"Karena yang menyukai tidak mungkin mencari kesalahanmu dan yang membenci tentu saja akan terus mencari kesalahan apa meski kecil pasti dibuat besar. "
-Agal-
***
Awan biru yang menandakan langit sedang cerah, sekarang sedang menyapa bersama hangatnya mentari pagi yang masih malu-malu menampakkan diri kepada sepasang mata yang baru terjaga dari tidurnya.
Nana baru saja bangun, dia melihat banyak sekali TNI yang datang sambil berlari menyanyikan yel-yel mereka terlihat sedang pelatihan lari pagi sambil sesekali Nana yang memang suka melihat itu langsung keluar dan ikut menyemangati. Agal yang melihat itu langsung saja menggelengkan keplanya meminta Nana untuk kembali masuk ke dalam hotel, awalnya Nana tidak mau tapi akhirnya menuruti apa yang dikatakan Agal.
"Ah enggak seru banget, Nana kan pengen lihat yang ganteng-ganteng, enggak tahu cuci mata nih Gagal, " ungkap Nana tertawa.
Ani juga menyusul di belakang Nana semangat sekali ikut menonton memang keduanya suka jika melihat pasukan TNI lari pagi.
"Tahu kaya gini kan enang pemandangan setiap hari kan Ni, " ucap Nana terkekeh dengan tawa yang lucu sekali.
Untuk kasus korupsi yang menimpa Ayah Ani beberapa hari yang lalu ternyata semuanya sudah berlalu, Ayah Ani terbukti tidak bersalah dia dipanggil hanya sebagai saksi.
Aji juga baru bangun melihat kedua sahabatnya malah nongkrong di balkon hotel sambil melihat bawah membuat dia jadi penasaran. Langsung saja dia berlari dan menjewer keduanya.
"Pagi-pagi udah nongkrong aja di sini, " omel Aji kepada Ani dan Nana.
"Makanya ikut Ji, lihat oppa-oppa militer latihan. Mana gratis kan enggak boleh dianggurin, " ucap Nana yang masih setia untuk melihat dan menyoraki mereka dengan tangan yang mengepal.
"Dasar Nana, pengen banget dimarah sama suaminya."
Tapi teenyata di balkon sebelah ada perempuan muda yang tersenyum senang melihat Agal, dia menggerai rambutnya yang panjang sambil tersenyum.
Tidak sadar Nana melihat itu dan mengikuti arah pandangnya yang tidak pernah berhenti memandang Agal dengan harapan yang begitu besar.
"Mbak, maaf itu Masnya udah punya istri, " ujar Nan blak-blakkan karena tidak suka jika ada yang berani melihat suaminya dengan pandangan yang begitu kagum.
"Hahha, kenapa? Takut kalah saing ya Mbaknya? Makanya enggak usah sok cantik, " balas perempuan muda itu sinis.
"Nyebelin banget sih Mbaknya kaya nenek sihir yang sering ada di kartun kesayangan Nana, " balas Nana tak mau kalah.
"Mbaknya itu harusnya sadar dan diruqiyah, itu suami orang, " balas Ani juga ikut marah jika ada orang yang mencoba membuat Nana kesal.
"Mendingan Mbaknya banyak-banyak istigahfar soalnya perasan iri dan dnegkinya udah mendarah daging, " timpal Aji yang kalo masalah perjulid tan dia tidak mau kalah.
"Hahah kan kelihatan kualitasnya dari cara ngomong kalian kaya orang ga berbobot, " sindir Rara masih tertawa.
"Mbak ngomong sama siapa? Kirain ngomong sendiri sama tembok," balas Nana yang memang suka sekali menjatuhkan mental Orang.
"Rara, " ayo masuk, panggil seseorang dari dalam pintu kamar, ternyata perempuan itu bernama Rara pikir Nana.
"Awas aja kalian ya kalo gue ketemu lagi, " ucap Rara masuk ke dalam kamar karena sudah dipanggil seseorang.
Mereka bertiga tertawa setelah membuat Rara kesal, lagian siapa suruh benar-benar sombong dan malah sangat sewot.
"Nyebelin banget, gue baru ketemu orang yang kaya gitu, " ucap Aji tidak suka dengan orang yang selalu saja tidak bisa menghargai perasaan orang lain.
Reygan yang baru saja bangun ikut nimbrung bersama ketiga sahabatnya sambil meminum kopi hitam panas yang dia ambil pada tempat sarapan.
"Kalian lagi ngelakuin penyambutan buat gue ya, enggak usah repot-repot gitu kan jadi enakkan gue, " ucap Reygan sangat percaya diri dan hal itu malah membuat Aji, Nana, dan Ani mulai menggelengkan kepalanya.
"Sekali lagi lo ngomong, gue sumpel pakai sandal baru yang gue beli, " omel Aji sambil mengambil sandal yang dia pakai dan tertawa.
"Iya nih, Nana tambahin kalo misalnya Reygan bilang lagi, " sahut Nana yang sudsh ingin melepaskan sandalnya dan malah membuat Reygan berlari takut karena sendal jepit keduanya sangat tebal.
"Gue kasih juga nih, bantal guling buat melempar ke arah lo Gan, " ungkap Ani dengan memandang Reygan yang malah berlari ketakutan ke dalam hotel ternyata ketiga rekannya sangat menakutkan.
"Hahahha nyebelin sih, " balas mereka bertiga mengomeli Reygan.
Tapi Nana masih kepikiran perempuan tadi yang melihat Agal dengan pandangan kagum. Ternyata memang meresahkan sekali dari pandangan Nana memang anaknya masih kecil karena suka sekali perdebatan dan memang cerewet.
Nana akhirnya turun dari balkon hotel sambil mencari Agal yang bari selesai lari pagi dengan membawa botol minum yang sudah dia siapkan.
"Gagal, seneng banget Nana bisa lihat pemandangan pagi Agal yang lari kaya tadi. "
"Lihatin saya atau anak-anak lain yang lari pagi? " tanya Agal dengan sindiran yang tepat sasaran.
Mendengar itu Nana jadi cengengesan sendiri seperti wajah orang yang tertangkap basah karena melakukan kesalahan. Lagian bisa-bisanya Agal tahu apa yang dia lakukan dengan Ani tadi pagi.
"Kan itu namanya rezeki sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, " ucap Nana tertawa karena memang selain melihat Agal ternyata ada juga rezeki lain untuk melihat yang lain.
"Bandel, " balas Agal menjewer telinga Nana tidak terlalu kencang dan memberikan pelajaran kepada istrinya itu untuk jangan menjadi ganjeng kepada juniornya.
"Tapi Gagal tenang aja, walaupun banyak pria gagah tapi cinta Nana buat Agal tida duanya. "
Menyebalkan memang jika harus melihat perempuan yang sepertu tadi sudah tahu salah tapi tidak mau disalahkan.
"Lagian kamu itu kalo pagi jangan banyak kerjaan kaya gitu."
"Kan Nana itu kasih semangat buat Gagal, lagian jarang-jarang Nana bisa lihat pemandangan pagi yang kaya vitamin C gitu, " ungkap Nana tertawa.
"Itu namanya modus, lagian kamu bisa lakuin hal yang lain."
"Jadi Gagal udah sayang sama Nana belum? " tanya Nana tidak mau membahas itu lagi, ada yang jauh lebih penting menaklukkan hati Gagal.
"Enggak. "
"Yah, ini Nana bawain s**u kotak strowberry semoga kita bisa jadi story of my life, " ucap Nana menyodorkan s**u kotak stroberi yang sudah dia stok di tas.
"Gombalan kamu ini banyak sekali, sudah berapa orang yang kamu gombali. "
"Sebentar Nana hitung dulu, Nana mikir dan mengingat dulu. Mungkin kurang lebih 10 Gagal. "
Agal langsung saja menjewer Nana lagi dengan pelan, memang istrinya itu sering sekali membuat dia merass kesal akibat ulahnya yang memang ajaib.
"Gagal, kali ini kita ngomong serius yuk, " ajak Nana yang sudah siap dengan wajah yang sangat serius.
Agal sudah mengangkat sebelah alisnya untuk mereka berbincang, Agal jadi penasaran apa yang ingin disampaikan Nana kepada dirinya.
"Nana pengen bilang kalo misalnya, " ucap Nana tertawa duluan seblum membicarakan apa yang ingin dia ucapkan.
"Kalo misalnya apa? "
"Nana akan tetal memperjuangkan Gagal sampai titik di mana Nana harus Menyera, tapi itu piliahn terakhir kalo Gagal bilang udah saatnya berhenti. "
"Udah ah ayo makan." Agal mengajak Nana untuk makan bersama karena sudah banyak sekali hidangan yang tersedia di hadapan mereka.
Nana tersenyum melihat Agal, sekarang dia masih semangat untuk berusaha mendapatkan kasih sayang Agal.
"Semangat Nana, " ucapnya pada diri sendiri.