BAB 22

2071 Kata
“Soal hati?” Naya mengulang ucapan Intan dengan memberikan sebuah tanda tanya dalam cara bicaranya. Itu artinya, Naya belum mengerti maksud ucapan Intan dan juga kode Intan. Huft ... Sepertinya predikat siswi dengan peringkat teratas mesti dipertimbangkan lagi! Intan menarik nafas dengan menatap gemas pada sahabatnya. Naya sungguh perlu diberikan les privat untuk soal percintaan dan kode-kodean. Intan masih tak habis pikir pada sahabatnya yang satu itu. Dia hampir saja nyerocos memberikan pelajaran seputar kode yang dia lakukan tadi. Tapi beruntung, Bian datang dengan nampan penuh makanan yang merupakan pesanan mereka dan juga pesanannya sendiri. Intan jadi urung bicara, padahal dia sudah menarik nafas dan siap bicara dengan tanpa jeda seperti biasanya. Nasib baik Naya tidak mendapatkan ceramah perkodean hari ini! Dia jadi bisa menikmati semangkuk bakso pesanannya yang sangat menggugah selera itu. “Heum ... Sumpah ini tuh enak banget.” Naya memberi komentar. “Dagingnya tuh kres-kres ... Kayak ada uratnya. Trus rasanya juga gurih banget. Enak banget deh pokoknya.” Naya persis seperti seorang food blogger yang biasa Intan tonton di Yo*tube. Intan menatap keheranan. Baru pertamakali baginya melihat Naya mengomentari sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan materi sekolah. Sungguh perubahan yang luar biasa dan patut diacungi empat jempol sama jempol kakinya sekalian, saking takjubnya melihat perubahan Naya. Intan sampai tak sadar, membiarkan mulutnya menganga sebab memandangi Naya. Waw ... Amazing! Tunggu tunggu! Naya tidak salah minum obat, kan? Tumben banget dia jadi bicara hal tak penting, bahkan ini makanan lho yang dia bahas. Intan sampai dibuat menganga karena perubahan sifat Naya yang signifikan. “Oey ....” Naya menggerakkan tangannya di depan wajah Intan. Oh! Saking takjubnya melihat perubahan Naya, Intan bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ini si Intan benar-benar karena kelewat takjub atau malah pengen nyicipin bakso Naya, ya? Kenapa makanannya nggak disentuh sejak tadi? “Eh ... Elo tuh udah kayak food blogger, tau nggak?” Intan berseru membuat Naya dan Bian terkekeh bersamaan. “Gue boleh nyicip gak?” Intan bersuara lagi. Rupanya, Naya berbakat juga menjadi food blogger. Kalo begini, jadi keliatan bakat terpendam Naya yang bisa membuat orang tertarik ketika dia menjabarkan sebuah rasa makanan. Ya, benar-benar mirip food blogger dia. “Ya udah, Nih!” Naya menyodorkan mangkuk bakso miliknya yang ternyata hanya tinggal kuahnya. Intan sempat berbinar karena Naya mau berbaik hati membolehkan dia menyicip bakso pesanannya. Tapi kemudian raut itu berubah. Bibir Intan mengerucut begitu melihat isi mangkuk Naya yang sudah ludes. Dia makan apa ngebor, sih? Cepet banget kosongnya itu mangkuk! Naya tertawa melihat wajah Intan yang berubah-ubah. Begitupun Bian, lelaki itu juga tertawa. Bukan karena perubahan raut wajah Intan. Melainkan karena melihat Naya tertawa. Ya, bagi Bian hal tersulit yang sulit dia dapatkan adalah melihat sahabatnya tertawa seperti itu. Itulah alasannya mengapa dia bisa menjalin persahabatan dengan Intan. Karena sikap konyol Intan memang selalu berhasil membuat Naya tertawa. Sedangkan saat bersama Bian, Naya hanya sesekali tertawa. Ting ... Pesan masuk ke hape Naya. Dengan segera, dia membuka kunci layar di ponselnya. Di sana terdapat notifikasi pesan wa dari Ansel. Hanya dengan melihat nama Mas pangeran di layar gadgetnya, Naya langsung tersenyum senang. Dibukanya pesan itu dengan sekali sentuh. “Hai, sayyank. Aku udah break. Kamu masih jam istirahat, kan?” Dengan senyum yang tidak hilang dari wajah Naya, dia mengetikkan pesan balasan untuk Mas pangeran. “Iya. Ini lagi di kantin sama Intan dan Bian.” “Huu ... Aku gak diajak.” Naya tahu Ansel hanya bercanda. Tapi tetap saja, pesan singkat dan keluhan kecil Ansel selalu bisa membuat dia tersenyum. “Ya udah sini. Makan bareng sama kita.” Naya membalas dengan sumringah. “Beneran? Aku otewe nih.” Naya menggelengkan kepala membaca balasan Ansel. Ada-ada saja mas pangerannya itu. Ya, Naya tahu betul, jadwal syuting Ansel sudah sangat padat seminggu belakangan ini. Jadi tak mungkin, laki-laki itu akan datang ke sekolahnya, terlebih hanya untuk makan bareng sama Naya. “Ya udah. Siapa takut.” Klik send dengan memberikan emot tertawa sebelum akhirnya pesan itu Dikirim oleh Naya. Ting ... Sebuah notifikasi masuk di hape Naya dari aplikasi B*be. Sebuah platform baca berita yang menyajikan berita terhangat via online. Head news yang tertulis sungguh sangat membuat penasaran. Ansel Mahardika adalah seorang p*****l. Begitu yang tertulis di bagian teratas berita itu. Naya dengan cepat mengeceknya. Dan astaga ... Naya tak percaya! Disana terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Ansel sedang menggandeng gadis di sampingnya. Mereka tampak tertawa bahagia dan tak hanya foto, terdapat satu video dengan durasi tiga puluh enam detik di sana. Naya men scrroll dengan tangan gemetar. Dibacanya satu persatu isi kalimat dalam berita itu. Terdapat judul dengan tulisan kapital, “ANSEL MAHARDIKA ADALAH SEORANG p*****l” Seorang aktor yang kini melejit karena perannya sebagai Pangeran ternyata hanyalah seorang p*****l yang diam-diam suka mendekati anak dibawah umur. Menurut NL, saksi sekaligus pengambil gambar dan video, mengaku melihat Ansel sedang bermesraan di salah satu taman hiburan kota. Dan juga, NL mengaku bahwa dia adalah salah satu penggemar berat Ansel. Satu kabar lebih mengejutkan lagi dibeberkan NL, saat dia sedang mengikuti artis idolanya ke apartemennya, dia melihat perempuan yang sama sedang keluar dari unit kamar yang ditempati Ansel. Dan untuk sekarang, aktor tampan yang sedang naik daun itu belum bisa dimintai keterangan. Hanya managernya saja yang membuka suara bahwa Ansel bukan orang seperti itu, dan dalam waktu dekat akan bisa mengklarifikasi semuanya. --- Naya menutup laman berita yang dibacanya. Tak ada niat dalam benaknya untuk kembali mengklik semua link yang tertera di bawah berita itu. Hanya berita murahan! “Nay ... Ih sibuk banget deh.” Suara Intan membuatnya tersadar. Sebagian besar penghuni sekolah sudah membaca berita yang barusan Naya baca. Huft ... Sebagian besar siswa yang sedang berada di kantin sekarang memandang ke arah Naya. Naya menjadi gemetaran, tapi berusaha bersikap biasa aja, dan Bian lah yang pertama menyadari gelagat aneh Naya. Dan saat mata Bisa diedarkan ke seluruh sudut kantin. Hampir semua mata melihat ke arah meja mereka. Bian bangkit, menarik tangan Naya tanpa memedulikan teriakan Intan yang belum juga mengerti suasana. Intan menyuapkan mie ayam ke mulutnya lalu mengunyahnya sambil berlari mengejar Naya dan Bian yang sudah tak terlihat di pintu kantin. Dia mengejar langkah kaki dua sahabatnya yang berjalan cepat entah kemana. Bian membawa Naya dengan tergesa ke belakang sekolah. Di sana, dia bisa leluasa mewawancarai Naya soal tatapan anak-anak terhadapnya. Bian tahu, ada yang tak beres dengan sahabatnya. Dan terbukti, Naya langsung terduduk dengan masih menahan air matanya. Ada rasa tak terima dalam hati Naya, karena mas pangeran yang dia cintai diberitakan sebagain seorang p*****l. Ah ... Tapi Naya bisa apa? “Naya kenapa?” Intan sudah berdiri diantara dua sahabatnya yang sedang saling menyelami perasaan masing-masing. Naya yang terus menerus memikirkan Ansel, dan Bian yang menerka-nerka penyebab kesedihan Naya kali ini, juga penyebab tatapan teman sekolahnya pada Naya. Ya, Intan dan Bian belum tahu soal berita yang sedang menjadi trending hari ini. Padahal, untuk berita dan kabar terbaru soal Ansel, Intan tak pernah ketinggalan. Huh ... Karena sibuk memikirkan rencananya yang ingin membuat Naya dekat Dengan Bian, Intan sampai lupa pada ponsel miliknya. Ya, ponsel kesayangan yang selalu bertengger di saku bajunya, kini hanya kedap kedip di dalam tasnya. Sebagai penggemar Ansel, dia mem-follow semua akun yang bersangkutan dengan aktor tampan itu. Sehingga saat ada pemberitaan hangat tentang artis idolanya, Intan tak pernah ketinggalan. “Aku harus pulang cepet. Kalian bisa kan memintakan ijin untukku?” Naya bangkit dengan mata terlihat sedikit basah. Ya, Naya masih saja menahan diri untuk tidak menangis, tapi air matanya selalu saja tak bisa dia ajak berkompromi dan tetap keluar meski Naya tidak memperbolehkannya. “Nay, kalo elo butuh tempat buat nangis, Lo bisa nangis sama gue,” ucap Bian. Seperti biasa tak anggap Intan ada diantara mereka berdua. Perhatiannya selalu tercurah untuk Naya seorang. Dan itu membuat Intan mendelik sebal. Kebiasaan banget ni orang. Ga sekalian anggap aku patung. Hati Intan menggerutu karena tak dianggap ada oleh makhluk yang hanya melihat pada Naya itu. “Nay. Kalo ada apa-apa tuh cerita sama gue. Gue bakal berusaha buat bisa lebih baik dari pacar Lo yang artis itu.” Bian menyentuh punggung Naya yang kelihatan sedikit bergetar. Huh ... Daripada kamu bukan artis. Sudah untung, aku masih dukung kamu sama Naya. Hih ... Nggak tau aja dia kalo nanti sehabis pulang sekolah aku mau bikin mereka ketemu di mall. Intan mengerucutkan bibirnya ke depan. Menggerutu semua sikap Bian yang seperti tidak bisa melihat makhluk lain selain Naya. “Nay ... Buat apa ada gue kalo elo nangisnya sendirian? Bagiin semuanya ke gue, Nay. Gue siap nampung semua beban elo.” Bian mulai mengambil tempat di samping Naya. Mengusap pundak gadis itu yang sekarang sudah benar-benar menangis. Hey ... Ada aku di sini. Aku juga bisa kali jadi tempat buat Naya nangis. Tempat aku lebih besar malah. Ada tempat buat nyalon juga. Intan memandang dengan wajah kesal menggemaskan. Ya, karena terlalu sering bicara dan keseringan heboh, Intan menjadi lebih menarik ketika diam dan hanya heboh dalam hatinya. Mau teriak, mau mengumpat atau mau apapun kalo di hati ga bakal ada yang tahu, kecuali sang pencipta hati itu sendiri. “Nay ... Kalo emang kamu ga bisa cerita sama kita, gak papa. Seenggaknya kami bisa nangis sepuasnya sama kita.” Kali ini Intan bicara dengan turut menyentuh bahu Naya. Intan tak tega melihat sahabatnya yang belakangan menjadi sering menangis. Padahal, biasanya, Naya hanya sibuk dengan buku. Jangankan menangis, tertawa saja jarang. Ya, iyalah ... Karena meskipun mereka sedang duduk bertiga, ada yang keempat yang selalu berhasil mencuri perhatian Naya, buku. Huh ... Sepertinya Intan lebih suka Naya yang selalu pacaran dengan buku. Daripada pacaran sama artis, Naya jadi gampang menangis. Apalagi Bian, lelaki itu sudah tak bisa sabar untuk kedua kalinya. Tangisan Naya kemaren, Bian bisa memaafkannya. Tapi kali ini tidak lagi! Tidak boleh ada tangis kedua, tangis ketiga dan tangis berikutnya. Bian tak akan biarkan itu terjadi. “Gue titip dia sama Lo.” Bian akhirnya melihat pada Intan. Huh ... Akhirnya aku nggak Cuma jadi patung. “Mau kemana?” Intan bertanya karena jujur, dia takut Bian tidak kembali ke sekolah dan endingnya, rencana yang sudah dia susun dengan sangat matang akan gagal karena laki-laki itu tidak bisa membonceng Naya nanti. Bian tak menjawab, membuat Intan merasa bahwa dirinya seperti hilang lagi dari pandangan Bian. Ya, sepertinya Intan memang timbul tenggelam dalam penglihatan Bian. Tentu saja, karena laki-laki itu sudah hanya memfokuskan pandangannya pada satu titik, yaitu Naya. Yang dipandang, masih duduk dengan perasaannya yang kalut. Bagaimana kondisi mas pangerannya sekarang? Membaca kabar miring dalam berita itu sungguh membuat Naya sakit hati. Dia yang merasa tak terima. Ah ... Andai saja aku tidak meminta untuk bebas bergenggaman tangan. Dan andai saja aku nggak langsung marah waktu ngeliat mas Ansel sama Lisa waktu itu .... Pikiran Naya kacau. Semua yang ada di berita itu menyangkut pada dirinya. Dan itu semua salahnya. Naya sesak. Telah menjadi penghalang kesuksesan mas pangerannya. “Nay ... Kita ke UKS aja ya. Tenangin diri kamu di sana.” Intan merangkul pundak Naya. Membimbing sahabatnya untuk bangkit dan tidak menangis di bawah pohon. Naya yang pikirannya sudah tak menentu hanya menurut dan mengikuti kemana Intan membawanya. Bau obat-obatan seketika menyeruak masuk ke hidung Naya. Rupanya Intan membawanya ke UKS. Persis seperti yang dia bilang. Memangnya kenapa kalo nangis di bawah pohon? Nggak dosa, kan? Naya tak suka bau obat dan menangis di bawah pohon rasanya jauh lebih menyenangkan. Eh, menyenangkan? Apa menangis adalah hal menyenangkan? Apa Naya sudah punya hobby baru sekarang selain belajar dan memikirkan Ansel. Intan dengan sangat perhatian menidurkan Naya di ranjang UKS. Tak bicara sepatah katapun, hanya menemani tanpa ada niat mengajak ngobrol atau apapun itu. Dia mengerti, Naya butuh waktu untuk sekarang. Dan akan tiba waktunya bagi Naya bercerita semuanya. Intan hanya diam. Tak pernah sekalipun membuka suara, bahkan deru nafasnya juga dia tahan agar tidak menimbulkan suara. Dia sungguh tak ingin mengganggu Naya untuk sekarang. Biarkan saja sahabatnya itu menangis sampai puas. Mungkin dengan begitu, Naya akan merasa lebih baik. Sementara Naya, dia masih sesenggukan. Menangis dalam diam itulah kalimat yang tepat untuk Naya. Dia menangis tapi pikirannya berkelana mengejar Mas pangeran di tempatnya berada, di hatinya. Terlintas dalam pikirannya untuk menemuinya sekarang. Menguatkan laki-laki itu dan membantu agar mas pangerannya terbebas dari tuduhan tanpa bukti itu. Ya, mas pangerannya bukan seorang p*****l. Ting ... Ponselnya berbunyi diikuti dengan getaran kecil di sakunya. Naya melihat notifikasi yang ternyata dari aplikasi hijau dengan pemilik nama Mas pangeran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN