“Apa kau tidak mau membuka bajumu?” tanya Andra ketika menyadari baju Aina yang tadinya basah sudah kering kembali di badannya.
Aina langsung menggeleng dengan wajah takut sambil menggenggam resleting sweaternya saat mendengar pertanyaan Andra. Ia semakin takut karena berada di kamar Andra yang pasti akan membuat dia lebih leluasa jika berbuat sesuatu.
"Maksudku, apa kau tidak mau mengganti baju? Nanti kau bisa demam seperti aku!” ralat Andra melihat ketakutan Aina mendengar pertanyaannya tadi dan ia tidak mau mengulangi ide bodohnya lagi untuk menggoda Aina seperti semalam.
“Tidak, Pak! lagi pula sebentar lagi saya akan pulang.”
“Pulang? Untuk apa?” tanya Andra.
“Untuk bekerja, Pak, karena saya harus datang lebih dulu dari pegawai lainnya."
“Apa sepenting itu pekerjaan bagimu, sampai mengabaikan kesehatanmu?“ tanya Andra sambil bangkit dari tidurnya untuk meminum teh.
“Bagi saya itu sudah biasa, Pak. Saya permisi dulu, nanti saya terlambat bekerja. Semoga Bapak lekas sembuh,” ucap Aina sambil membungkuk lalu membalikkan badan.
Tetapi tiba-tiba Andra berdiri lalu menarik Aina ke pelukannya dan menjatuhkan tubuh mereka di atas ranjang.
“Tetaplah di sini sebentar saja, paling tidak sampai aku tidur," pinta Andra.
Karena terkejut sekaligus tidak percaya, Aina tidak bergerak sedikit pun untuk membalas pelukan Andra.
"Hanya kau wanita yang berani mendekatkan diri padaku," bisik Andra.
“Apa dia kesepian selama ini?” batin Aina lalu mulai menggerakkan kedua tangannya ke pinggang Andra dan diam sampai Andra tidur.
Setelah merasa Andra sudah terlelap, Aina melepaskan pelukannya perlahan, takut mengganggu tidur Andra. Selain itu, ia juga takut ikut terlelap karena belum tidur dari semalam.
Setelah berhasil lepas dari Andra, ia segera pergi untuk pulang ke kostan dan pergi bekerja.
Saat Aina tiba di tempat kostnya, waktu menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Ia buru-buru membersihkan diri dan bergegas menuju kantor. Namun, ketika sedang berlari menuju jalan raya, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan kembali ke kostan untuk membuat air rebusan jahe dan gula merah yang mau ia bawa bekerja. Setelah itu kembali berlari ke luar kostan.
Beruntung, saat tiba di kantor, ia tepat waktu dan baru Tari saja yang datang di ruang OB.
“Pagi, Tar,” sapa Aina.
“Pagi, kamu cape banget kayaknya?" tanya Tari saat mendengar deru nafas Aina.
“Iya, aku buru-buru tadi. Aku pikir sudah terlambat."
“Kamu sudah sarapan belum?”
“Belum!”
“Sarapan, yuk, bareng aku!”
“Loh, emang kamu enggak sarapan bareng Adi?”
“Adi, 'kan belum dateng, Na!”
“Oh iya, ya," ucap Aina sambil tersenyum disela nafas tersengalnya. "Ya udah, ayo!"
Aina dan Tari sarapan bersama di ruang OB. Saat mereka hampir menyelesaikan sarapannya, Adi datang dan langsung menyapa keduanya.
“Pagi duo ratu," sapa Adi
“Ish ... apaan, sih, lo?" balas Aina, jutek.
Sedangkan Tari hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.
Selesai sarapan, Aina langsung bergegas menuju ruangan Andra untuk bersih-bersih. Selain itu, ia tidak mau melihat kedekatan lelaki yang tidak peka itu.
Ya! Adi adalah lelaki yang tidak peka terhadap perasaan Aina karena tidak mengetahui isi hatinya dan selalu bermesraan dengan Tari, walaupun itu memang haknya.
Setelah selesai membersihkan ruangan Andra, Aina menaruh tumbler yang berisi rebusan air jahe dan gula merah yang ia buat tadi.
'Air jahe dapat menghangatkan tubuh'
Tulis Aina di secarik kertas dan meletakan di meja kerja Andra bersama tumblernya.
*****
Andra pov
Saat aku bangun ternyata sudah pukul sepuluh pagi dan Aina sudah tidak ada di kamarku. Sepertinya dia benar-benar pulang setelah aku tidur. Aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap ke kantor karena tubuhku sudah lebih baik dan demamku juga sudah reda.
Aku tiba di kantor pukul sebelas siang dan ketika akan memasuki lift, aku bertemu dengan Adit yang baru saja dari basemen kantor mengambil berkas tertinggal di mobilnya.
“Siang, Bosku. Dari mana saja baru datang?" sapanya.
“Kenapa! Apa kau merindukanku?” jawabku sinis.
“Tidak." elak Adit dengan senyum sinisnya. "Oh, iya, aku ingin mengatakan bahwa, aku sudah tahu gadis yang mengajakmu kencan kemarin. Menurutku dia sangat manis dan tidak buruk. Jika kau tidak mau kencan dengannya biar aku saja yang melanjutkan.”
Entah kenapa ada rasa kesal mendengar Adit ingin berkencan dengan Aina hingga membuat aku teringat kejadian semalam yang membuat semua orang beranggapan bahwa Aina adalah wanita panggilan.
“Jaga mulutmu!” hardikku dengan dahi berkerut, menunjukkan kemarahan.
“Waw, kenapa tiba-tiba semarah ini? Apa jangan-jangan kamu sudah pindah ke lain hati dan melupakan Fina?” goda Adit lagi.
"Bukan urusanmu!"
“Atau mungkin saja ada yang tiba-tiba tumbuh di hati?"
“Tidak akan!” ucapku tegas.
Selama di dalam lift, aku lebih banyak diam karena Adit sepertinya akan banyak meledekku jika aku bicara lagi. Bahkan, sampai pintu lift terbuka. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun saat meninggalkan dia.
Setelah beberapa langkah ke luar dari lift, aku mulai memikirkan ucapan Adit. Apa benar ada perasaan di hatiku untuk Aina? Ah, tidak mungkin. Tapi selama dua hari dekat dengannya aku merasa dia tidak berniat jahat. Dia bahkan terlihat peduli.
Ketika aku terus berjalan menuju ruangan, aku melewati ruang rapat dan melihat Aina sedang membersihkan kaca dengan mata tertutup.
“Apa dia tidur sambil berdiri?!” gumamku.
Aku langsung mengetuk kaca yang sedang dibersihkan hingga dia langsung membelalakkan matanya saat melihat wajahku, lalu membungkuk hormat dan terus menunduk malu.
"Sepertinya dia benar-benar mengantuk. Dasar gadis bodoh, kenapa tidak membolos saja jika kurang tidur?" gumamku lalu pergi dari hadapannya.
Begitu tiba di ruanganku, Fina langsung mengekori dan langsung membacakan scheduleku, tapi sebelum dia membacakan kegiatanku, aku langsung memotong ucapannya.
“Fina, tolong untuk hari ini aku ingin banyak istirahat dan batalkan semua jadwalku di luar kantor!" perintahku.
“Baik, Pak!" jawabnya, patuh.
“Dan satu lagi, tolong panggilkan Aina untuk segera ke ruanganku, karena tadi aku melihat dia tidur saat kerja!"
“Baik, saya akan segera menghubungi Pak Darwin. Permisi, Pak."
Saat Fina keluar dari ruanganku, aku melihat tumbler dan secarik kertas di bawahnya dengan tulisan, 'Air jahe dapat menghangatkan tubuh' dari tulisannya itu aku sudah tahu siapa yang menaruh tumbler ini.
Aku terus memperhatikan tambler itu sambil menunggu kedatangan Aina hingga tujuan menit kemudian aku mendengar seseorang mengetuk pintu ruanganku yang membuatku cukup kaget.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk!” perintahku.
"Permisi, Pak. Ada apa Bapak memanggil saya?” tanya Aina, takut-takut.
Aku melihat wajahnya sangat pucat dan kantung mata yang terlihat jelas hingga membuat aku tidak tega.
“Kenapa kau tidur saat bekerja?” tanyaku tegas, tapi tegasku hanya untuk menggodanya saja karena entah kenapa melihat wajahnya saat ketakutan menjadi hiburan untukku dan aku jadi teringat wajah ketakutannya saat mendengar petir semalam.
“Maaf, Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi!"
"Kau yakin tidak akan mengulangi lagi?"
"Ya—yakin, Pak."
“Kalau begitu sekarang kau duduk saja di sofa itu dan tunggu perintah dariku!”
“Di sini, Pak?” tanyanya saat mendengar perintahku yang mungkin terdengar aneh.
"Iya, di situ! Bukankah itu yang namanya sofa?"
“I-iya, Pak” balasnya masih dengan kegugupan.
Lima menit dia duduk, aku melihatnya sudah benar-benar menahan kantuk dengan kepala yang beberapa kali tertunduk lalu tegak lagi. Sampai akhirnya dia menyandarkan kepala di sofa lalu benar-benar terlelap dengan posisi duduk.
"Fina, tolong jangan masuk ke ruanganku sebelum aku panggil!" perintahku pada Fina melalui interkom. Karena aku tidak ingin Fina melihat Aina yang sedang tertidur, sedangkan alasanku memanggilnya karena dia tertidur saat kerja.
"Sudah setengah jam Aina tidur di sofa dan sepuluh menit lagi jam makan siang, tapi sepertinya Aina belum mau bangun dari tidurnya. Aku menghampiri Aina dan merapikan posisi tidur menjadi terlentang agar lebih nyaman.
Setelah merapikan posisi tidurnya, aku memandangi wajahnya sejenak. “Benar kata Adit, dia gadis yang manis,” ucapku.
Sepertinya dia benar-benar pekerja keras, dan bukan tipe orang yang suka memanfaatkan keadaan. Harus aku akui, dua malam bersamanya membuatku jadi diri sendiri tanpa memedulikan lingkungan sekitar untuk menjaga imageku. Dan Sepertinya juga aku tertarik dengan kencan ini.
Melihat wajah Aina sedekat ini, aku jadi ingat kejadian tadi malam saat aku hanya berniat menggodanya. Sebenarnya jika tidak ada para petugas itu, aku ingin mencium bibirnya sesaat. Hanya untuk merasakan bagaimana rasanya mencium bibir seseorang, tetapi sekarang, semakin lama aku memperhatikan wajahnya semakin aku berniat merasakan kelembutan bibir tipisnya saat ini juga, dan aku sudah tidak bisa menahannya diri lagi.
Cup
Aku memberanikan diri mencium bibirnya, tetapi melihat Aina yang masih terlelap, aku malah ingin menciumnya lebih lama lagi, walaupun aku tahu Aina tidak akan membalas ciumanku.
Karena terlalu asyik dengan aksiku hingga membuat Aina menggeliatkan tubuhnya lalu kembali terlelap.
“Maafkan cara licikku ini."
*****
Aina pov
Aku benar-benar terkejut saat mendengar ketukan kaca yang sedang aku bersihkan, dan makin terkejut lagi ketika melihat siapa yang mengetuk kaca.
“Astaga, Pak Andra!" ujarku dengan wajah tegang.
Aku langsung membungkukkan badan tanda hormatku padanya, tanpa berani menatap dia lagi. Aku hanya bisa terus menunduk malu sampai dia berlalu dari hadapanku.
“Aduh ... gawat!" pekikku khawatir begitu dia pergi.
Dan benar saja tiga menit kemudian Pak Darwin memanggilku untuk ke ruangannya.
"Bagaimana ini! Apa dia akan memecatku? Ah ... jika benar dia memecatku, itu berarti aku kehilangan dua pekerjaan dalam satu Minggu. Atau dia akan membalas dendam karena semalam dia demam," ocehku sepanjang jalan menuju ruangan Pak Andra.
Saking seriusnya mengoceh, aku sampai lupa untuk bertanya pada Bu Fina saat tiba di depan ruangan Pak Andra.
Bu Fina langsung berdiri dari duduknya saat melihatku akan masuk ke ruangan. “Apa benar kamu tidur saat bekerja?” tanyanya.
“Benar, Bu!” jawabku dengan wajah khawatir. “Apa Pak Andra akan memecat saya, Bu?" tanyaku lagi.
“Semoga saja tidak,” ucap Bu Fina meyakinkan sambil menepuk bahuku.
Aku hanya membalas dengan senyuman ragu dan berusaha percaya pada ucapannya "Semoga saja Bu Fina benar," gumamku.
Aku langsung berbalik dan berjalan menuju pintu ruangan lalu mengetuk pintu dengan hati was-was.
“Masuk!" teriak Pak Andra dari dalam ruangan.
“Permisi, Pak! Ada apa Bapak memanggil saya?” tanyaku takut-takut.
"Kenapa kau tidur saat bekerja?” tanyanya tegas.
"Apa? dia tanya kenapa?! Bukankah dia tahu semalam aku tidak tidur," batinku. "Maaf, Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawabku ketakutan.
"Kau yakin tidak akan mengulangi lagi?"
"Ya—yakin, Pak."
"Kalau begitu sekarang kau duduk di sofa itu dan tunggu perintah dariku!" perintahnya.
"Apa dia tidak salah? Untuk apa dia menyuruhku duduk di sofa? Apa dia akan mengikat dan menyiksaku dengan ikat pinggangnya?" pikirku. "Disini sini, Pak?” tanyaku heran.
“iya, bukankah itu yang namanya sofa?“
“I-iya, Pak," balasku semakin gugup.
Lima menit duduk di sofa, Pak Andra tak kunjung memberikanku perintah. Kantukku yang tadi sempat hilang karena terkejut, kini datang lagi. Aku berkali-kali termangguk hingga aku benar-benar tidak bisa menahan kantukku lagi lalu merebahkan diri di sandaran sofa.
Karena kantuk yang sudah tidak tertahankan lagi, aku merasa tidurku benar-benar nyaman meskipun dengan posisi duduk. Bahkan, karena terlalu nyaman, aku bermimpi Pak Andra datang ke tempat kostku dan membawa sebuket bunga mawar untukku dan berkata, "I LOVE YOU, AINA." sambil mencium bibirku. Tapi entah mengapa ciumannya terasa benar-benar nyata.
Dalam mimpiku, aku berjalan di sebuah taman sambil menggenggam erat lengan Pak Andra, hingga tiba-tiba dia melepaskan genggaman tanganku dan pergi menjauh. Aku berusaha mengejarnya sambil berteriak, "Pak Andraaaa!” Hingga bangun dari tidurku.
Sontak aku langsung membuka mata dan berdiri tegak sambil berteriak. "Bapak, jangan pergi jauh dari saya!”
Seketika aku baru menyadari bahwa masih berada di ruangan Pak Andra dan langsung mendapat tatapan heran darinya.
“Maafkan saya, Pak,” ucapku setelah melihat tatapannya."Dasar bodoh! Kenapa mengigau seheboh ini!" rutukku.
Ketika aku melirik jam dinding di belakangnya, ternyata sudah jam empat sore. Itu berarti sudah lewat jam kerjaku.
Aku ketakutan melihat Pak Andra yang menatapku santai sambil bersandar di kursinya. Bukan tatapannya yang membuatku takut, tapi keteledoranku yang tidur terlalu lama sampai melewati jam kerjaku. Aku langsung berlutut di depan meja kerja Pak Andra untuk memohon padanya agar berbaik hati.
"Pak, tolong jangan pecat saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!” ucapku untuk meyakinkannya, tapi tetap tidak berani menatapnya.
“Bukankah kau sudah mengatakannya tadi? Tapi kau sendiri yang melanggarnya.”
"Maaf, Pak, saya janji ini yang terakhir!”
“Apa kau bisa dipercaya?“ tanya pak Andra sambil bangkit dari duduknya lalu menyandarkan bokongnya di meja.
"Saya janji, Pak!"
“Apa konsekuensi jika kau melanggar janjimu?"
"Saya akan mengundurkan diri, Pak,” ucapku lemas dan dengan sangat berat hati pastinya.
“Ya sudah, bangun!” perintah Pak Andra."Dan bawa makan ini untukmu. Juga botol ini. Terima kasih sudah menjagaku semalam,” lanjutnya sambil menyodorkan tumblerku.
Mendengar Pak Andra tidak memecatku, wajah takutku berubah menjadi ceria.
“Baik, Pak, saya permisi dulu," ucapku sambil mengambil alih tumblerku dari tangan Pak Andra.
Saat berjalan menuju pintu, aku berpikir dan merasa heran, kenapa dia bisa sebaik ini di kantor? Apa karena demam semalam? Ah, biarlah yang penting dia tidak memecatku.
Tetapi saat aku akan menarik handle pintu, aku mendengar Pak Andra kembali bersuara.
“Nanti malam kau akan mengajakku ke mana?"