Saka mau masuk ke dapur mengambil minuman. Tapi langkahnya terhenti di pintu dapur karena melihat Lala yang sedang makan di dapur juga. Tanpa sengaja, didetik itu juga, Lala pun melihatnya.
"Mau makan, Ka?" tawar Lala.
"Tidak, terima kasih!" Saka langsung balik badan dan pergi.
Sudah jam 16.30. Danu, Candra, dan Fikri pasti sudah berangkat lebih dulu untuk membuka warung. Saka memprediksi Lala pun pasti juga sudah berangkat.
Diambilnya handuk yang terlipat di almari. Dia berencana mandi dulu sebelum menyusul anak-anak ke warung. Tapi ketika cowok pemalu itu sampai di kamar mandi, ternyata Lala juga baru saja mau membuka pintu kamar mandi.
"Loh, aku kira udah berangkat semua!'' Kaget Lala melihat Saka masih di rumah. Biasanya Lala akan mandi jika semua penghuni cowok, sudah berangkat ke warung semua.
"Mau mandi duluan?"
"Tidak, terima kasih!" Kali ini pun Saka langsung balik badan lagi dan segera pergi.
Di garasi rumah. Saka menyalakan motor, mau berangkat ke warung. Di waktu yang bersamaan, Lala juga baru keluar dari rumah.
"Boleh mbonceng, Ka?" pinta Lala.
Saka malah mematikan motor dan mencabut kontak. Menghampiri Lala yang berdiri tak jauh darinya.
"Kakak berangkat dulu aja gak papa bawa motor. Aku masih ada sedikit urusan yang harus aku kerjakan." Diberikannya kunci motor pada Lala, "bisa naik motor matic sendiri kan?"
Lala hanya mengangguk bingung.
Setelah itu, Saka kembali masuk rumah. Diintipnya Lala yang masih berdiri di garasi. Dia tahu, gadis itu pasti bingung dengan sikapnya. Tapi mau gimana lagi, dia benar-benar merasa canggung. Setelah kejadian bernyanyi di warung beberapa hari yang lalu, Saka seperti tidak punya muka setiap berhadapan dengan Lala. Dia benar-benar nggak tahu harus bersikap bagaimana. Dia nggak bisa berpura-pura bersikap masa bodoh, sedangkan wajahnya terus menerus saja menghangat malu setiap menatap Lala. Apalagi jika ingat kecupan di pipi itu. Yah waktu itu, Saka lah yang menang. Dan Lala benar-benar memberinya hadiah ciuman di pipi.
Di warung, sudah mulai ramai. Tenda sudah terpasang sempurna. Api pun juga sudah menyala. Aroma masakan yang harum juga sudah tercium baunya.
"Lho, Saka mana mbak?" tanya Danu yang melihat Lala datang hanya seorang diri.
"Katanya nyusul bentar lagi, masih ada urusan."
"Cih, anak itu. Mau sampai kapan dia kayak gitu!" Danu merutuk, geleng-geleng kepala, ikut greget juga dengan sikap Saka belakangan ini.
Lala yang mendengar rutukan Danu juga heran, anak itu beberapa hari terakhir ini memang terlihat aneh
Tak bisa memikirkan apa alasan dibalik sikap Saka, Lala memilih membantu Candra dan Fikri menata tikar, meja dan peralatan yang lain.
Pembeli sudah mulai berdatangan dan merekapun sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Masalah tentang perubahan sikap Saka terlupakan sejenak.
Sebentar kemudian, Saka datang dan langsung duduk di tempat kasir. Tak ada sapaan, tak ada teguran. Dan yang paling parah, tak ada bantuan. Dia diam aja duduk ngedungkruk di balik meja kasir.
Anak-anak yang lain mulai jadi jengkel.
"Si bos kok jadi tegaan gitu ya?" keluh Fikri mendatangi Lala yang membuat pesanan minuman.
"Mungkin dia lagi banyak pikiran." Lala memberi jawaban diplomatis.
"Tapi mbak, selama ini, baru kali ini, si bos nggak mau bantu apapun, " Fikri masih tak terima, "datang cuma duduk doang di meja kasir. Nggak mau bantu apa kek gitu. Sungguh, tidak berperikemanusiaan."
Lala hanya diam. Tak tahu harus menjawab apa. Diletakkannya dua gelas es teh, dua gelas es jeruk, dan satu gelas jeruk anget di atas nampan. Diberikannya pada Fikri.
"Apa si bos sakit ya mbak?" tebak Fikri.
"Sakit?"
"Mungkin," ragu Fikri, "ya udah lah, biarin aja si bos maunya apa. Bomat juga ma dia." Akhirnya cowok itu memutuskan walau masih tidak ikhlas. " Gua antar minuman dulu ya mbak." pamitnya.
Lala hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah kerjaan bikin pesanan minuman selesai, Lala beralih menghampiri Danu yang masih sibuk menata pesanan di piring saji. "Ada yang bisa aku bantu, Dan?"
"Ada mbak. Yang pesenan ayam bakar belum aku plating."
"Oke!"
Dengan sigap, Lala mengambil piring. Tapi ketika matanya tertumbuk pada piring rotan yang dipakai untuk wadah bumbu, sebuah ide muncul dibenaknya.
"Piring rotan ini boleh aku pinjam nggak, Dan?"
Danu menatap piring rotan disebelahnya, "boleh mbak. Lagian itu juga cuma buat wadah bumbu aja."
"Aku pinjam ya?' Ijinnya sekali lagi.
Danu hanya mengangguk.
Lala mengambil piring rotan. Memindahkan isinya ke wadah lain, lalu mencucinya. Diambilnya selembar daun pisang yang tumbuh di dekat warung. Digunting bulat selebar piring rotan. Lalu diletakkannya daun pisang itu di atasnya.
Lala mengambil nasi, dicetak dalam mangkuk kecil, lalu diletakkan di tengah-tengah piring.
"Si Saka sakit apa, Dan?" tanya Lala di sela-sela kegiatan platingnya.
"Dia nggak sakit mbak. Kenapa emang?"
Diambilnya sebuah tomat, dipotong bulat jadi 3 bagian. Dikupasnya timun, dipotong miring. Dan mengambil sedikit daun kemangi. Semua itu ditata mengelilingi nasi yang berada di tengah.
"Beberapa hari ini sikapnya agak aneh." Lala mengadu.
"Oh, soal itu." jawab Danu, mengerti arah pembicaraan Lala.
"Apa kamu tahu sesuatu, Dan?"
Lala mengambil kol. Bukan diiris seperti biasa, melainkan mengambil selembar, direntangkan, kemudian ayam bakar ditaruh di atas daun kol.
"Bocah itu kan lagi hindarin mbak Lala."
Gerakan Lala yang mau mengambil brambang goreng, terhenti.
"Kok bisa?" Kini dia menatap Danu serius.
"Gara-gara nyanyi seminggu yang lalu, dia malu menyanyikan lagu itu buat mbak. Apalagi setelah itu mbak nyium pipinya. Makin malu aja dia," Danu terbahak.
"Tapi kan, itu cuma ciuman pipi. Seperti ciuman dari seorang kakak pada adeknya yang menang lomba." Lala heran, kenapa Saka bisa begitu malu pada hal sepele seperti itu.
"Itu kan anggapan mbak Lala. Tuh bocah pikirannya berbeda."
"Berbeda gimana?" Kejar Lala. Gadis itu benar-benar tak mengerti dengan sikap malu Saka.
"Hahaha. Bukan apa-apa mbak. Sudah! Jangan terlalu dipikirkan ucapanku tadi. Anggap saja angin lalu." jawab Danu geli dengan ketidakpekaan Lala.
Lala hanya diam, masih menatap Danu dengan sorot tanya. Dia tidak puas dengan jawaban Danu yang tidak jelas.
Danu menatap cara plating ayam bakar Lala. "Wow, cara penataanmu cantik banget, Mbak!" pujinya untuk mengalihkan topik.
Lala masih menatap Danu tidak puas. Gadis itu tahu, cowok ini sedang mengalihkan topik pembicaraan. Pengen terus mendesak, tapi keliatannya Danu juga enggan menjelaskan. Akhirnya Lala hanya bisa mendesah pasrah, mengikuti alur pembicaraan Danu.
"Ini sebenarnya akan lebih cantik lagi kalau pakai daun selada." Diambilnya sejumput brambang goreng yang sempat tertunda tadi, menaburkannya sedikit di atas nasi.dan ayam bakar. "Nah, kalau begini jadi makin cantik kan?" guraunya.
"Iya, secantik mbak Lala." gumam Danu.
"Apa?" Lala menatap Danu serius. "Tadi kamu bilang apa, Dan? Maaf aku nggak denger tadi!"
Danu tersenyum, "bukan apa-apa, Mbak!"
"Beneran?" tanya Lala ragu. Gadis itu yakin, tadi Danu bilang sesuatu tapi sayang dia nggak fokus dan nggak dengar.
Danu mengangguk mantap.
"Ya udah, aku berikan pesanan ini ke pelanggan dulu."
"Oke, Mbak!"
Danu menatap kepergian Lala dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Monggo, Mbak! Mas! Silahkan dinikmati!" Lala tersenyum manis sambil meletakkan pesanan di meja nomer 3.
Dari sudut matanya, Lala menangkap sekelebat bayangan Saka yang lewat. Sepertinya cowok itu mau ke warungnya pak Haji Badrun.
Secepat kilat, Lala segera mengejar Saka.
"Ka!" teriak Lala memanggil. Mungkin karena suara kendaraan yang begitu ramai, cowok itu tidak mendengar panggilan Lala.
Lala berlari semakin kencang dan ketika sudah dekat, dia langsung menangkap tangan Saka, membuat cowok itu berhenti karena kaget dan menoleh heran. Heran melihat Lala yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton.
"Ada apa kak?" tanya Saka bingung.
"Kita perlu bicara!"
Lala langsung menarik tangan Saka menuju Indomaret yang tak jauh dari mereka berdiri. Mengajaknya duduk di kursi yang disediakan di depan toko.
Lala menatap tajam Saka, "Kamu kenapa?"
"Aku?"
"Iya, kamu! Kenapa kamu menghindariku? Udah seminggu ini kamu selalu saja bersikap aneh dan menghindariku!"
"Ti-tidak!" elak Saka gugup.
"Tidak?" Lala nggak percaya.
Entah kenapa, Saka selalu saja tidak bisa berkutik jika di depan Lala. Akhirnya dia hanya bisa menunduk.
"Saka, lihat aku!" perintah Lala.
Saka masih diam menunduk.
"Saka!"
Cowok itu tidak menghiraukan permintaan Lala. Dia benar-benar merasa malu saat ini.
Merasa diabaikan, Lala segera mencondongkan tubuhnya mendekat ke Saka. Menangkup kedua pipi Saka dan memaksa cowok itu menatapnya. Menarik wajah Saka mendekat ke wajahnya sendiri.
Jantung Saka serasa ingin melompat keluar, tapi Lala bahkan tidak menyadarinya.
"Saka, tatap mataku! Cepat jawab pertanyaanku! Kenapa kamu menghindariku? Kenapa kamu membuat suasana canggung diantara kita?"
Saka masih bungkam, matanya fokus menatap mata Lala.
"Apa karena lagu yang kamu nyanyikan seminggu yang lalu?"
Saka tetap diam, berusaha tidak mengalihkan pandangan dari mata Lala.
"Atau karena ciuman di pipi waktu itu?"
Mendengar kata 'ciuman', Saka yang dari tadi berusaha agar terus fokus pada mata Lala, akhirnya matanya oleng juga, ganti menatap bibir Lala.
Ahhh bibir itu. Desah Saka meredam pikiran liarnya sendiri.
"Kak!" panggil Saka. Suaranya terdengar begitu serak.
"Ya? Bagaimana?" sahut Lala berbinar. Dia merasa begitu bahagia, berharap setelah ini Saka bersikap kembali seperti sediakala.
Padahal Saka memanggilnya agar pikirannya sedikit buyar, biar tidak terlalu fokus pada bibir Lala.
"Jangan terlalu dekat!" pinta Saka.
"Apa?" Lala nggak nyambung.
"Hangat nafas kakak terasa di wajahku."
Eh!
Kaget, Lala segera melepaskan wajah Saka yang sedari tadi dipegangnya. "Maaf! Apa aroma mulutku nggak enak?" tanya Lala malu.
"Bukan begitu!"
"Lalu?"
Justru aku ingin melumat mulut itu. Jerit Saka dalam hati.
Tapi akhirnya cowok itu menjawab, "terlalu dekat aja. Nggak enak dilihat orang!"
Lala celingak celinguk, kanan kiri. Dan benar saja. Mereka jadi tontonan pegawai Indomaret yang senyam senyum melihat mereka.
Ahhh ... sial! Kenapa malah bikin malu diri sendiri sih? Rutuk Lala dalam hati.
"Ayo, Ka! Kita pergi dari sini!" Ajak Lala segera beranjak berdiri. Gadis itu sudah terlanjur malu.
Saka masih mencoba meredakan debaran jantungnya, dan masih mencoba menahan keinginannya. Tapi setiap melihat gadis itu, apalagi dengan kondisi wajah yang memerah menahan malu seperti itu, membuat cowok itu seperti kehilangan pengendalian diri. Dia seperti tidak dapat menahan hasratnya sendiri, dan akhirnya ...
"Kak!" panggilnya. Suaranya begitu pelan dan serak.
"Ya?"
"Maaf!" Setelah berkata seperti itu, Saka tiba-tiba langsung mengambil tangan Lala dan menariknya cepat, hingga Lala kaget. Dia yang tidak dalam posisi siap, ditarik begitu cepat, membuat dia membungkuk dan menggunakan satu tangannya yang bebas bertumpu pada pundak Saka.
Dan ...
Cup!
Apa?
Saka menciumku?
Menciumku di ...
Hidung