16. Bunga, untuk Kakak!

2378 Kata
"Gimana ini?" Tanya Danu, berbisik pada Candra yang duduk di sebelahnya. Pagi ini mereka naik mobil Van, pulang kembali ke rumah huni. "Mana gua tahu?" Jawab Candra. "Gimana, Cil?" Cowok itu ganti bertanya pada Fikri yang duduk di sebelahnya. Mereka bertiga duduk di jok mobil bagian belakang, dengan posisi berjejer tiga, Danu Candra dan Fikri. "Apa perlu gua cium aja, biar Mbak Lala bisa tersenyum lagi?" Bletak! Satu pukulan tepat sasaran bersarang di kepala cowok yang paling muda itu. "Kalau lo mau gua geplak lagi, coba aja bilang kayak gitu lagi! Bukan cuma gua geplak, gua habisin lo!" ancam Candra pada Fikri yang mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit. Candra bener-bener kuat mukulnya. "Jahat lo emang!" "Bodo amat!" Lala yang biasanya tersenyum melihat pertengkaran Candra dan Fikri, hari ini cuma diam saja. Gadis itu sejak semalam, setelah insiden di lobi hotel, terlihat murung. Gadis itu, sejak naik mobil di kursi penumpang, di sebelah Saka yang menyetir, belum bicara sama sekali sepatah katapun. Gadis itu hanya duduk diam memandang keluar jendela. Dia seakan tidak terusik dengan kegaduhan para berandal di jok belakang. Saka hanya melirik Lala di sebelahnya. Dia tahu, apa penyebab dari keresahan hati gadis itu. Dia juga agak bingung, bagaimana cara agar gadis cantik itu kembali seperti biasa. Tersenyum cerah dengan keceriaannya. Cowok itu merasa bersalah karena dia merasa, dia juga ikut andil dalam kesedihan yang di rasakan Lala. "Hubungi Tuan Brian!" perintah Saka pada sekertaris Handoko. "Bilang padanya untuk menemui ku di hotel King, di tepi laut!" "Baik, Tuan!" Memang, Saka-lah yang mengundang Brian untuk datang ke diskotik hotel tadi malam. Hotel yang sama dengan tempat mereka menginap. Tapi dia tidak mengundang kakaknya Brian, Siska. Cowok itu tahu, kalau wanita itu menyukainya. Jelas sekali terlihat di matanya. Cuma, Saka tak habis pikir, bagaimana wanita itu tahu dan malah ikut menemuinya. Okelah mungkin Brian yang memberitahu, tapi kenapa juga dia harus mengajaknya. Itulah yang agak di sesali Saka. Karena cowok itu sangat tahu, bagaimana menakutkannya wanita itu. Saka mengundang Brian, mengajaknya bertemu, sebenarnya dia hanya ingin tahu bagaimana kabar wanita yang ditolongnya dulu di kapal pesiar. Bagaimana bisa, wanita itu tiba-tiba muncul di warung, dihadapannya dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Bahkan dalam jarak tidak lama setelah percintaan panas mereka di kapal. Ya, wanita bergaun merah dan gadis lusuh, memanglah wanita yang sama. Laura, dengan nama lain Lala. Saka benar-benar penasaran, apa yang sudah terjadi ketika Laura atau Lala, keluar dan kabur dari dalam bilik percintaan mereka. Mengapa tiba-tiba saja wanita itu hilang, tak terlihat batang hidungnya. Bahkan keesokan harinya, Brian dan Siska juga sudah tidak berada di kapal. Ketika Saka bertanya pada salah satu petugas kapal, katanya mereka berdua kembali ke pantai duluan dengan memakai sekoci, diantar salah satu petugas kapal Dan siapa sangka, ketika Saka mengundangnya semalam dan bertanya perihal tentang Lala, jawaban Brian sungguh mengejutkan dan mencengangkan. Lala jatuh ke dalam laut, tenggelam dan meninggal. Padahal gadis itu sedang bersama Saka dengan keadaan sehat wal afiat. Satu pertanyaan muncul di benak Saka. Apa Lala kabur, melarikan diri dari suami dan kakak iparnya? Dengan cara menjeburkan diri ke laut? Apa Lala sehandal itu berenangnya? Lagi-lagi cowok itu melirik Lala yang masih membisu. Dia benar-benar ingin bertanya kronologisnya. Rasa penasaran, tapi terselip rasa senang juga menyelimuti hatinya. Rasa senang karena, akhirnya dia mempunyai alasan untuk memperjuangkan cintanya pada Lala. Tapi cowok itu juga merasa bersalah banget pada gadis itu. Diingatnya lagi kejadian yang menimpanya di lobi hotel. Hanya sekilas padahal, hanya di tabrak Siska dan mendengar suara suaminya, walau mereka tidak mengenali Lala karena Lala menunduk dalam dan diam, tapi sungguh berdampak buruk bagi mental Lala. Sungguh, insiden semalam itu bukanlah termasuk dalam rencananya. Dia juga tidak ingin Lala sampai bertemu lagi dengan Brian, suaminya atau mantan suaminya. Terlebih lagi bertemu dengan Siska. Cowok itu tahu, seberapa takutnya Lala dengan wanita itu. Dia bahkan sampai syok dan murung sepanjang hari. Saka juga meyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menolong Lala waktu itu. Memang sih, ada Danu Candra dan Fikri. Tapi tetap saja tidak seperti dia sendiri yang menolongnya. Saka merasa seperti pengecut, hanya gara-gara takut Brian dan Siska mengenalinya, dia menelantarkan gadis yang dicintainya, dengan alasan masih membayar administrasi di resepsionis. Padahal cowok itu mengawasi semuanya dalam diam. Sekilas, Saka seperti melihat sebuah tempat rekreasi berupa taman bunga. Saka tanpa pikir panjang, langsung membelokkan mobil ke tempat itu. Tentu saja semua kaget. Karena Saka tadi sempat bilang gini, 'karena Kak Lala sepertinya udah nggak ada semangat, maka kita akan langsung pulang.' Mengingat itu, ketiga trio menatap Saka gemas. Sejak kapan nih bos suka bunga? Ketiga-tiganya hanya bisa membatin. Saka turun dari mobil, diikuti semua anak buahnya. "Ngapain kita ke taman bunga?" tanya Candra tak mengerti. "Taman Bunga Hati. Tunjukkan lah warna hatimu dengan simbol bunga!" Saka membaca keras-keras plang yang terdapat di gerbang depan taman. Lalu menatap ketiga sahabatnya bergantian, seperti memberikan ide untuk mereka tanpa harus bicara. Dan mereka langsung tanggap. "AYO KITA MASUUUKKK!" Teriak Fikri semangat. "AYOOO!" Balas Saka Danu dan Candra. Lala yang tidak mengerti kenapa para cowok itu tiba-tiba saja berubah bersemangat, hanya mengikuti langkah mereka. Mereka masuk bersama-sama setelah Saka membayar tiket masuknya. Ketika sampai di dalam, Lala malah dibuat bingung dengan tingkah keempat cowok itu. Tiba-tiba saja mereka, tanpa aba-aba, langsung berpencar sendiri-sendiri. Lala yang tak mengertipun hanya bisa melihat mereka berjalan ke berbagai sudut sesuka mereka. Akhirnya gadis itu pun berjalan sendirian mengelilingi taman bunga. Taman ini begitu sangat luas. Dan ada berbagai macam bunga beserta warnanya. Terlihat sepanjang mata memandang, bunga-bunga cantik dan penuh warna-warni menghiasi taman ini. Begitu indah dan menenangkan. Mereka, bunga-bunga itu, seperti ditanam secara berkelompok sesuai jenis dan warnanya. Lala duduk berjongkok ketika melihat bunga mawar warna biru. Konon, mawar biru adalah bunga yang agak langka dan bunga dengan warna yang tidak biasa. Bunga mawar biru biasanya merupakan mawar jenis hudrangea blue dan blue irise. Bunga mawar ini mempunyai tiga arti. Satu, unik dan langka. Dua, kepercayaan, komitmen dan komunikasi positif. Tiga, ketegasan. "Mbak!" panggil Candra. Lala mendongak melihat sang pemanggil, lalu berdiri agar bisa sejajar dengan Candra, walau tetap saja lebih tinggi dia. Dilihatnya cowok itu seperti menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. "Ada apa, Can?" tanya Lala. "Ini, untuk Mbak Lala!" Candra mengulurkan setangkai bunga mawar merah muda pada Lala. "Untuk Mbak Lala, gadis yang lembut tapi juga kuat. Gua harap setelah ini, Mbak Lala jangan bersedih lagi!" ucap Candra tulus. Lala menerima bunga pemberian Candra. "Terima kasih ya, Can!" Dan tersenyum manis. Candra mengulurkan tangan, membenarkan anak-anak rambut Lala yang berantakan karena tersapu angin di taman. Lala agak kaget dengan gerakan impulsif Candra. "Andaikan gua bukan playboy, apa Mbak Lala mau menerima cinta gua dan jadi pacar gua?" "Ha?" Candra terkekeh melihat kebingungan Lala. "Hahaha. Jangan dipikirkan ucapanku tadi, Mbak! Anggap aja kayak angin lewat!" Cowok itu menarik tangannya dari rambut Lala, kemudian mengarah ke kepalanya sendiri. Garuk-garuk tak jelas, alias salah tingkah. "Oke! Kalau gitu aku pergi dulu ya, Mbak! Bye! Love you! Muach!" Lala sungguh heran melihat tingkah cowok itu. Candra, si master fackboy salah tingkah? Si bocah tukang godain cewek, itu bisa salah tingkah juga? Lala tertawa dalam hati, lucu melihat sisi lain dari Candra. "Mbak Lala!" Kini ganti Fikri yang mendatangi Lala. Cowok imut itu langsung mengulurkan bunga Lily warna kuning pada gadis itu. "Untuk Mbak Lala gua yang cantik, imut dan kuat! Lebih cantik dan imut dari bunga Lily kuning ini!" Katanya menggombal. Lala menerima bunga pemberian Fikri dengan alis terangkat. Gombalannya bener-bener sangat receh. "Gua yakin, Mbak Lala adalah cewek yang kuat dan ceria. Jadi gua harap, habis ini Mbak Lala jangan murung lagi. Aku jadi ikut sedih!" Lala tersenyum, bocah ini, dari awal bertemu memanglah yang paling manja. Tapi Lala nggak pernah keberatan dengan semua tingkah manja dan konyol cowok ganteng satu ini. Diusapnya kepala Fikri dengan lembut dan penuh sayang. "Makasih ya adek manis!" "Kalau pacar manis aja, gimana?" Lala tergelak, "nggak boleh sayang, kamu kan masih kecil!" Fikri menampakkan raut kecewa dan sedih. Tapi di mata Lala itu malah terlihat sungguh lucu. "Ya udah dech! Aku mau nyusul Candra saja. Cintaku ditolak sama Mbak Lala." katanya pura-pura ngambek. Dengan langkah gontai, Fikri berbalik dan meninggalkan Lala. Gadis itu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan cowok termuda dan terimut itu. Dilihatnya dua tangkai bunga yang dipegangnya. Kini Lala mulai paham maksud dari Saka mampir ke taman bunga ini. Tak lain dan tak bukan adalah untuk menghiburnya. Prianitu hanya ingin agar Lala bisa tersenyum lagi, agar Lala bisa ceria lagi. Dan itu berhasil. "Mbak Lala!" Teriak Danu sedikit berlari menuju ke tempat Lala. Lala yang hampir duduk di kursi istrirahat taman berhenti dan berbalik. Dilihatnya Danu berlarian sambil membawa setangkai bunga juga. "Dari tadi aku nyariin Mbak Lala, ternyata Mbak di sini!" katanya dengan napas ngos-ngosan ketika sampai di depan Lala. Danu melihat dua tangkai bunga berbeda jenis dan warna yang dipegang Lala. "Yah, aku telat dech." desahnya agak kecewa pada diri sendiri. "Telat apa?" tanya Lala. "Tuh!" Danu mengendikkan dagu ke arah dua tangkai bunga yang dipegang Lala. Lala menatap bunga di tangannya. "Oh, ini!" Lalu menatap Danu kembali. "Kata siapa telat? Tak ada kata telat untuk mengutarakan perasaan untuk seseorang yang dekat kan?" Lala tersenyum manis. Deg! Untuk seseorang yang dekat. Batin Danu berbunga. Apa Mbak Lala menganggapku sedekat itu? Danu membuat persepsi sendiri Padahal yang dimaksud Lala adalah dekat karena mereka satu rumah dan satu kerjaan. Dengan agak tersipu malu, Danu mengeluarkan bunga yang di bawanya. Bunga Kamboja dengan kombinasi warna kuning di tengah dan warna putih di setiap ujung kelopaknya. Bunga itu tidak langsung di berikan pada Lala tapi dipatahkan dulu tangkainya, di buang. Cowok itu hanya mengambil bunganya saja. Danu melangkah lebih dekat lagi pada Lala, hanya menyisakan jarak satu langkah saja. Lala merasa Danu terlalu dekat, tapi nggak enak jika menegurnya. Feeling Lala berkata, seperti dua bocah tadi, sepertinya bocah satu ini juga lagi menciptakan suasana romantis. "Bolehkah mbak?" Tanya Danu. Lala yang nggak paham maksud dari pertanyaan Danu, hanya menatap Danu dengan alis bertaut. Tangan Danu terulur ke arah samping Lala, merapikan rambutnya yang berjuntai ke depan karena terbawa angin, disapunya dengan jari ke belakang telinga. Lala sungguh kaget dengan sentuhan Danu yang ini. Apalagi setelah itu, Danu menyematkan bunga Kamboja di telinganya. Danu mundur dua langkah, agar bisa menatap Lala dengan penuh. Melihat penampilan Lala dengan bunga yang tersemat di telinganya. "Cantik!" puji cowok itu puas. "Mbak Lala sungguh sangat cantik, apalagi jika tertawa ceria dan tersenyum. Jadi aku harap setelah ini, Mbak lal jangan lesu lagi. Jangan patah semangat lagi. Mbak Lala pantas mendapatkan yang terbaik." Setelah berkata seperti itu, secara mengejutkan, Danu meraih tangan Lala kemudian mengecupnya. "Untuk gadis yang paling cantik di rumah huni!" rayu Danu. Lala tergelak. "Ya iyalah, paling cantik serumah huni. Secara yang perempuan juga cuma aku." Gadis itu lagi-lagi tertawa. Danu baru sadar, ternyata melihat tawa Lala yang begitu lepas, membuat hatinya tenang. "Ngomong-ngomong, makasih bunganya ya! Aku jadi merasa cantik kayak cewek Bali." Danu terkekeh, sepertinya Lala sudah baik-baik saja. Dibanding ketika mendapat bunga dari Candra dan Fikri tadi, gadis itu masih diam, belum ada ekspresi. Sekarang gadis itu sudah bisa bercanda, jadi Danu pikir, suasana hatinya sudah secerah mentari. "Oke! Kalau gitu aku pergi dulu, Mbak!" Seperti Candra dan Fikri tadi, Danu pun pergi meninggalkan Lala. Membawa dua tangkai bunga di tangan dan satu tersemat di telinga, Lala duduk di kursi tempat istirahat yang tak jauh darinya. Dihirupnya kedua bunga itu, wangi. Disentuhnya bunga di telinganya, seperti selorohnya tadi, dia memang merasa cantik kayak cewek Bali. "Kak!" panggil Saka. Cowok itu duduk di ujung kursi di sebelah Lala. Lala menoleh. Tapi cowok itu malah menunduk. "Ada apa?" tanya Lala. Saka diam. "Mau ngasih bunga?" tebak Lala. Saka yang kaget langsung menengadah dan menoleh menatap Lala. Wajah Saka yang terlihat sedikit memerah, membuat Lala tersenyum. Ah jadi tambah ganteng. Puji Lala dalam hati. "Sini!" Pinta Lala. Saka tiba-tiba langsung menggeser duduknya mendekat, sampai tubuhnya menempel pada tubuh Lala. Lala kaget. "Maksudku, sini bunganya!" "Oh ... !" Malu, Saka langsung menggeser lagi duduknya menjauh dari Lala. Sungguh, ingin sekali Lala tertawa melihat tingkah konyol Saka, tapi sekuat tenaga ditahannya. "Mana?" pinta Lala lagi. Saka yang masih malu dan gugup, mengangkat satu kakinya menompang kaki yang lain. Dan cowok itu memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang terasa panas karen malu tadi. Dan tangannya mengulurkan setangkai bunga liar dan diberikan pada gadis itu. "Bunga, untuk Kakak!" katanya lirih, masih dengan menyembunyikan wajah malunya. Lala kaget. Dilihatnya bunga yang diulurkan Saka padanya. Bunga liar. Pikirannya langsung melayang kepada seorang bocah laki-laki kecil yang dulu sangat disayanginya. "Bunga, untuk Kakak!" Kata anak laki-laki kecil itu sambil memberikan Lala setangkai bunga liar. "Wow, terima kasih!" Lala menyambut uluran bunga itu dengan penuh suka cita. "Kamu dapat dari mana bunga ini? Cantik banget!" Si anak laki-laki terdiam sebentar, kemudian menjawab dengan lirih dan malu. "Dari pinggir lapangan sepak bola." Lala ingin tertawa tapi tidak tega melihat ekspresi dari bocah kecil itu. "Nggak papa, sayang. Bunga ini adalah bunga pertama yang Kakak dapat, dan sangat cantik sekali." "Nanti, kalau aku sudah besar, aku pasti akan membelikan bunga yang cantik, bagus dan mahal buat Kakak!" "Wah. Benarkah?" Si anak kecil mengangguk mantap. "Benar. Aku janji. Aku akan membawa bunga yang secantik Kakak untuk melamar Kakak!" Kali ini, Lala tak sanggup menahan tawa. "Oke. Kakak tunggu ya!" Lala mengelus-elus kepala bocah laki-laki itu. Dan di masa sekarang. Lala mengelus-elus kepala Saka. "Makasih ya, Saka! Berkat kamu, aku jadi bisa tersenyum lagi." Kini Saka sudah berani menatap Lala, dan tanpa dia sadari, karena terlalu malu dan gugup, bunga ditangannya sudah berpindah di tangan Lala. "Benarkah?" Ada nada lega di dalam pertanyaan Saka. Lala mengangguk mantap. "Yakin?" "Tentu saja!" Lala tersenyum cerah. "Mau aku kasih hadiah nggak?" Tanpa ada alasan yang jelas, tiba-tiba Saka merasa deg-degan. Apa Kak Lala mau ... ? Pikiran Saka melayang membayangkan adegan dalam benaknya. Saka menggeser tubuhnya mendekat pada Lala. Tapi tidak sedekat tadi. Masih ada jarak setengah meter diantara mereka. Saka menatap Lala, mencondongkan sedikit tubuhnya dan memejamkan mata. Lala tersenyum, mengulurkan tangan menangkup kedua pipi Saka, kemudian ... "Aduh!" Saka terbelalak merasakan kedua pipinya dicubit gemas. "Issshhhh lucu banget sih!" Lala tertawa atas sikap Saka yang menurutnya gemas. "Aduh! Aduh, Kak!" Lala semakin kuat mencubit dan tertawa. Walau terasa sakit tapi juga terasa bahagia. Bahagia karena gadis pujaannya bahagia. Bahagia karena wanita yang dicintainya sudah bisa tersenyum ceria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN