Pria gila

1341 Kata
"Lo jadi ke Wonogiri bro?" seru Irfan yang sekarang mereka berdua berada di club malam milik Leo. Ruangan redup bernuansa lampu kelap kelip serta dentuman musik yang memeka telinga, membuat hentakan pinggul dari para pengunjung yang berkumpul di tengah-tengah ruangan begitu penuh semangat, semua itu karena iringan musik dari salah satu dj favorit mereka. "Mmm." gumam Leo tanpa menolehnya. "Oke, gue ikut ya. Boleh kan bro?" Leo tak menghiraukan ucapan dari Irfan lagi, karena dirinya sendiri begitu fokus pada satu titik yang menunjukan keberadaan istrinya. "Lo liatin apa sih?" saking penasaran dengan gelagat sahabatnya itu yang sedari tadi nampak begitu sungguh sungguh memandangi layar pada gadget nya, dia akhirnya menghampiri dan duduk di sebelahnya. "Serius amat..." kepalanya menunduk mendekati layar ponsel yang Leo genggam, matanya sampai menyipit karena tak paham dengan gambar yang di lihat oleh sahabatnya itu. "Itu apaan bro?" tanyanya lagi. "Titik." "Elaahh, gue tau kalo itu titik." Ia ikut bersandar seperti Leo lalu mengisap asap rokoknya. "Tapi kenapa sedari tadi lo liatin itu sampai segitunya, nggak copot tu mata? Kedipin dulu tu biar nggak kering bola mata lo..." Leo mendelik tak suka dengan rasa penasaran Irfan, ia langsung menutup layar ponselnya dan memasukan ke dalam saku celana kainnya. "Lo di sini aja, gue cuma sehari di sana." ujarnya tenang, kemudian membuka tutup botol bir miliknya dan menegaknya penuh haus setelah puas mendengar kabar baik dari anak buahnya yang ditugaskan memantau Cailey, hingga istrinya itu selamat sampai di kota kelahirannya. "Tapi bro, gue juga pengen ikut." "Lagian kan urusan perusahaan sudah tujuh puluh lima persen beres bro, anggap saja besok hari libur gue." tambahnya. "Up to you...." Leo kemudian beranjak dari duduknya, dirinya gegas pulang ke rumah setelah membaca pesan dari asistennya bahwa besok adalah waktu yang tepat untuknya berangkat ke Semarang. "Ck, sendiri lagi..." Irfan berdecak tak suka, di malam yang begitu ramai pengunjung club tersebut. Sekarang hanya dirinya yang duduk di sebuah ruangan VIP karena kedua temannya berada di luar kota, dan tadi yang dia pikir Leo akan menemaninya minum sampai pagi. Eh ternyata sahabatnya itu malah pulang lebih awal, tak seperti biasanya. "Bos...." masuklah salah satu bodyguard yang ia utus untuk mencari tahu keberadaan seseorang. "Gimana?" "Utusan sahabat anda tak membunuh dia bos." Irfan mengerutkan dahi penasaran, badannya duduk menegak lalu memandangi lelaki yang berpakaian serba hitam itu. "Apa kamu tau alasannya." "Saya belum mengetahui alasan mereka bos, tapi yang jelas sahabat bos sendiri yang memerintahkan anak buahnya untuk melepaskannya tanpa melukainya sama sekali." "Lalu yang lainnya?" "Semua tewas, tapi yang satu lolos." "Who is that?" tanyanya tak sabar. "Putra tunggal mereka." rahang Irfan mengeras mendengar kabar tersebut, nafasnya memburu seakan ingin menghajar siapa saja yang membuatnya tersulut api amarah. "Terima kasih, kamu boleh pergi." ujar Irfan, ia sendiri beranjak dari duduknya dan keluar dari club malam tersebut. ***** Krikk...krikkk...krikkk....krikkk... "Ngapain malam-malam begini di luar nduk, ayo masuk." Sosok wanita yang berjalan pelan sedikit membungkuk karena usianya yang tak lagi muda, mengelus puncak kepala cucunya yang sedang duduk malas-malasan di teras rumahnya. Ia memandangi Cailey yang juga menatapnya dengan senyum di wajahnya membuat hatinya menghangat karena setelah sekian lama cucunya ikut bersama lelaki yang menjadi ayah biologisnya, dan sekarang akhirnya ia bisa berkumpul kembali dengan cucu satu-satunya. "Nek..." ujarnya lirih sambil memeluk pinggangnya. "Tadi pas Vivi perjalanan pulang ke sini. Vivi melihat seorang wanita yang menangis berlarian sambil menggendong anaknya." kepalanya mendongak memandangi wajah yang sudah penuh kerutan. "Kasian nek anaknya." ujarnya penuh iba. "Memangnya kenapa mereka?" "Vivi nggak tau, tapi yang jelas bocah yang umurnya sekitar tiga sampai lima tahun itu, wajahnya penuh lebam nek." nenek terkejut mendengar itu, tangannya lalu menutup mulutnya yang menganga tak kuasa membayangkan nasib anak yang mengingatkannya pada kejadian masa kecil cucunya. "Apa anak itu selamat?" tanya nenek dengan mata berkaca-kaca. "Vivi nggak yakin nek." ujarnya menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi tadi ada seseorang yang langsung membawanya ke rumah sakit." "Syukurlah, semoga saja mereka selamat." mendengar itu Cailey langsung mengurai pelukannya di pinggang neneknya, kepalanya mendongak memandangi langit gelap yang bertaburkan kelap kelip bintang di sana. "Semoga saja begitu nek." ujarnya sambil menghela nafas panjang membuat neneknya terheran karena cucunya itu terlihat begitu malas dan tak bersemangat. "Kamu kenapa nduk?" ia menoleh saat neneknya menyentuh pundaknya, gurat wajahnya nampak khawatir terhadapnya membuat Cailey menggelengkan kepala pelan lantas tersenyum pada neneknya. "Sebenarnya yang membuat Vivi kepikiran adalah orang yang menolongnya itu salah satu anak buah pria gila nek." "Pria gila?" Cailey mengangguk lantas tertawa pelan mendengar neneknya seolah tak begitu paham dengan kata-kata yang disampaikan. "Iya nek, wong edan." nenek berkedip-kedip lucu menatap serius ke arah Cailey. "Emange wong edan iso ndwe anak buah to nduk?" akhirnya kata-kata yang membuatnya tak habis pikir pun keluar dari mulut nenek Patma. "Hahaha, bisa lah nek." "Yo ora mungkin." nenek berdecak sebal tak setuju dengan perkataan Cailey. "Kalo yang seperti itu ada. Berarti Suwarso sing omahe etan kali kae, pasti punya anak buah juga donk." ujar nenek lagi sambil menepuk pelan pundak cucunya. Cailey tergelak, tawanya begitu lepas karena neneknya itu begitu polos. "Heh, ojo ombo-ombo guyune." ujar nenek menutup mulut Cailey yang menganga karena tertawa lebarnya. "Terus di mana kamu bisa mengenal wong edan iku nduk?" "Saat Vivi pulang dari rumah bapak nek, anak buah wong edan itu menjemput Vivi di bandara." "Terus kenapa baru sekarang kamu pulang ke sini." Vivi meringis mendengar ucapan neneknya yang begitu penasaran sebelum ini dengan keberadaannya selama pulang kembali di Indonesia. "Nek..." "Dalem nduk..." "Misalkan Vivi nikah muda, apa nenek setuju?" "Yo ndak popo, umpomo ono sing gelem mbi awakmu." Vivi melongo mendengar jawaban nenek, dia tak habis pikir apakah neneknya itu sebenarnya tak memikirkan masa depannya. "Tapi kan Vivi masih muda nek." gerutunya. "Wong nenek mbiyen nikah karo kakek pas seumuranmu nduk, lebih muda darimu malah." "Nek, sekarang itu udah jaman modern nek, mana ada nikah di umur Vivi sekarang." ujar Vivi tak setuju mengingat neneknya yang memang jauh dari pemikiran logis. "Ada tuh..." "Nggak mungkin." "Ish nggak percaya sama nenek?" "Iya lah." "Kamu ingat Tono anaknya pak Nardi?" Cailey mengangguk lantas ikut berdiri menyusul neneknya yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah. "Emangnya kenapa dengan tu bocah nek?" "Wes rabi, nduwe anak siji." "HAH? MASAKK?" Cailey terkejut bukan main, ia segera menahan lengan neneknya demi memastikam pendengarannya. "Tono, bocah yang hampir hanyut di sungai itu nek?" nenek mengangguk lalu tangannya mematikan lampu penerangan di ruang tengah. "Dia harusnya kan masih sekolah nek, masa iya udah punya anak." matanya menelisik raut wajah neneknya, barang kali ia kena prank atau apalah itu namanya. Karena menurutnya, Toni yang mereka maksud adalah pemuda yang harusnya masih bersekolah karena usianya sekarang enam belas tahun. "Nenek nggak bohong kan?" "Yowes sesok moro wae ning ngomahe pak Nardi, deloken dewe yen Toni iku wes rabi teros nduwe anak siji. Anaknya cantik banget Vi, terus gimbul gitu." ujar nenek yang bersungguh sungguh dengan ucapannya sendiri. "Berarti bukan cuma aku saja donk yang nikah muda." gumamnya sendiri yang mulai percaya dengan cerita neneknya. "Ndang turu Vi, nenek besok mau ikut bu RT lamaran ke kampung sebelah." seru nenek dari dalam kamar membuat Cailey tersentak karena tiba-tiba penerangan di ruang tengah semuanya padam. "Nenek ngaggetin aja deh, kan Vivi masih di sini nek..." serunya sedikit jengkel, ia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. "Oh kamarku, meski terkadang bau tahi ayam tapi aku sangat merindukanmu..." ujar Cailey riang lalu merebahkan tubuhnya di kasur kapuk yang sudah tak empuk, tapi itu yang selalu membuat hatinya nyaman. "Tunggu...!!" seru Cailey, ia yang tadinya sudah hampir terlelap tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar. "Kalo orang yang menolong wanita itu adalah anak buahnya, berarti pria gila itu juga di sini donk?" ujarnya, ia langsung beranjak dari ranjangnya berjalan mondar-mandir kebingungan. Dahinya mengerut mencoba menebak nasibnya nanti. "Eh tapi kan belum tentu dia tau tempat tinggal nenek di sini?" "Haish, kenapa jadi pusing sendiri sih." entahlah otak Cailey rasanya berputar-putar, dia gemas hingga mengacak-ngacak rambutnya sendiri lantas membanting badannya ke kasur. "Nggak mau mikirin dia, sekarang waktunya tidur." ujarnya lalu menarik selimut tipis sampai menutupi wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN