BAB 32

1855 Kata
Menuju kediaman Bu Deden yang berada di pelosok, membuat pikiran Ansel memang sedikit teralihkan. Bahkan dia juga tidak terlihat menyedihkan karena hanya menatap kosong pada jalanan. Saat ini dia bahkan sangat menikmati perjalanannya. Dibukanya kaca jendela mobilnya lalu dihirupnya dengan sangat dalam seolah dia akan kehabisan oksigen. Udara di desa sungguh sangat sejuk, tak ada polusi seperti yang setiap hari dia temui di jalanan ibu kota. Ah, Ansel bahkan ingin berlama-lama di sini. Dia menanyakan ponselnya karena ingin mengabadikan setiap objek indah yang dilihatnya. Banyak sekali warna hijau di sepanjang jalan yang mobil mereka lalui. Sawah menghampar dengan tumbuhan padi yang masih hijau di setiap kiri kanan jalan. Ada parit kecil yang mengalir di sepanjang pinggiran sawah. Sungguh perpaduan yang sangat memanjakan pikirannya. Matanya melihat alam semesta yang masih terjaga, dan telinganya mendengar gemericik air yang mengalir di sepanjang parit itu. Airnya juga sangat jernih membuat dia ingin mandi dan bermain air di sana. Lalu udaranya, udara desa sungguh sangat menyegarkan, Ansel merasa menemukan tempat yang lain selain bahu Naya. Ya, selama mengenal Naya, Ansel merasa bahwa pundak gadis itu membuat dia selalu betah bersandar di sana. Naya yang baginya seperti oksigen untuk dia bernafas kini telah pergi dan mungkin berbahagia dengan Bian, lalu ... Apa Ansel harus diam di desa ini agar dia bisa terus bernafas memanjakan semua yang ada dalam tubuhnya. Huft ... Ansel sungguh sangat terpukul karena Naya, karena gadis itu dia menjadi kehilangan semangatnya lagi. Jalanan yang semula mulus dengan aspal yang masih baru mulai berubah menjadi jalanan yang banyak lubangnya. Itulah jalan masuk ke rumah Bu Deden. Di perempatan jalan itu, Pak Rino menyuruh Manager Ade untuk belok kiri. Mobil terus berjalan meski gerakannya tidak secepat tadi. Ya, jalanan itu sungguh tak layak untuk dilewati. Tapi, bagaimanapun manager Ade harus sampai ke rumah Bu Deden beserta semua penumpang lain di dalam. Jadi dia mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati agar selamat sampai tujuan. “Nah, itu rumah Bu Deden.” Pak Rino menunjuk sebuah rumah dengan halaman yang tak begitu luas. Di depan rumah itu terdapat sepetak tanah kosong yang disulap menjadi kebun kecil dengan aneka sayur dan buah-buahan yang batang pohonnya kecil di sana. Tak jauh dari sana, ada pagar terbuat dari bambu yang dicat dengan warna hijau tapi sudah mengelupas. Manager Ade sungkan untuk membawa mobilnya masuk ke halaman itu. Sehingga, dia memutuskan agar semua yang ada di dalam mobil keluar dan menemui Bu Deden. Ansel tampak enggan. Tapi berada di dalam mobil berlama-lama, sungguh membuat dia sangat bosan. Jadi tak ada alasan untuk dia menolak keputusan pamannya yang meminta semua masuk ke halaman rumah Bu Deden. Semoga Bu Deden ada di dalam. Dengan penuh harap, manager Ade mengetuk pintu rumah yang teramat sederhana itu. Sampai tiga kali ketukan, tak ada sahutan dari dalam. Apa mungkin orangnya keluar, ya? Manager Ade mengetuk pintu lagi, hingga kemudian terdengar suara derap langkah kaki dari dalam. Seorang anak perempuan muncul dari balik pintu sembari menatap satu persatu orang-orang yang datang bertamu ke rumah Bu Deden. “Maaf, cari siapa, ya?” tanya gadis itu lembut. Perempuan yang tak lain adalah Anggun itu mempersilahkan semua yang ada di teras rumahnya untuk masuk. Sebelumnya, dia tidak ingin menerima mereka, tapi melihat ada Pak Rino diantara mereka, tentu mereka bukanlah bagian dari komplotan rentenir yang selalu meneror dirinya dan Bu Deden. “Saya buatkan minuman dulu, ya.” Anggun sangat manis dengan senyumnya. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Ansel tertarik apalagi sampai meliriknya. Berbeda halnya dengan manager Ade, dia tak henti memandangi Anggun. Eits ... Tunggu dulu! Jangan berpikir macam-macam, yes. Manager Ade berpikir bahwa gadis dengan lesung pipi di wajahnya itu adalah putri yang selama ini dicarinya. Tak jauh beda dari manager Ade, Rukmi pun berpikiran hal yang sama. Mereka tak menyadari bahwa Anggun yang sedari tadi dipandang tanpa henti itu menjadi Geer. Dia menganggap bahwa kedua orang tua yang sedang duduk bertamu ke rumahnya, adalah orang tua Ansel. Dan dia berpikir bahwa mereka datang untuk meminang dirinya untuk anaknya. Siapa lagi anaknya? Tentu laki-laki yang menurutnya pura-pura sibuk dengan gadgetnya. Oh, astaga ... Mereka larut dengan pikiran masing-masing. Bahkan manager Ade sampai lupa menanyakan dimana Bu Deden karena terlalu asyik membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan bisa memeluk putrinya. Makanya ada pepatah bilang, Malu bertanya sesat dijalan. Sebenarnya bukan hanya orang malu saja yang sesat di jalan, orang yang terlalu asyik ngayal pun bakal sesat di jalan, hahah buktinya si manager Ade ini. Dia sampai lupa bertanya dan dia bahkan sampai tersesat pula. Tersesat ngira anak orang adalah anaknya, hahah. Sabar ya, Pak Manager. Sebentar lagi Pak manager akan ketemu sama anak Bapak. Tapi bukan si Anggun tea, xixixi. Saat manager Ade teringat bahwa dia belum menanyakan di mana Bu Deden, Anggun si gadis dengan lesung pipi itu sudah tidak ada di hadapannya. Dia menghilang di balik pintu dapur dan dari sana, terdengar suara cangkir yang beradu dengan tutupnya. Tak berapa lama, Anggun datang dengan senampan cangkir yang penuh minuman. Dia melirik pada Ansel tapi laki-laki itu sama sekali tidak menganggap wanita itu ada. Memang hanya Naya yang bisa membuat dia melihat seutuhnya pada gadis itu saat pertama bertemu. Dan kini, gadis itu sudah bukan lagi miliknya. Ansel menjadi tertutup lagi dan kehilangan hampir seluruh dunianya. Ah, separah itu pengaruh Naya bagi artis tampan itu. “Em, maaf ... Bu Deden-nya di mana, ya?” Manager Ade tak mau lagi tersesat, hingga dia langsung mengajukan pertanyaan begitu Anggun selesai membagikan minuman pada masing-masing tamu di sana. “Ibu sudah ....” Anggun tak melanjutkan kalimatnya. Dia justru menangis sekarang, tapi setiap kali air matanya jatuh, dia dengan sekuat tenaga menepis dan menghapusnya dengan segera. Entah apa yang terjadi, tapi melihat Anggun seperti itu. Pasti sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Bu Deden, itulah pemikiran semua yang hadir di sana, kecuali Ansel pastinya. Laki-laki itu bahkan sekarang sibuk mencari situs web khusus tempat belajar piano yang bagus dan menjebolkan banyak pianis hebat. Dan Ansel, terus mengotak atik handphonenya, dia tak akan berhenti sampai dia menemukan apa yang dicarinya. Ya, Ansel ingin mendaftarkan Naya di sekolah musik itu. Dia akan membiayai sekolah Naya sesuai yang menjadi impian gadis itu. Rupanya akal sehat Ansel kembali seiring dengan banyaknya udara segar yang dia hidup sejak masuk ke perkampungan Bu Deden. Menurutnya, jika dia harus dan akan fokus dengan mimpinya, maka Naya pun begitu, Naya juga harus sibuk dan fokus mengejar mimpinya. Tak boleh ada waktu bagi gadis itu untuk berdekatan apalagi sampai menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Yaps ... Ide yang sangat menguntungkan bagi Naya tapi sebenarnya juga akan menguntungkan bagi Ansel nantinya. Good luck, Ansel. Author doakan takdirmu bersamanya, eyaaakkk. Belum ada yang berani mengajukan pertanyaan lagi pada Anggun, karena gadis itu masih terisak dan tangisnya belum juga berhenti. Semua diam, kecuali Rukmi yang kemudian bangkit dan mengusap pundak Anggun. Perempuan itu mencoba menguatkan Rukmi dengan menepuk-nepuk pundak gadis itu. “Menangislah kalau memang dengan menangis, perasaan kamu jadi lega.” Sementara yang lain, hanya diam dan saling pandang. Yang lain maksudnya adalah manager Ade dan Pak Rino. Ansel jangan ditanya, dia masih sibuk berseluncur dengan pencariannya. Oh, yes ... Ketemu. Ansel bangkit dan berjingkrak girang. Hingga semua yang ada di sana menoleh dan menatap padanya. Anggun yang sejak tadi sesenggukan mendadak diam dan juga melihat padanya. Ansel tersadar pada sesuatu yang dilakukannya karena saking senangnya, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari menampakkan barisan giginya, lalu kemudian dia merebahkan pantatnya lagi sembari berpura pura sibuk lagi dengan gadgetnya. Ansel tentu sangat malu, tapi buat apa? Tak ada hal memalukan selama itu menyangkut Naya. Itu sudah mutlak, Naya tak boleh lagi dekat sama Bian, itulah yang menjadi keinginan utamanya. Semua terdiam setelah kejadian Ansel yang berdiri dan berjingkrak tadi. Tapi saat mata Ansel tepat menatap manager Ade. Di sana, mata sang paman melotot padanya karena dikira tidak tahu tempat dan keadaan. Ansel mengedipkan mata sembari mengangkat tangannya membentuk huruf O dengan telunjuk dan ibu jarinya. Rukmi memberikan minuman yang berada paling dekat dengannya pada Anggun, dengan sedikit sungkan, dia menerima minuman yang diberikan padanya, menenggaknya sedikit lalu memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya sendiri. Huft ... Anggun sungguh sesak jika harus membuka lembaran duka yang sering mengganggunya belakangan ini. “Ada apa, Nak?” Rukmi membelai rambut Anggun sembari menatapnya iba. “Ibu ....” Anggun menjawab tapi kalimatnya terjeda. Anggun menghela napas sebelum akhirnya dia melanjutkan kalimatnya dengan terbata, “I_ibu sudah _m_meninggal.” Manager Ade menutup matanya, menghela napas karena ternyata harapannya masih harus tertunda untuk kedua kalinya walau dia berhasil menemukan tempat tinggal Bu Deden di kampung. ***** Sementara Naya, dia terlihat kecapekan dan langsung merebahkan dirinya di kamar. Seharian ini dia menghabiskan banyak waktu dan tenaganya hanya untuk mengalihkan pikirannya yang masih saja mengejar nama Mas pangeran. Saat hampir terlelap, terdengar bel pintu berbunyi. Naya masih mencoba melawan kantuknya yang sudah sejak tadi memburunya untuk tidur. Tapi dia ingat, bahwa saat ini, Papa dan mama belum juga Dinda belum datang. Sebab itulah, dia bangkit dan menggosok matanya yang masih enggan terbuka. Bel kembali berbunyi, tanda bahwa tamu di luar sudah tak sabar untuk dibukakan pintu. “Iya, cari siapa ya, Pak?” Naya berucap begitu membuka pintu. Terdapat seorang laki-laki berhelm JINA express. Rupanya, dia adalah seorang pengantar barang. “Ada paket untuk Mbak Naya Rivera.” Kurir itu mengambil satu buah paket yang dimaksud dari kotak barang di boncengan motornya. “Apa benar di sini alamatnya?” Kurir itu bertanya setelah sebuah paket berbungkus map cokelat berada di tangannya. “Iya, saya Naya Rivera.” Naya menjawab sembari tak henti memandangi paket yang ternyata untuk dirinya. Meski dia merasa bahwa tidak memesan apapun, tapi entah kenapa map cokelat di tangan kurir itu membuat dia sangat penasaran. Diterimanya benda yang terasa seperti beberapa lembar kertas di dalamnya dengan sebelumnya dia menandatangani surat terima yang diberikan oleh sang kurir. Ada yang aneh, di sana ada satu lagi bubuhan tanda tangan yang tak asing bagi Naya. Diperhatikannya tanda tangan di samping tanda tangan miliknya. Sepertinya Naya kenal, dan oh ya! Bukankah itu tanda tangan Mas pangeran? Ah, Naya pasti berhalusinasi seperti biasanya! Dia mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri seolah mengusir makhluk tak kasat mata yang mengganggunya. Pasti karena aku terlalu kepikiran sama Mas Ansel dan aku juga sedang mengantuk. Dengan tidak ambil peduli pada tanda tangan yang tertera di sana, Naya masuk setelah mengucapkan terima kasih. Menurutnya, itu adalah tanda tangan penerima paket yang lain yang sudah menerima paketnya sebelum Naya. Dia berjalan masuk kembali ke kamarnya. Membuka paket yang ternyata adalah formulir pendaftaran yang harus Naya isi. Di sana juga ada surat pemberitahuan bahwa Naya mendapatkan beasiswa untuk sekolah musik beserta dengan kurus piano. Dan tak hanya itu, Naya juga mendapatkan fasilitas yakni Piano yang bebas Naya pilih sebagai hadiah karena Naya adalah peserta ke seratus yang mendaftar. Naya sangat gembira karena baginya itu adalah jalan untuknya menggapai semua impiannya. Saking bahagianya, dia sampai lupa bahwa dia sama sekali tidak mendaftar untuk kelas apapun. Jangankan mendaftar, tahu bahwa ada sekolah yang bisa didaftar via online-pun Naya baru tahu. Tapi semua itu tak terlintas di pikiran Naya karena rasa bahagia yang memuncak melebihi apapun. Naya berjingkrak kegirangan. Dia melompat-lompat di kasurnya sembari memeluk brosur yang belum dia isi tapi sukses membuat dia seperti terbang ke udara. “Yeay ... Akhirnya semua mimpiku bakal terwujud.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN