Kilau mentari pagi berpendar indah saat daun melambai-lambai diterpa angin yang berhembus dingin. Tampak sepasang pria dan wanita cantik berlarian di tepian danau dan sang pria itu pun menarik lembut jemari lentik wanitanya hingga sama-sama terduduk dengan wajah cerah penuh canda tawa.
Tanpa pikir panjang sang wanita merebahkan kepalanya dalam pangkuan sang pria yang akrab dipanggil Ansel tersebut. Ansel membelai lembut surai berwarna hitam legam itu hingga timbul perasaan aneh yang menggelayuti dirinya. Tangannya terasa sangat lengket, indera penciumannya pun mendeteksi aroma kurang sedap. Buru-buru ia pun menegakkan tubuhnya.
“Ih, kamu ketombean, ya?” Ansel mengibaskan jemari tangannya seraya mendorong sang wanita dengan ekspresi jijik. “Jorok! Lebih baik kita putus! Aku nggak suka cewek punya rambut lepek kayak gini,” tambah pria itu seraya bangkit dari duduk dan berjalan menjauhi wanita yang kini mencebikkan bibir tidak terima.
“Aku nggak mau putus!” teriak sang wanita seraya berlari kecil untuk menyusul langkah Ansel yang menurutnya sangat keterlaluan.
“Rambut lo bikin gue jijik. Dah sana! Jauh-jauh!” tolak Ansel masih melanjutkan langkahnya seraya menepis tangan perempuan itu dari lengannya.
“Nggak bisa! Lebih baik kita sama-sama tenggelam dan mati daripada putus!” tolak wanita itu seraya menarik kuat-kuat lengan panjang Ansel, memeluk pria berparas tampan itu hingga sama-sama terjungkal jatuh ke danau yang terasa sangat dingin menyentak kulit.
Byurr! Riak air danau itu pun segera bergelombang. Terlihat Ansel dan wanita tersebut timbul tenggelam.
“Dasar wanita kumal! Minggir!” teriak Ansel yang tercebur masih mencoba untuk melepaskan diri sambil mengumpat.
“CUT! Wah, keren!”
Suara sutradara terdengar keras penuh pujian kepuasan diiringi tepuk tangan para crew shooting saat pengambilan gambar untuk iklan shampoo yang Ansel jalani.
“Sial! Dingin banget,” gerutu Ansel sembari keluar dari kolam.
Dia segera meninggalkan wanita partnernya shooting itu tanpa berminat untuk membantu. Ia merasa sangat kesal, adegan yang baginya sangat mudah harus diulang lebih dari tiga kali hingga tubuhnya sukses menggigil kedingian dan rasanya seolah akan mati konyol di dalam kolam yang dingin.
“Huazing!” Ansel bersin-bersin. Beberapa kali ia harus mengeratkan giginya untuk menahan suhu tubuhnya. Pagi ini baginya sangat sial, ia tidak menyangka akan take pagi buta hanya untuk mendapatkan angle matahari berkilauan warna kuning jingga.
“Akhirnya selesai juga. Habis ini ada yang perlu kita obrolin.” Seorang lelaki berkemeja rapi datang memberikan handuk tebal untuk sang artis.
“Aku mau keluar habis ini, lain kali cari lawan mainku yang pro!” Ansel justru terlihat malas kalau harus mengobrol berdua dengan managernya, karena sudah pasti sang manager akan membahas jadwal syutingnya selanjutnya.
Huh, malas banget rasanya!
“Resiko jadi artis ya begitu. Lagi pula, Cuma tiga kali take,” seloroh manager Ade sambil terkikik melihat bibir Ansel yang kebiruan menggigil.
“Enak aja Cuma tiga kali. Harusnya sekali take langsung oke.” Ansel kesal bukan main. Harusnya partnernya hari ini bukan perempuan itu, melainkan Lisa yang memang partner syuting dalam film andalannya.
Ah, tapi dasar wanita itu tidak pernah on-time. Tugasnya jadi harus digantikan orang lain yang membuat Ansel mengulangnya sampai tiga kali.
“Lokasi syuting film kamu setelah ini di sekolahan,” ucap Manager Ade akhirnya. Dia tak bisa menunggu laki-laki itu untuk mengobrol berdua dengannya sebab adalah hal yang mustahil terjadi, bila seorang Ansel Mahardika bisa diam di lokasi saat break seperti ini.
“Hmmm ....” Seperti biasa, hanya berdehem karena sejatinya Ansel malas dengan episode sinetron yang dia perankan yang panjangnya sudah ngalahin real kereta.
“Jangan Hamm hemm doang. Sinetron ini yang udah nanjakin popularitas kamu!” Manager Ade mengingatkan bahwa berkat peran inilah, nama Ansel melejit. Ia pun segera meletakkan berkas naskah di atas meja yang terletak di sampingnya. Kemudian berjalan keluar dari ruangan Ansel.
Ansel membuang napas sambil mengusap rambutnya dengan handuk, melirik sekilas judul yang ada di bagian atas. Nama sekolah yang tidak asing dan sangat familiar baginya, SMA Negeri Harapan. Sambil menggelengkan kepalanya samar, pria itu mengukir senyuman tipis.
“Apa ini sebuah takdir? Meskipun sekuat tenaga kita saling menyakiti dan tidak ingin bertemu, tapi kenapa ini malah tercipta sebuah jalan?” gumam Ansel dengan hati yang diliputi gelenyar rasa yang membahagiakan. Sambil menatap kembali ke arah cermin, pria bertubuh atletis itu pun bersiul ceria.
“Kita lihat, bagaimana sebuah kebetulan ini bisa menjadi awal dari takdir yang menautkan kisah kita kembali, Sayang,” ucapnya sambil menunduk menahan tawa.
Ia merasa tidak sabar menantikan hari mendebarkan itu, bertemu dengan seorang wanita yang telah merasuk ke dalam hatinya tanpa bisa dibendung lagi. Sosok yang belakangan berhasil membuat Ansel mencuri waktu hanya demi melihat wajahnya walau sekedar dari jauh.
Gadis cantik yang untuk pertama kalinya bersikap jutek terhadapnya.
****
Siapa sangka, di sekolah SMA Negeri Harapan, Ansel sudah disambut antusias oleh hampir semua penghuni sekolah, kecuali Naya tentunya.
Hanya dia satu-satunya siswi yang tidak berdesak-desakan menunggu kedatangan artis tampan itu di lapangan sekolah.
Daripada panas-panasan ga jelas, mending baca buku di perpustakaan.
Selesai dengan buku-bukunya, Naya memilih keluar dan menuju kelasnya. Dia tak tahu, bahwa ruang kelasnya-lah yang dijadikan tempat syuting.
Semua siswa dipindahkan ke ruangan OSIS sementara. Dan Naya satu-satunya yang saat ini berjalan tanpa dosa ke ruang kelas yang tampak lebih rame dari biasanya.
Saat membuka pintu, dia melihat tataan meja dan kursi berubah dari biasanya. Di dalam pun, terdapat wajah-wajah asing yang Naya tahu bukanlah teman-temannya. Namun diantara banyaknya orang berseragam di dalam, ada satu yang dia kenali, cowok pengacau itu.
Ansel yang melihat Naya langsung bangkit dengan antusias.
“Hai ... Mau ikut syuting, gak?” Senyum Ansel harusnya membuat siapapun yang melihatnya meleleh, tapi tidak bagi Naya.
“Oh, jadi kelas ini udah dipakek syuting. Kalo boleh tahu, penghuni kelas ini pindah kemana, ya?” Bukan meladeni Ansel, Naya justru lebih ingin tahu proses belajar-mengajar di kelasnya dipindah kemana.
Ansel mana tahu, tapi dia berkata dengan sok tahu demi bisa berduaan dengan Naya.
“Eng ... Ikut aku, yuk.” Ansel menarik tangan Naya keluar dari kelas.
Manager Ade hendak menahannya, tapi melihat jadwal syuting yang masih akan dimulai setengah jam lagi, membuatnya urung.
Sebab bel masuk belum berbunyi, semua siswa masih banyak yang diluar kelas, kebanyakan mereka memandang Naya penuh iri sebab bisa digandeng artis terkenal menyusuri lorong sekolah.
Entah kenapa, digenggam begini membuat jantung Naya berdetak lebih kencang dari biasanya. Pun, wajah lelaki yang menggandengnya ternyata sangatlah tampan ketika dilihat dari jarak sedekat ini.
Rupanya syuting ini benar-benar membawa berkah. Naya tak lagi jutek, bahkan keduanya mulai dekat dan berkomunikasi dengan baik selayaknya teman.
****
Hari ini seperti biasa, Naya berangkat sekolah berjalan kaki. Dinda masih harus diantarkan oleh Bu Rena sebab kata gurunya Dinda memenangkan lomba dan diperlukan orang tua untuk mendampinginya lagi.
Kedekatannya dengan Ansel membuat Naya bertingkah lain dari biasanya.
Dia bahkan jadi bertanya sesuatu di luar persoalan sekolah pada Intan, sahabat yang merupakan fans garis keras Ansel Mahardika si artis terkenal itu.
Intan mengatakan bahwa Ansel adalah mantan personel boyband ternama, The king. Dan dia berubah haluan menjadi pesinetron dengan alasan yang belum jelas sampai detik ini.
Intinya, Ansel adalah artis yang banyak diminati oleh orang-orang. Termasuk Intan dan sekarang bertambah satu lagi, Naya yang diam-diam mulai mengagumi sosok itu.
"Naya Rivera. Bisakah temani aku ke kantin?" Suara lelaki yang sukses membuat sesuatu berbeda terasa di d**a Naya sejak semalam.
Intan justru bereaksi lain. Dia berjingkrak girang karena Ansel menghampiri mereka. Ya, meski kenyataannya menghampiri Naya tepatnya.
Saking senangnya, Intan tak sadar bahwa saat ini dia hanya berjingkrak sendirian sebab Naya sudah dibawa Ansel ke kantin sekolah.
Mereka mulai dekat, Naya sudah tidak lagi Cuek seperti sebelumnya.
“Naya Rivera, maukah kau berkencan dengan ku di lain kesempatan?” ucap Ansel menatap serius maniak cokelat milik gadis yang sudah berhasil mengobrak Abrik hatinya sejak lama.
Huft ... belakangan, d**a Naya sering sesak terutama saat dekat dengan Ansel.