BAB 35

1778 Kata

BAB 35 “Nur ….” Suara lembut itu terucap lirih ketika jarak terpangkas sudah di antara mereka. Tangisnya pun pecah. Nuria memeluk tubuh ringkih perempuan itu dengan erat. Rasanya seperti mimpi. Setelah bertahun-tahun terkatung-katung sendirian, kini imereka bisa dipertemukan kembali. Andai ibunya pulang lebih cepat, mungkin semua ini tak akan menjadi seperti sekarang. Setelah isak Nuria sedikit reda, dia menjauhkan tubuhnya dari sang ibu. Lalu, mencium tangan perempuan yang telah melahirkannya itu, dan menghujaninya dengan air mata. “Maafin Nur, Bu.” Hanya itu yang terucap dari bibir Nuria yang bergetar. Bu Fatma hanya menggeleng kepala, seraya mengusap-usap punggung Nuria berulang. Air matanya tak berhenti luruh, mewakili hatinya yang tengah hujan. “Mbak, ajak Nuria masuk.” Suara Bi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN