BAB 9

2152 Kata
Sebuah cuplikan sinetron terbaru Ansel sedang menjadi trending hari ini. “My sweet love” sinetron bergenre romantis itu membuat iri kebanyakan kaum hawa yang melihatnya. Cleo Lissa, yang merupakan lawan main Ansel dalam sinetron itu adalah kekasih masa lalu Ansel. Ya, mereka pernah punya hubungan spesial saat Ansel masih menjadi personil the king. Tapi entah, karena apa? Tapi keduanya tiba tiba putus dan tak ada berita yang jelas mengenai penyebab putusnya hubungan keduanya. “Eh ada sinetron baru di QQ TV. Ansel pemeran utamanya,” ujar salah seorang teman sekelas Naya berbicara dengan teman di sebelahnya. “Iya, lawan mainnya si Lisa, kan?” tanggap temannya yang dijawab anggukan semangat dengan senyum dan mata yang berbinar-binar. “Senangnya bisa berperan jadi pacar Ansel,” ucap temannya lagi dengan meremas Pipinya sendiri. “Pacar?” Mendengar kata pacar, membuat getaran aneh yang tak biasanya di hati Naya. Ya, sejak kejadian di apartemen Ansel kemarin, hati dan perasaan Naya menjadi lebih sensitif sekarang. Mendengar kata pacar saja, membuat dia senyum-senyum sendiri dan bahkan memegangi dadanya. Seperti ada kupu-kupu besar yang terbang di dalamnya hingga terasa amat menggelitik. Ingatannya seperti terbawa pada saat Ansel mengantarkannya pulang. “Soal yang tadi, aku serius.” Ansel berucap sembari memegang kemudi mobilnya. “Soal apa?” Naya dalam urusan di luar sekolah memang selalu lambat dan .... (Mohon maaf) Bodoh. “Pacar,” sahut Ansel singkat. Matanya menatap lurus ke depan, memerhatikan jalanan kota yang mulai padat karena jam pulang kerja membuat kemacetan tak pernah usai di ibu kota Jakarta ini. “Ee ....” Naya memandangi wajah Ansel yang tidak mengenakan apapun sekarang. Maksudnya tidak dengan topi ataupun hodie-nya. Tidak dengan kacamata dan juga maskernya. Dia memang terlihat sangat sempurna, Mas pangeran .... “Kamu nggak keberatan, kan?” tanya Ansel kemudian beralih menatap Naya karena kemacetan mulai membuat mobilnya tak bisa bergerak lagi. Naya mengangguk malu dengan bibirnya membentuk senyuman kecil di sana. “Yes!” Ansel mengepalkan tangannya lalu menggerakkannya ke bawah, mengekspresikan kebahagiaan yang barusaja dia dapatkan. “Jadi boleh manggil sayang?” tanya-nya lagi dengan binar bahagia terpancar di wajahnya. Kembali Naya dibuat tersenyum dan mengangguk malu. Ansel meraih tangan Naya dan menggenggamnya dengan sangat erat. Kali ini, dia menemukan semangatnya yang hilang dalam diri gadis berstatus siswi SMA itu. Sedang Naya, menemukan kehidupan baru seperti yang dia impikan, yakni seorang pangeran seperti dalam dongeng Cinderella. Hubungan pacar yang barusaja terikat diantara keduanya, membuat hati Naya selalu berdegup kencang bahkan ketika hanya mendengar kata itu keluar dari mulut orang lain. Saat teman-teman sekolahnya heboh karena sinetron baru Ansel, justru Naya asyik sendiri dengan hati dan semua rasa di dalamnya. Ingatannya tentang kejelasan hubungan yang diresmikan Ansel kemarin, membuatnya tak henti tersenyum dan meremas remas pipinya sendiri. Ting .... Suara notifikasi di handphonenya terdengar. Sebelum bel berbunyi, handphone Naya memang tak pernah disilent ataupun di nonaktifkan. Dia meraihnya dan melihat nama Mas pangeran di sana. Wajah Naya semakin berbinar. “Selamat pagi pacar, Semangat sekolahnya, ya.” Isi pesan yang dikirim Ansel sebelum dia berangkat syuting, lebih tepatnya ketika dia dalam perjalanan ke lokasi syuting. “Aku bakalan sibuk karena syuting sinetron baru, kita bakal jarang ketemu. Jangan kangen, Sayang.” Pesan ke dua yang membuat Naya tak bisa menghentikan lekukan lebar di bibirnya. “Mas Ansel .... Ini serius, aku sama dia ....” Naya menciumi handphone-nya saking bahagianya. Kakinya berjingkrak jingkrak dengan posisinya yang tengah duduk belum melepaskan benda pipih itu dari bibirnya. Sedang tak jauh dari tempatnya duduk sekarang, dua pasang mata tengah mengamati tingkah Naya yang menurut pemilik dua pasang mata itu, tingkah Naya makin hari makin aneh dan sangat jauh berbeda dari biasanya. “Makin hari, dia makin mengkhawatirkan,” ucap Intan, salah seorang pemilik mata yang sejak tadi mengamati Naya. “Pasti karena cowok,” ucap Intan lagi mencoba menggoda Bian yang hanya terus mengamati tingkah Naya. Plak .... Intan memukul pundak Bian, karena menurutnya Bian tidak mendengarkan ucapannya. Dan memang benar pukulan tadi membuat lelaki yang sejak tadi fokus memerhatikan tingkah Naya itu tersadar dan dia mulai tampak gusar. “Apaan sih?" Bian terlihat kesal. "Elo harus siap-siap patah hati,” sahut Intan dengan sama sekali tak memedulikan wajah Bian yang jelas terlihat kesal padanya. “Apa gua bilang, elo jangan kebanyakan diem. Keburu diserobot orang, baru tau rasa, Lo,” ucapnya lagi dengan tidak mengalihkan pandangan dari Naya. Bian diam tak menjawab, dalam hatinya dia membenarkan semua yang dikatakan Intan. Tapi entah kenapa, keberaniannya tak pernah bisa dia dapatkan bahkan walau sudah sering latihan mengungkap perasaannya di depan kaca. Bahkan pernah juga, dia meminta Intan untuk membantunya latihan tapi hal itu tak pernah bisa dia lakukan di depan Naya. Ah, Naya seperti memiliki pelindung kuat di sampingnya yang membuat Bian selalu hanya menelan ludah setiap kali akan bicara. ***** Sedang di perjalanan menuju lokasi syuting, manager Ade tak henti hentinya menasehati Ansel untuk tidak terlalu dekat Naya. Apalagi yang menjadi alasannya, kalau bukan karena usia Naya yang masih enam belas tahun. “Apa yang ada di pikiranmu sih, Dika? Paman bingung ngomongnya sama orang bebel kayak kamu,” ucap Manager Ade sembari fokus mengemudi. Sudah sejak kemaren dia tak henti menceramahi Ansel, ponakan yang menjadi satu-satunya keluarga yang dia punya. Rasanya, dia sudah kehabisan kata-kata untuk membuat sadar ponakannya. Padahal, apa yang dia lakukan semata-mata untuk kebaikan karir Ansel. Menurut manager Ade, sudah cukup semua pengorbanan Ansel selama ini, kini gilirannya lah sekarang untuk membantu mempertahankan sesuatu yang sudah diraih ponakannya itu. “Dia itu masih anak-anak. Bayangkan umurnya enam belas tahun, statusnya masih anak sekolahan. Kamu bisa menjadi hujatan publik, Dika.” Tak ada jawaban dari yang diajak bicara. Ansel sibuk dengan benda pipih di tangannya. Dia menunggu balasan pesan dari Naya. “Apa kata mereka? p*****l, pelecehan dan bahkan kamu akan kehilangan reputasimu. Jauhi dia kalau memang kamu ingin menyelamatkan karirmu,” ucapnya lagi. Kali ini dia memerhatikan tingkah ponakannya dari balik kaca kemudinya. “Iya, Paman. Aku paham,” sahut Ansel setelah mulai bosan menunggu balasan dari Naya di hapenya tapi tak kunjung ada notifikasi apapun. “Jangan hanya menjawab paham, kamu sebenarnya dengerin paman ngomong nggak, sih?” manager Ade semakin gusar. Mobilnya dia berhentikan untuk bisa berbicara serius dengan ponakannya. “Lalu kalau paham, kenapa kamu masih sama dia?” tanya manager Ade kemudian, membalikkan badannya menghadap ke samping untuk bisa menggapai wajah ponakannya di kursi belakang. “Vera. Dia seperti penyegar udara buatku, Paman. Aku merasa menemukan sesuatu yang hilang sejak aku keluar dari the king,” ungkap Ansel kali ini dengan wajahnya yang terlihat serius. Manager Ade terdiam, dia tahu betul segala yang sudah dilalui ponakannya. Bagaimana perjuangan yang mati matian dilakukan ponakannya demi terus berjuang untuk mimpinya menjadi penyanyi. Tapi kemudian, keadaan membuatnya benar-benar harus berhenti, hingga dia-pun memilih menjadi aktor demi membuktikan pada teman teman band-nya bahwa dia bisa berhasil dan sukses di bidang yang lain. Ah, mengingat itu membuat luka yang sebelumnya dikubur dalam kembali terasa, dan itu jauh lebih perih karena kenyataannya manager Ade tak bisa berbuat lebih untuk ponakannya. “Sudahlah, Paman. Biarkan aku dengan kebahagiaan yang sudah sangat lama tidak aku dapatkan. Jangan ganggu apapun yang sudah aku punya sekarang, toh nggak akan ada yang tahu selama kita sama-sama merahasiakannya,” ucap Ansel lagi berusaha menghibur pamannya yang terlihat murung dan seperti merasa tidak berguna. Tidak! Kenyataannya manager Ade merasa bahwa mungkin dengan bersama-sama dengan Naya, ponakannya akan menemukan kehidupan baru yang sebelumnya selalu terlihat mati. Tapi sama seperti yang Ansel katakan, hal itu harus mereka rahasiakan demi karir dan pembuktian yang hendak dilakukan ponakannya. “Baiklah, ayo kita ke lokasi sekarang. Kita sudah hampir telat,” ucap Manager Ade kemudian menyalakan kembali mobil yang dikemudikannya. ***** Sepulang sekolah, karena suasana hatinya yang sedang bahagia. Naya berinisiatif membantu Bian mengurus toko bunga orang tua Bian yang saat ini kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota. “Memangnya nggak papa elo bantuin gua di sini?” tanya Bian sembari tangannya sibuk dengan beberapa pot bunga di depannya. Dia tahu, bahwa sepulang sekolah, Naya harus menjemput adiknya di kedai orang tuanya. “Gak papa kok, aku udah telepon ibu tadi,” sahut Naya sembari membantu membuang daun daun kering yang ada dalam pot. “Bos, ada orderan nih,” ucap salah satu karyawan yang barusaja menerima telepon di dalam toko. “Mana alamatnya,” tiba tiba Naya meminta alamat yang memesan pada karyawan toko bunga Bian, lebih tepatnya toko bunga orang tua Bian. “Eh, jangan deh. Biar gua aja yang anter,” seru Bian mengambil secarik kertas yang sudah ada di tangan Naya. “Aku aja, Bi. Biar ngga bengong doang abis ini,” ucap Naya lagi. Dia memperkirakan pekerjaannya membuang daun kering dari pot bunga akan selesai sebentar lagi. Bian pun mengalah, membiarkan Naya melakukannya. Naya mengantar buket bunga yang ternyata dipesan oleh crew sinetron yang ada Ansel dengan pemeran utamanya. “Sini bunganya.” Salah seorang crew mengambil bunga dan membawanya ke tengah kerumunan yang sedang melakukan syuting. Naya memerhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dia menonton akting pacar pertamanya, si Mas pangeran. Rupanya bunga yang dia antarkan adalah bagian dari properti syuting saat si cewek sedang ngambek karena pacarnya sibuk dan tak ada waktu untuknya. Adegan demi adegan dilihat Naya dengan menggenggam tangannya sendiri, mulai dari saat Ansel meraih tangan cewek yang berperan sebagai pacarnya. “Maafkan aku,” ucap Ansel dengan menatap maniak pemeran pacar dalam adegan itu. “Aku sudah capek. Aku capek ngertiin kamu, aku capek nungguin kamu. Aku capek ....” belum selesai dialog itu, Ansel mendaratkan bibirnya di bibir pacarnya dalam sinetron itu persis seperti dalam naskah yang sudah sejak kemaren dia hafalkan dan dia pelajari. Naya hanya bisa memandangi mas pangerannya yang sudah resmi menjadi pacarnya itu mencium perempuan lain di depan matanya. Ya, dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia tahu, itu adalah tuntutan peran yang dimainkan Ansel. “Mbak. Ini bayarannya,” seseorang menepuk pundaknya. Membuat Naya tersentak kaget. “Terimakasih,” ucap Naya menerima selembar uang limapuluh ribuan dari orang yang tadi menerima buket bunga yang diantarkannya. Suasana syuting yang sunyi sebelum akhirnya terdengar suara “Cut.” Ansel sempat mendengar suara gadisnya yang mengucapkan terimakasih. Ansel melihat sekeliling, dan benar dia bisa mengenali pemilik punggung yang sedang berjalan keluar area syuting. Ansel berlari mengejarnya. Dia tahu betul bahwa pasti gadisnya melihat semuanya sejak tadi, karena hatinya sendiri bisa merasakan keberadaan gadisnya saat sejak syuting akan dimulai tadi. Awalnya dia pikir, karena dia gugup. Tapi ternyata, memang benar. Hatinya bereaksi karena benar benar ada Naya Rivera tak jauh dari dirinya. “Vera.” Ansel meraih tangan Naya. Membawanya berjalan cepat ke tempat yang agak sunyi. “Kamu salah paham, Sayang. Aku bisa jelasin,” ucap Ansel dengan raut yang sulit di definisikan. Ya, ini pertama kalinya dalam hidupnya merasa takut untuk kehilangan sesuatu yang baginya sangatlah penting dan berharga. “Ha?” Naya yang sebetulnya dalam hatinya merasakan nyeri yang tak biasa hanya menatap tak mengerti. “Bukannya kamu marah karena tadi aku ....” Ansel tidak meneruskan kalimatnya. Dia tahu, tanpa diperjelas Naya pasti akan mengerti apa yang dia maksud. “Oh itu. Nggak apa-apa sih. Kan tuntutan peran, lagian akutuh tadi bantuin temenku nganter pesenan bunga,” sahutnya menceritakan alasannya datang ke lokasi syuting Ansel. “Gadis kayak apa sih, kamu? Penuh kejutan,” hati Ansel bergumam sembari menatap maniak mata milik gadis yang sekarang sudah menjadi pacarnya itu. “Aku seneng kalo kamu nggak salah paham,” ucap Ansel kemudian. “Ayo ikut aku,” ajak Ansel lagi dengan menarik tangan Naya memasuki ruangan pribadinya yang terletak agak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Saat menuju ke ruangan Ansel, seorang wanita cantik yang memang sejak tadi mencari keberadaan Ansel diam diam mengikuti mereka. “A_apa yang mau Mas Ansel lakuin?” tanya Naya saat Ansel membawanya ke ruangan yang tak begitu luas dan hanya terdapat satu ruangan yang transparan. “Memangnya apa yang mau aku lakuin di dalam ruangan yang terlihat dari luar seperti ini?” tanya Ansel mendekati Naya yang berjalan mundur ke belakang. Duk .... Tubuhnya mengenai dinding kayu tapi lebih banyak menggunakan kaca itu. Ansel mengunci tubuh Nayaa dengan tangannya di kedua sisi tubuh Naya. “Mas Ansel, aku .... Aku nggak siap,” ucap Naya terbata. Ternyata Ansel hanya mengambil kelopak bunga kering yang tersangkut di rambut Naya. “Memangnya kamu pikir aku mau ngapain?” goda Ansel. Membuat Naya memukul lengan Ansel tapi pukulannya pelan. Ansel mengaduh sakit, membuat Naya dengan sigap mengusap lengan pacarnya. Ansel terkekeh diperlakukan demikian, seperti kucing peliharaan saja menurutnya. Keduanya tertawa, tapi tanpa mereka ketahui, sepasang mata yang sejak tadi memerhatikan keduanya menggeram di luar ruangan itu. Lalu dengan cepat dia berlalu, sebelum dua orang di dalam sana menyadari keberadaannya di balik dinding kayu yang kebetulan menutupi tubuh mungil seksinya. “Aku ingin kamu balik sama aku, Ans.” Perempuan itu berlalu pergi. Masuk kembali ke kerumunan manusia yang sedang sibuk melakukan persiapan kelanjutan syuting mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN