14. Diskotik

1746 Kata
Suara musik yang begitu keras memekakkan telinga. Suara dentuman sound sistem yang begitu kuat hingga terasa masuk ke dalam d**a. Lampu yang remang-remang, suara gelegar musik memenuhi ruangan, aroma parfum yang bercampur dengan keringat dan bau alkohol, menjadi satu senyawa yang tidak bisa dihilangkan. Diskotik memang telah menjadi 'tempat rekreasi' bagi pengunjung setianya. Diskotik adalah tempat gaulnya 'aktivis' dengan gaya hidup metropolis. Dan diskotik juga tempat untuk pertemuan bisnis. "Maaf, apa Anda Tuan Brian?" tanya salah satu pelayan diskotik, menghampiri dua orang yang duduk menatap lantai dansa yang penuh. Seorang pria dan seorang wanita. "Iya!" jawab si pria. Brian. "Maaf, Tuan! Anda ditunggu Tuan saya di lantai dua. Di ruangan privat." Brian dan Siska, wanita yang duduk bersama pria itu, berpandangan. Jelas sekali mata Siska berbinar. Wanita itu berpikir, pasti Tuan yang memanggilnya itu, menginginkan dirinya, membutuhkan hangat tubuhnya. "Benarkan apa yang aku bilang, Brian!" Wanita itu tersenyum penuh kesenangan, "Tuan itu memanggil kita ke diskotik dalam hotel, karena menginginkanku. Habis ini, pasti dia langsung mengajakku ke kamar hotel." "Mbak! Please! Jangan kayak p*****r gitu!" sebal Brian. Pria itu sungguh muak mendengar pujian untuk laki-laki itu dari mulut Siska. Siska ingin membantah, tapi pelayan meminta agar mereka segera bergegas. Dan mereka menurut. Sambil jalan, pikiran Brian mengelana kepada sosok pria misterius yang memanggilnya ke sini. Insting Brian mengatakan bahwa pria itu, entah mengapa, terlihat sekilas agak menakutkan. Bukan. Bukan karena wajahnya. Kalau wajahnya sih sudah cakep tak ada tandingannya. Tapi yang jadi pikiran Brian adalah informasi tentang pria itu. Dia nggak tahu apapun tentang pria ini. Semua informasi tentangnya tertutup dan tidak dapat digali sama sekali. Apapun itu. Bahkan, ketika Brian mencari tahu tentang daftar undangan di kapal pesiar (jika ada yang lupa, bisa dibaca kembali bab satu ?), dia nggak menemukan secuil pun informasi tentang pria itu. Dia juga nggak menemukan nama yang mencurigakan. Informasi tentang satu orang ini benar-benar kosong. Sejak mereka bertemu di kapal pesiar sebulan yang lalu, pria itu tidak mau menyebutkan nama. Hanya minta nomer handphone Brian saja. Gara-gara itu, Brian yang penasaran, berusaha keras menggali informasi. Tapi gagal. "Silahkan, Tuan!" Si pelayan membukakan pintu sebuah ruangan. Brian dan Siska masuk ke dalam. Tampak kaki seorang pria yang diapit kaki-kaki panjang dan mulus milik beberapa wanita, mereka tengah duduk di kursi panjang sofa di ruangan itu. Tubuh pria serta para wanita itu berada di balik tirai. Baik Brian maupun Siska, tidak bisa melihat wajah Sang Tuan. Ketika Siska ingin mendekat, ingin ikut berbaur, Sang Tuan mencegahnya. "Berhenti, Nona!' larang Sang Tuan dari balik tirai tembus pandang. "Dari situ saja!" Walau dongkol, tapi Siska tidak dapat membantah. Dia hanya bisa berdiri di samping Brian, di depan tirai yang menjadi pembatas antara dia dan Sang Tuan. Brian tahu, Siska pasti jengkel, tapi itu lebih baik dari pada melihat wanita itu menggelendot pada Sang Tuan seperti p*****r. "Maaf, Tuan! Kalau boleh tahu, ada apa gerangan anda menghubungi saya dan memanggil kami ke sini?" tanya Brian sopan. "Saya tidak merasa memanggil kalian. Saya hanya memanggil anda, Tuan Brian! Saya tidak merasa jika saya juga memanggil Nona ini!" "b******k!" umpat Siska keras. "Mbak!" teriak Brian memperingati Siska. "Please! Tenanglah!" "Jika anda tidak berkenan, anda bisa keluar, Nona! Tidak ada yang mengharapkan anda di sini!" Skak Matt Para wanita yang menggelayut pada Tuan itu terkikik geli, mengejek. Ingin sekali Siska mencakar para w************n itu. Tapi dia nggak berani, karena masih ada Sang Tuan, wanita itu tidak berani melawan Sang Tuan. "Dimana wanitaku yang dulu, Tuan Brian?" Brian kaget mendapat pertanyaan mendadak seperti itu. "Wa- wanita?" "Iya. Wanita yang anda jual pada teman anda waktu itu. Yang ganti aku beli karena aku merasa tertarik dengannya." "Di-dia?" "Kenapa, Tuan? Apa anda menjualnya lagi?" "Tidak! Tidak Tuan!" "Lalu?" "Wanita itu sudah meninggal. Malam setelah anda b******a dengannya, wanita itu kabur dan tidak sengaja jatuh ke laut dan tenggelam." "Ah, sayang sekali. Padahal saya sangat menyukai wanita itu." "Maaf, Tuan!" kata Brian penuh penyesalan. "Saya juga tidak kalah menarik dari pada wanita itu, Tuan!" Siska mengajukan diri. "Saya lebih cantik, lebih berisi dan lebih seksi. Apakah anda tidak tertarik pada saya?" Brian yang mendengar rayuan Siska, melotot kaget. Pria itu langsung menarik tangan Siska hingga wanita itu menatapnya. "Mbak!" desisnya memelototi Siska. Tapi Siska nggak peduli. Dari awal bertemu di kapal pesiar dulu, wanita itu sudah tertarik bahkan mendamba pada Sang Tuan. Wajahnya, tubuhnya, bibirnya, Siska tertarik dengan semua yang ada pada pria itu. Dia begitu memuja pria tampan dan misterius ini. Wanita itu ingin mendapatkan pria ini. Setelah dulu dia merasa kalah pada wanita yang dia anggap sudah meninggal. Wanita yang sudah mendapatkan Sang Tuan walau dengan cara dijual. "Terima kasih, Nona! Tapi maaf, saya tidak tertarik pada anda!" jawab Sang Tuan. "Bukankah adik anda sudah memberikan kebutuhan biologis untuk anda? Kenapa anda dengan terang-terangan malah menyodorkan diri pada saya? Bukankah nanti adik anda akan kecewa?" Brian dan Siska begitu kaget atas penjelasan Sang Tuan. "Ba-bagaimana anda bisa tahu?" tanya Brian agak syok. "Tuan Brian. Jangan anda kira, hanya anda yang bisa menggali informasi tentang saya. Saya juga bisa menggali informasi tentang anda, bahkan dengan sedalam-dalamnya." Brian lagi-lagi kaget. "Dasar b******k!" umpat Siska keras. "Untuk apa anda mencari informasi segala?" Hampir saja wanita itu berlari menerjang tirai, kalau saja tidak dicegah Brian. Pria itu terkekeh. "Kenapa anda terlihat marah sekali, Nona? Bukankah itu kenyataan? Anda berdua adalah saudara, tapi kenapa anda berdua malah menyimpang dengan cara b******a?" "Tapi kami bukan saudara kandung!" bantah Siska. "Saya tahu, kalian ini adalah saudara tiri. Tapi tetap saja di mata hukum kalian salah!" Siska tertawa mengejek. "Anda? Berbicara tentang hukum? Hahaha. Anda kira, membeli seorang wanita kemudian menidurinya, tidaklah melanggar hukum?" Sang Tuan berdiri, melangkah pelan menuju tirai. Dan berdiri tenang di balik pembatas itu. "Lalu, bagaimana dengan anda sendiri? Menyiksa adik ipar anda karena dia adalah istri dari adik anda. Menyakiti tubuhnya, hanya karena dia lebih cantik dari anda. Bukankah itu termasuk dalam kategori tindak pidana?" "Tuan!" panggil Brian, mencegah Sang Tuan berbicara lebih panjang lagi, lebih tajam lagi pada Siska. "Dan anda Tuan Brian! Bukankah Anda suami dari wanita yang tenggelam itu? Kenapa anda tidak melindungi dia? Kenapa anda malah ikutan menyakitinya? Apa rasa cinta anda pada Kakak Anda begitu besar dari cinta anda pada istri anda sendiri? Kenapa anda membiarkan wanita yang lemah itu teraniaya, hanya karena rasa cemburu buta Kakak Anda?" Tanpa ampun, Sang Tuan kembali memojokkan mereka. Brian mengepalkan tangan marah. Dia nggak habis pikir, bagaimana Tuan ini tahu segalanya? Dan mengapa menggali informasi sedalam itu tentangnya. Tapi sebelum itu, siapa sebenarnya Sang Tuan ini. "Siapa anda, Tuan?" tanya Brian dingin. Sang Tuan terkekeh lagi, merasa lucu dengan pertanyaan Brian. "Saya? Saya hanya orang biasa yang sekedar lewat saja dan tertarik dengan wanita yang anda jual." "Jika hanya tertarik, kenapa anda mencari begitu banyak informasi tentang wanita yang sudah meninggal itu? "Itulah bahayanya dari kata 'tertarik', Tuan!" jawab Sang Tuan ambigu, penuh misteri. "Sekali anda 'tertarik' maka anda akan sulit lepas dari ketertarikan itu." "Tidak mungkin!" bantah Brian. "Anda hanya b******a dengannya dalam semalam. Bagaimana mungkin anda bisa tertarik sedalam itu?" Laki-laki ini mulai curiga. "Apa anda tidak mengenali istri anda sendiri, Tuan Brian?" Pertanyaan macam apa ini? batin Brian. "Anda yang sudah hidup bertahun-tahun bersamanya, masih tidak bisa mengenali istri anda sendiri yang seperti berlian, Tuan?" tandas pria misterius itu. Sang Tuan mulai menyikap tirai yang sedari tadi menghalangi. Kemudian maju selangkah. "Wanita mana, selain istri anda, yang tahan jika suaminya lebih memilih kakaknya sendiri dari pada dirinya?" Maju dua langkah. "Wanita mana yang mau bertahan selama itu dalam pernikahan yang penuh dengan penyiksaan?" Tiga langkah. "Wanita mana yang bisa mengorbankan tubuhnya untuk disakiti, hanya demi kecemburuan yang tak berotak dari kakak iparnya?" Empat langkah. "Dan wanita mana yang mau dijual oleh suaminya sendiri karena judi gilanya?" Lima langkah dan berhenti tepat di depan Brian. Brian kaget. Begitupun juga dengan Siska. Bagaimana pria ini bisa tahu semuanya? Itulah yang pertanyaan yang berputar-putar dibenak Brian. Jika Brian kaget dengan semua yang diketahui pria ini, Siska malah kaget dengan penampilan Sang Tuan. Penampilannya begitu berbeda dengan ketika mereka bertemu di kapal. Di kapal, Sang Tuan yang hanya memakai celana selutut dengan kemeja yang terbuka kancingnya, yang memperlihatkan perut sixpacknya, terlihat begitu macho dan seksi. Tapi di saat ini, di ruangan ini, Sang Tuan memakai setelan jas yang elegan, terlihat begitu gagah, dingin, tampan, dewasa tapi juga misterius. Siska, untuk kedua kalinya, setelah dari kapal, terpesona lagi dengan ketampanan Sang Tuan. "Saya, yang seperti Anda bilang, yang hanya b******a dengannya cuma semalam saja bisa mengenali mutiara seperti itu. Mengapa anda yang sudah bertahun-tahun hidup bersama tapi tidak bisa mengenali?" Sang Tuan terus saja memprovokasi. "Apa anda buta, Tuan Brian?" "Apa maksud anda berkata seperti itu?" "Saya tidak perlu menjelaskannya. Tapi, melihat anda yang begitu mencintai kakak anda dibandingkan istri anda sendiri, saya sudah tahu jawabannya. Bahwa anda memanglah buta!" "Kau!" pekik Brian, pria itu sudah tidak sudi memanggil dengan panggilan hormat. "Brian! Jangan!" Siska segera memeluk Brian yang tiba-tiba ingin menyerang Tuan itu. "Tidak perlu emosi, Tuan Brian!" Sang Tuan tertawa. "Saya hanya menyampaikan pendapat saya saja. Toh, setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi!" "Kenapa?" tanya Siska yang tidak terima, karena tidak bisa bertemu pujaannya. "Karena yang saya butuhkan adalah wanita itu! Tapi, bukankah kata anda, dia sudah meninggal? Jadi kita tidak ada urusan lagi." "Tapi ... " "Pelayan!" Protes Siska terputus gara-gara Sang Tuan memanggil pelayan yang menjemput dua orang itu tadi. "Tolong antarkan Tuan dan Nona ini kembali ke tempatnya! Jangan lupa, berikan semua bill yang mereka minum pada saya. Biar saya yang membayarnya." Geram, Brian langsung keluar dari ruang itu dengan menyeret paksa Siska. Dia bahkan tidak mau repot-repot untuk berpamitan. "Sekretaris Han!" panggil Sang Tuan, ketika Brian dan Siska sudah keluar. Seorang laki-laki dengan wajah dingin keluar dari balik tirai, menghadap Sang Tuan. "Iya, Tuan Saka!" "Tolong tetap awasi mereka!" titahnya "Baik, Tuan!" Sekertaris Han menunduk hormat lalu undur diri. Sang Tuan, yang tak lain dan tak bukan adalah Saka, salah satu dari para pangeran lele dan bos dari warung pangeran, kembali duduk di kursi sofa sendiri. Ternyata, ketika Saka mulai mendatangi Brian tadi, sekretaris Han dengan sigap menyuruh para wanita bayaran untuk keluar dari ruangan lewat pintu belakang. Dikeluarkannya handphone Saka dan dihidupkan. Tampak foto Lala yang tersenyum manis di wallpaper HP-nya. Diusapnya penuh perasaan foto wallpaper itu. Ada rasa sayang, rindu, kasihan, yang bersamaan menjejali hati Saka. Pria itu mencium foto Lala di HP-nya. "Kak!" desisnya, "Bertahanlah dan tunggu sebentar lagi. Aku janji, setelah ini, kakak akan bebas dan selalu bahagia. Aku janji!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN