendiri kok. Nanti kita olah datanya sama-sama." "..." "Salam buat nyokap lo." Hana mendesah, sebenarnya ia ingin pulang tapi ia sudah menunggu 1 jam di terminal. Akhirnya ia memutuskan melakukan survey seorang diri. Hana memulai surveynya. Memberi questioner pada orang-orang yang ditemuinya di sekitar terminal. Sampai 2 jam sudah berlalu, questioner yang sudah diisi baru mencapai belasan. Banyak penumpang yang menolak untuk disurvey. Hana beristirahat di sebuah warung. Membeli sebotol minimun dingin dan satu buah bengbeng untuk mengganjal perut karena sudah tiba waktu makan siang. Lalu ia menghabiskannya dalam sekejap. Ia merasa benar-benar lelah. Handphone nya berdering. "..." "Waalaikum salam bu" "..." "Masih di terminal bu" "..." "Lagi survey" "..." "Ng..nggak sendirian kok." Hana berbohong. "..." "Iya bu." "..." "Waalaikum salam." Terbersit rasa bersalah di hatinya karena telah membohongi ibunya. Ia hanya tidak ingin ibunya khawatir dan tugasnya cepat selesai. Hana beristirahat sejenak di mushalla terminal setelah melakukan shalat dzuhur. Kemudian Hana memutuskan untuk menaiki sebuah angkot, untuk mensurvey penumpangnya sekaligus merasakan pengalaman menaiki transportasi umum. Hana tidak tahu ke mana arah angkot bergerak. Ternyata melakukan survey di dalam angkot lebih efektif, ia mendapat banyak responden. Selesai berfoto dan mendapatkan data ia turun lalu menaiki angkot lain dengan nomer sama tetapi arahnya berlawanan. Dengan begitu ia berharap tidak akan terlalu jauh dari terminal. Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore dan langit mulai hujan. Hana berniat menyudahi surveynya. Di dalam angkot hanya ia dan satu orang laki-laki muda serta sang supir. Hana mulai curiga saat tiba-tiba angkot yang dinaikinya berbelok ke arah lain bukan ke arah terminal. "Loh pak supir kok lewat sini?" "Lewat jalan pintas neng, biar cepet sampe terminal" Awalnya Hana percaya namun melihat arah angkot melewati tempat sepi Hana makin curiga. "Kiri pak! Saya turun di sini aja pak" Hana mengetuk jendela angkot. Namun angkot tidak juga berhenti. "Mana dompet lo? Siniin!" Lelaki yang duduk di depan Hana menodongkan sebuah pisau. "Pak supir tolong pak" mendengar teriakan Hana sang supir hanya melihat sekilas lalu kembali fokus menyetir. "Dompet sama hape lo, mana!" Lelaki itu membentak Hana. Hana memegang erat-erat ranselnya. Hana melihat ke arah pintu. "Cepet! Atau lo mau ngerasain piso gue?" "Iya bang iya." Hana memegang resleting ranselnya. Bukk! Hana menendang tangan lelaki itu. Pisaunya terjatuh. "Sialan lo!" Lelaki itu menarik jilbab Hana sampai kepala Hana tertarik ke depan. Hana menggigit kuat kuat tangan lelaki itu. "Auw!" Lelaki itu meringis kesakitan. Hana melompat dari angkot yang sedang berjalan, tubuhnya terguling di aspal. Hujan lebat menerpa tubuhnya. Tbc ●○●○●
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN