26. Perpisahan

2098 Kata
Malam merayap ke pekat paling gelap. Suara jangkrik dan gesekan angin membelai dedaunan, terdengar seperti alunan melodi yang mengalun indah yang menenangkan. Di dalam gelapnya kamar, seorang anak kecil duduk di atas ranjang. Dia hanya diam menatap keluar lewat jendela, menatap kosong pada halaman yang sama gelapnya dengan kamarnya. Sama seperti pandangannya, pikirannya pun kosong. Bocah itu hanya menatap tanpa ada pikiran apapun. Dia hanya diam dalam keheningan. Angin malam yang berhembus dari luar melewati jendela yang terbuka, membelai lembut wajah anak laki-laki itu. Tok! Tok! Tok! Suara pintu diketuk membuatnya menoleh. Matanya langsung menangkap selarik senyum seorang gadis yang berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. "Kok belum tidur?" Si Gadis melangkah memasuki kamar Si Bocah. Bocah kecil itu hanya menggeleng. "Kenapa?" tanyanya ketika sampai di ranjang Si Bocah dan duduk di tepiannya. "Belum ngantuk, Kak." Lala, gadis manis yang selalu penuh kehangatan itu, mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Kamar yang lumayan luas, yang muat di tempati 3 ranjang bertingkat dan 2 lemari kayu lumayan besar. Kamar ini dihuni enam orang anak kecil laki-laki seperti bocah ini. Anak-anak yatim piatu atau anak-anak yang ditinggal oleh orang tua mereka sendiri. "Mau Kakak temani?" Bocah laki-laki yang belum tidur sendirian sekamar itu, mengangguk mau. "Sini!" Lala menepuk pahanya, mengisyaratkan si bocah agar tiduran di pangkuannya. Anak itu hanya diam. Ragu. Melihat itu, Lala merasa gemas. Anak satu ini memang berbeda dengan anak-anak panti yang lain. Jika anak-anak lain seusianya ingin selalu diperhatikan dan dimanja, tapi anak ini begitu pemalu dan agak jaim. Butuh waktu dan perjuangan untuk mendekati anak kurus ini. Watak diam dan irit bicaranya, membuat Lala suka sekali menggodanya. Ditariknya tangan Si Bocah, sedikit memaksanya agar mau tiduran di pangkuannya. "Udah, nggak papa! Begini saja!" Laura menekan kepala anak pemalu itu ketika kepalanya mau diangkatnya lagi dari pangkuan. "Malu, Kak!" Tawa Lala berderai. Heran dia. Anak kemaren sore, yang umurnya bahkan baru sepuluh tahun, udah malu tiduran dipangkuan seorang gadis yang seperti Kakaknya sendiri. Saking gemasnya, Lala sampai mencubit pipi Si Bocah agak keras. "Aduh! Sakit, Kak!" Dielusnya pipi bekas cubitan Lala. "Habis, kamu gemesin sih!" "Aku kan bukan boneka, Kak!" "Iya, tentu saja bukan. Kalau kamu boneka nanti malah Kakak cubitin dan kelonin terus waktu tidur." Lagi-lagi Lala tertawa. Mendengar kalimat Lala yang agak v****r, pipi bocah itu agak bersemu merah. Padahal maksud Lala itu memang boneka beneran. "Kenapa, Kak?" "Apanya yang kenapa?" "Seandainya aku beneran boneka, kenapa Kakak ingin nyubitin aku dan kelonin aku?" "Menurutmu kenapa?" Goda Lala. "Karena aku ganteng, lucu dan gemesin." Kini tawa Lala malah menyembur keluar. Kaget plus lucu mendengar jawaban bocah itu. "Tumben kamu mau balas candaan Kakak. Biasanya setiap Kakak goda, pasti balasanmu, kalau nggak senyum ya cuma ngangguk doang." Dan Si bocah pendiam pun kembali ke mode asal. Ditanya seperti itu jawabannya kembali hanya senyum saja. "Jabrik!" panggil Lala lembut setelah tawanya mereda. Mengelus kepala Jabrik yang tiduran di atas pangkuannya. "Seumpama Kakak pergi dan tidak di panti lagi bagaimana?" Anak yang dipanggil Jabrik itu menatap Lala heran dan penuh tanda tanya. "Maksud Kakak, suatu hari nanti, kalau seumpama keadaan memaksa Kakak untuk pergi dari panti, kamu jaga diri baik-baik ya. Kalau di bully lagi itu melawan. Jangan diam saja." pesan Lala. "Kenapa?" tanya Si Jabrik agak tercekat. Entah mengapa kata-kata Lala terdengar seperti kalimat perpisahan bagi bocah itu. "Apanya yang 'kenapa'?" "Kenapa Kakak pergi?" Lala menghembuskan nafas panjang. Dia tahu pertanyaan itu lebih ke penolakan yang menuntut dari pada sebuah pertanyaan 'kenapa'. Lala paham mungkin bocah ini keberatan jika seumpama Lala harus pergi dari sini. Secara, hanya dialah tempat bocah ini bergantung. Dibelainya kepala Si Jabrik lembut. "Suatu hari nanti, semua anak di panti, pasti pergi. Entah itu Kakak, teman-teman Kakak, atau anak-anak panti lain. Bahkan kamu. Suatu hari nanti, kamu juga pasti akan pergi dari panti." "Aku tidak mau pergi." "Jabrik! Suatu hari nanti, pasti ada sesuatu yang memang mengharuskanmu pergi. Entah itu dari dirimu sendiri, atau dari orang lain." "Apakah seperti Kakak sekarang ini? Apa Kakak sedang berpamitan padaku saat ini?" Sedikit tersentak Lala mendengar pertanyaan Jabrik. Anak kecil itu ternyata bisa menangkap maksud dari kata-kata Lala. "Mungkin." "Kakak mau kemana?" "Entah." Lala tertawa sumbang. Jabrik diam. Entah darimana tiba-tiba satu pemahaman muncul dibenaknya. Bahwa Lala, kakak yang begitu disayanginya, sekaligus cinta pertamanya, akan pergi dan hilang. Dan dia bahkan tidak akan tahu rimbanya. "Jika nanti aku sudah besar, bolehkah aku mencari Kakak?" Lala membelalakkan mata kaget. Sungguh, dia benar-benar terkejut dengan pertanyaan bocah ini. Bocah kecil seusia itu, bagaimana bisa menalar jauh hingga seperti itu. Lala tersenyum, "Boleh. Tapi beritahu dulu, siapa nama aslimu!" godanya. Bocah itu diam. "Hei, itu tidak adil." protes Lala. "Sejak pertama kali datang ke panti, kenapa kamu nggak pernah bilang siapa namamu sebenarnya?" Jabrik masih bungkam. "Apa nama aslimu jelek?" "Tidak juga." "Lalu kenapa nggak bilang siapa namamu? Masak iya, kamu mau dipanggil Jabrik terus gara-gara rambutmu yang jabrik?" "Nggak masalah orang mau memanggilku apa dan bagaimana. Aku nggak terlalu peduli." Lala melongo mendengar jawaban bocah sekecil itu. Dia jadi ragu, apa anak yang tiduran dipangkuannya ini benar-benar anak berusia sepuluh tahun? "Untuk saat ini, Kakak nggak perlu tahu namaku." Dipandanginya mata Lala denga dalam. "Jika Kakak mau pergi dan menghilang, percayalah! Ketika besar nanti aku akan mencari Kakak dan menemukan Kakak!" Hati Lala menghangat mendengar janji bocah ini. Ada sesuatu yang mengalir di hatinya, sesuatu yang lembut dan hangat. Membuat hatinya terenyuh dan begitu senang. Si jabrik memandang keluar jendela. Dari tempat rebahannya, di atas pangkuan Lala, bocah berkulit sawo matang itu memandang langit bertabur bintang. "Kak!" "Hemmm." "Bisakah Kakak melihat bintang yang paling terang di atas sana!" Lala mengikuti arah pandang bocah itu. "Ya, Kakak lihat." "Jika nanti aku kangen Kakak, maka akan aku pandangi bintang yang paling terang itu. Karena bagiku, bintang paling terang itu adalah Kakak." ######### Di pagi hari yang masih buta. Bahkan sinar matahari masih enggan menampakkan cahaya hangatnya. Udara yang masih dingin dengan kabut yang masih pekat. Di pagi yang seharusnya masih sunyi senyap, berubah menjadi kericuhan dan kegemparan. Di dalam panti terdengar berbagai teriakan dan permohonan. "LEPASKAN AYAH! LEPASKAN!" Jabrik yang baru bangun, kaget mendengar suara teriakan Lala. Segera dia mencari asal suara teriakan itu. Bocah itu berlari dengan tergesa menuju halaman depan panti. Di mana sudah banyak orang yang berkumpul di halaman depan. Ada beberapa yang seusia Lala. Ada juga yang di atasnya. Mereka semua tampak menangis. Bahkan bunda Lisa, pemilik panti, juga berada di sana, terduduk di halaman sambil menangis tersedu-sedu didampingi beberapa anak panti di dekatnya. Dan ketika matanya menangkap sosok Lala yang ditarik paksa oleh seorang laki-laki tua, hatinya mencelos. Dadanya bergemuruh dengan amarah yang memuncak. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari ke arah Lala. Menerjang dan menarik tangan laki-laki tua itu yang berani menyeret Lala, serta langsung menggigitnya dengan kuat. Laki-laki tua itu menjerit hebat dan dengan spontan langsung menampar Jabrik keras hingga anak itu jatuh tersungkur. Semua yang menyaksikan itu, menjerit kaget. Dan ketika laki-laki tua itu akan memukul jabrik lagi, Lala langsung duduk, memeluk bocah itu, melindunginya. "SUDAH AYAH! CUKUP!" teriak Lala histeris. "DIA HANYA ANAK-ANAK, KENAPA AYAH TEGA MEMUKULNYA?" Mendengar Lala malah membela bocah yang sudah mengigit tangannya, amarah laki-laki tua itu kembali tersulut. "DASAR ANAK KURANG AJAAARRR! BERANI KAMU!" Hampir saja tangan laki-laki tua itu memukul Jabrik lagi, tapi terhenti ketika mendengar teriakan Lala untuk kesekian kalinya. "SUDAH AYAH! SUDAH!" Teriak Lala lalu sedetik kemudian suaranya melemah. "Sudah! aku mohon! Cukup ayah! Cukup!" Lala menagis tersedu memeluk Si Jabrik. "Jangan memukulnya lagi, Ayah! Dia hanya anak-anak. Tolong jangan pukul dia lagi." Lala semakin terbata dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku akan ikut ayah! Sekarang juga aku akan ikut ayah dan nurut sama ayah. Aku janji. Tapi aku mohon, jangan memukulnya lagi. Aku mohon, Ayah!" Jabrik hanya diam dalam pelukan Lala. Bukan. Dia diam bukan karena takut pada lelaki tua itu. Amarah dalam dadanya masih berkobar, membara. Tak hanya mengigit, jika bisa bocah itu ingin sekali memukul lelaki tua itu yang telah berani menyakiti Lala. Menyakiti kakak tercintanya. Lala menangkup pipi Jabrik dengan kedua tangannya, menyalurkan ketenangan melalui kedua telapak tangannya. Lala memandang mata Jabrik. Masih terlihat jelas kilat amarah yang berpendar pada mata hitam itu. Rahang bocah itupun juga keras. Giginya bergemelutuk karena menahan emosi yang begitu besar. "Jabrik!" panggil Lala lembut. Bocah itu masih fokus menatap lelaki tua jahat itu penuh benci. Panggilan Lala seperti hanya angin lewat di telinga Jabrik. Dia sama sekali tidak memperhatikan Lala yang ingin mengalihkan fokusnya. Lala yang mengerti akan kondisi bocah dalam dekapannya ini, mencubit hidung Jabrik lembut. Kaget atas cubitan Lala, Jabrikpun langsung menatap Kakak tersayangnya. "Hei, Kakak memanggilmu. Mengapa kamu mengabaikan Kakak?" Lala berusaha mengontrol dirinya sendiri. Antara sedih dan takut. Tangis yang sempat histeris tadi, dia hentikan dengan sekuat tenaga. Jangan sampai yang lain ikut terluka karenanya. Kini mata bocah itu, baru bisa fokus pada Lala. Ada sisa-sisa air mata yang masih terlihat di sekitaran mata dan pipi Kakaknya. Ingin sekali bocah itu mengusap sisa air mata itu. Tapi ditahannya. "Boleh Kakak bertanya sesuatu?" Si bocah hanya diam dan masih menatap dalam Lala. Mata bocah itu mulai mengembun. Entahlah, dia merasa ini adalah detik-detik perpisahan untuk mereka. "Apa Jabrik sayang Kakak?" Bocah itu masih diam. Ada rasa takut menjawab pertanyaan Lala. "Tidak?" Masih tidak ada jawaban. "Benarkah? Jabrik tidak sayang Kakak?" Ada nada kecewa dalam pertanyaan Lala. "Sayang. Aku sayang Kakak." jawab Jabrik. "Aku sungguh sayang Kakak!" Air mata Lala kembali menetes mendengar jawaban bocah yang begitu disayanginya seperti adeknya sendiri itu. Amarah yang membara dan meluap bocah itupun mulai luruh melihat tangis Lala. Jabrik mengangguk dan mengucapkan kata sayang lagi pada gadis itu. Dilihatnya air mata Lala semakin deras di pipi. Entah mengapa melihat itu, d**a Jabrik begitu terasa sesak. Matanya mulai berkaca-kaca. Lala menarik tubuh Jabrik dalam dekapannya lagi. Tangisnya kembali pecah, begitu pula Jabrik. "Jaga diri baik-baik!" nasihat Lala di sela-sela isak tangisnya. "Ingat! Apapun yang terjadi jangan malu! Hadapilah dengan berani. Karena kamu adalah adek terbaik Kakak. Kamu adalah adek kesayangan Kakak. Mengerti?" Jabrik mengangguk dalam pelukan Lala. Bocah itu masih menangis sesenggukan. Seakan mengerti, bahwa perpisahan sudah di depan mata. "Jika ada yang mengganggumu, jangan diam saja. Lawan jika kamu memang benar." Bocah itu kembali mengangguk. Lala melepas pelukan dan mengusap air mata Jabrik. "Jangan lupakan, Kakak!" pintanya. "Jabrik sayang Kakak, kan?" Bocah itu masih hanya mengangguk dan malah menunduk. "Kok cuma ngangguk? Jawab dong!" Lala memaksakan diri untuk tersenyum. "Iya, aku sayang Kak Lala." "Pinter!" Lala berdiri, mengusap kepala Jabrik dan berbalik. Baru satu langkah, kaki Lala terhenti lagi. Dibalikkannya lagi tubuhnya menghadap Jabrik. Ternyata bocah itu menangkap tangannya dan mencekeramnya begitu kuat. Takut kehilangan. Anak itu enggan melepas Lala. Dipeluknya lagi Jabrik kecilnya. Anak sepuluh tahun itu kini baru mau membalas pelukan Lala. Di dekapnya pinggang Lala erat. Sangat erat seolah tak mau kehilangan. "Jangan pergi!" pinta bocah itu. "Jangan pergi, Kak! Kumohon jangan pergi!" Walaupun semalam Jabrik seakan sudah rela ketika Lala berpamitan, tapi ketika dihadapkan dengan perpisahan seperti ini, dia merasa tidak terima dan tidak rela. Dia menangis sesenggukan dalam dekapan Lala. Begitu pula dengan orang-orang disekelilingnya. Mereka semua juga menangis semakin kuat dan semakin menjadi-jadi. Anak-anak panti bahkan menirukan kata-kata Jabrik. Bunda Lisa dan semua kakak-kakak panti lainnya juga menangis semakin sesenggukan. Kata-kata Jabrik seperti mewakili perasaan mereka semua. Kesemuanya tak mau kehilangan Lala. Lala melepaskan tangan Jabrik dengan paksa. Tak kuat lagi dia menyaksikan kesedihan mereka. Bunda Lisa, teman-teman dan semua anak panti yang selalu menemaninya di kala sedih dan senang. Di kala dia bahkan di buang oleh keluarganya sendiri. Sungguh, Lala tidak tega melihat mereka semua. Sedikit berlari, gadis itu segera memasuki mobil yang dibawa ayahnya dan menguncinya. Jabrik mengejar dan menggedor-gedor jendela mobil. "Jangan pergi, Kak! Kumohon jangan pergi! Jangan tinggalin aku sendiri, Kak. Kumohon!" Jabrik terus menangis histeris, berteriak memohon dan memukul-mukul jendela mobil. Lala membekap mulutnya sendiri. Sungguh, ingin sekali gadis itu membuka pintu mobil dan menghambur memeluk jabrik lagi. Memeluk semua anak panti. Tapi tidak bisa. Dia tidak punya pilihan itu. Dia tidak kuasa. Ketika mobil mulai berjalan, Jabrik berlari mengejar mobil yang membawa Lala. Bahkan anak-anak panti lainnya pun juga ikut mengejar mobil sedan hitam itu sambil terus menerus memanggil-manggil nama Lala. Jabrik terus mengejar dan mengejar. Tak peduli entah sudah sejauh mana, kaki kecil itu terus saja melangkah mengejar mobil. Tak peduli seberapa pekatnya debu berhamburan yang ditinggalkan roda mobil. Dia terus saja berlari dan berlari memanggil nama Lala. "Kaakkk!" Teriaknya. "Kakak! KAK LALA ...!" Dan usaha itu berhenti ketika kakinya sudah gemetar kelelahan dan ambruk ke tanah. "Kak! Jangan tinggalin aku kak!" Desisnya di sela isakan. "Jangan tinggalin aku, Kak! Kumohon! Jangan tinggalin aku. Huhuhuhuhu!" Anak kecil itupun terisak-isak di jalanan yang sepi. Sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN