3.Pak

947 Kata
Tia keluar dari kamar kecil kampus dengan wajah tertunduk menatap layar ponsel. Berjalan disepanjang koridor, saat tiba di tikungan, tiba-tiba Tia mendongak. Dia melihat Juna masuk ke perpustakaan. Segera menghidupkan kamera diponselnya. Dia mulai memfoto sang dosen secara candid. “Gila sih, gua merasa ada radar yang bunyi setiap ada pak dosen di deket gua.” Monolognya sambil cekikikan. “Ke kelas dulu deh”  Tia berlari menuju kelasnya, sampai di depan pintu, dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Menemukan objek yang dicarinya Tia segera menghampiri Lola. “La, ayo anter gua ke perpus, cepet” ucapnya. “Ngapain lo ke perpus? Kesurupan setan di mana lo mau ke perpus?” Tanya Lola. Tia yang jarang buka buku tapi mau ke perpus? Mau ngapain? Nonton drakor? Di rumah aja lah jangan di perpus. Menuh-menuhin tempat doang. “Kesurupan bidadari surga sih kayaknya.” Jawab Tia nyengir. “Gaya lo bidadari surga. Lo itu cocoknya jadi badut ancol noh!” “Udah lah, sesenengnya elu aja, yang penting ayo anter ke perpus!” “Mau ngapain sih, Ya'? Lo mau cari judul buat skripsi? Masih lama elah!”  “Ya kagak lah! Gua tadi liat pak Dosen masuk perpus, gua mau liat mata air di tengah gurun pasir”  Lola mengernyit. “Hubungannya dosen sama mata air apaan?” tanyanya. Tia berdecak. “Ya, menyejukkan, gua mau liat yang menyejukkan, pemberi harapan” “Apaan sih, Ya'. Gak jelas banget!” dengus Lola, Susah banget emang kalo ngomongnya sama titisan plangton. Batinya.  Tia memutar bola matanya malas. “Gua mau liat pak Juna! Dia tadi masuk perpus, gua mau mensyukuri dan menikmati keindahan karya Tuhan.” Jelasnya. Lala memutar bola matanya. “Dimana-mana itu orang keperpus mau baca buku, mau belajar, mau cari referensi, mau ngerjain tugas. La elo mau menikmati karya indah Tuhan? Sono pergi ke Flores.” “Udah ayo cepet anterin” Tia memaksa menarik tangan Lola agar berdiri. “Iya-iya sabar ngapa sih” begitulah Lola, meski jarang akur, sering adu urat, gak ada yang mau mengalah ataupun dikalahkan, tapi mereka tetap akan mendukung apa pun yang menurut sahabatnya bisa bikin bahagia.  Mereka memasuki perpustakaan, Tia celingukan mencari tempat duduk yang pas untuknya menikmati pahatan tetindah Tuhan. “Disana” tunjuknya pada bangku yang berada di tengah-tengah.  “Disana gua bisa bebas liatin calon imam sepuasnya.” Ucapnya. Tia dan Lola duduk, disana juga banyak mahasiswa lain. Semua memegang buku juga ponsel. Entah benar-benar serius belajar, atau hanya ingin modus semata?. Tia tak perduli. Dia duduk nyaman dengan pandangan mengarah pada kursi paling pojok deretan belakang, sebelah jendela besar. Juna sedang duduk bersama beberapa mahasiswa yang Tia perkirakan adalah kakak tingkat yang sedang bimbingan. “La, kira-kira lo tau nggak anak kelas kita yang punya nomer hpnya pak Juna?” Tanya Tia, tanpa mau repot mengalihkan pandangan pada orang yang katanya calon imamnya. “Hmm, tau kenapa emang?” Jawab Lola tak perduli. Dia tetap fokus ke arah ponselnya. “Kira-kira siapa?” tanya Tia lagi. “Coba tanya asdosnya, pasti tau.” Tia mendongak menatap Lola menyelidik. “Siapa?” “Katanya calon makmum, masa asdosnya aja gak tau?” Lola mengejek. “Emang kapan pak Juna ngomong tentang asdos?”  “Bukan pak Juna, kemaren bang Galih yang masuk kelas. Dia tanya tentang asdos. Lo tidur sih.” “Gua kira dia mau modus doang” “Emang elo!” ucapnya diikuti tangannya yang memukul kepala Tia. Tia mengaduh. “Tapi siapa asdoanya?” Dia sedikit merengek. “Kartika Putri”  “What!!!” Tia menjerit, sedikit tetkejut, ditambah tekejut lagi karena seisi perpus tengah menjadikannya tontonan dengan tatapan tak suka. “Maap-maap” Ucapnya, sambil mengatupkan tangan. Tak sengaja matanya bertatapan dengan pandangan Juna. Dia tersenyum manis lalu mengedipkan mata menggoda. Dan Juna memalingkan wajahnya. Kembali Tia mendapatkan jitakan dikepalanya. "Berisik banget mulut lo dasar! Malu-maluin banget lo kutil kebo!" “Kok Tika gak bilang sama gua?” Tak memerdulikan omelan sang sahabat. “Faedahnya apa emang?.” Jawab Lola dengan sama bertanya. “Eh, tapi kemana si Tika? Kok gua gak liat dati tadi?” “Kantin.” “Ohhh” Seharusnya Tia tak bertanya, karena mereka benar-benar tau kebiasaan Tika. Makan. Tika itu hobinya makan. Tapi gak tau kenapa badanya masih aja gak bisa gendut. “Kalo gitu nanti gua tanyain sama Tika” Lola berdecak.”bentar lagi juga bakal dapet kok. Semua mahasiswa kan harus punya nomor dosennya" Betul juga. Tapi Tia tak mau menuggu lama. Nanti dia akan meminta nomor Juna pada Tika. Tak lama, semua mahasiswa dan mahasiswi bubar, yang bimbingan, yang benar-benar memiliki keperluan atau yang Cuma mau modus doang. Tersisa Tia, Lola dan Juna yang sedang merapikan keperluannya. Tia menghampiri, lalu mengucap salam. “waalaikumsalam” Juna melirik Tia sejenak. Ini mahasiswi yang teriak-teriak tadi kan? “Pak, jdi imam saya yok” ajaknya. Juna mengernyitkan dahi. Sepertinya itu adalah kebiasaanhya.  “Saya sudah sholat” jawabnya acuh, mahasiswi macam Tia ini harus sedikit di jauhi. Agresifnya mengalahi ayam betina yang telurnya baru menetas. “Ya udah kalo jadi suami saya aja gimana?”  “Hah?!” Juna sedikit syok mahasiswi nya ini makin melantur saja. Sebenarnya banyak mahasiswi yang terang-terangan menyukainya. Namun baru ini dia melihat yang seagresif Tia. Ahh ... dia juga ingat, Tia ini mahasiswi yang kemarin menggombalinya di kelas kan? “Biasa aja dong pak, ekspresinya” Tia mendengus “jadi gini, bunda saya itu nungguin di rumah, katanya saya kalo mau pulang harus bawa mantu buat bunda. Kalo enggak, gak usah pulang sekalian. Bunda saya itu galak banget pak.” Drama! Tia si tukang drama. “Terus kata bunda, mantunya itu harus yang pinter,yang ganteng, yang sholeh, yang mapan, yang potensial buat menyempurnakan keturunan lah pokoknya. Bapak mau ya, jadi mantu bunda saya?” Juna mengernyit. “kamu sehat kan?” tanyannya  “Alhamdulilah pak, sehat lahir batin”  “Sepertinya kamu butuh periksa kejiwaan”  Tia mengehal nafas berat. Ya ampun gila aja dia dikira orang gila. Kembali tersenyum lalu berujar; “gak usah pak, kalo deket terus sama bapak, saya jamin, gak akan ada penyakit yang mau deketin saya. Soalnya mereka minder. Secara, yang deket sama saya orang seganteng pak Arjuna Pamungkas gitu”  Juna mengurut pangkal hidungnya, pusing. Ahh ... sepertinya dia yang butuh ke dokter. “Bercanda kamu itu gak lucu Tia!” ucapnya menahan marah. Untung Tia perempuan, kalo laki-laki mungkin udah Juna ajak baku tonjok dilapangan.  Tia berdecak, tak suka diragukan. “emang siapa yang lagi bercanda sih pak?!" Katanya dengan nada agak tinggi. "Yaudah. Gini aja deh, bapak mau ngehalalin saya, atau saya yang ngehalalin bapak?” Sedang Juna hanya bisa membulatkan mata juga bibirnya. Sepertinya, hari-harinya sebagai dosen akan sedikit lebih berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN