Chapter 3

1166 Kata
Bukan hanya tangannya, tetapi seluruh tubuh Angel bergetar. Apalagi saat tangannya terus beradu dengan tangan milik boss barunya. Kadang tangannya tak sengaja menggenggam tangan besar milik Rangga, atau sebaliknya. Dan selama itu berlangsung, selalu ada hentakan seperti tersengat listrik. Sebab itu pula, lututnya sudah melemas seakan ingin ambruk tak kuat menahan beban tubuhnya. “Gosh! Masa iya gua mendadak lumpuh.” “Aaaaaaaaahhhh ....” Keduanya menghembuskan napas panjang. Rangga yang memang membutuhkan udara banyak pasca tersumbatnya saluran pernafasannya. Pun dengan Angel yang sudah berusaha melepaskan ikatan dasi yang baru dia tahu akan sekuat itu. Sementara Jasmine menonton dengan pandangan heran, juga ... geli. “Padahal tinggal ditarik aja ujung sampulnya. Malah terjadi drama rebutan tangan seperti lomba tarik tambang.” Jasmine terus memperhatikan sahabat juga bos barunya. Cara pandang Rangga pada sahabatnya, Angel, tak sesederhana seorang atasan pada umumnya. Apa mereka sudah saling mengenal? Kenapa pak Rangga seperti begitu tertarik pada Angel? Rangga yang lebih dulu sadar atas perhatian Jasmine, langsung menormalkan raut wajahnya. Mengembalikannya pada semula. Datar dan dingin. “Ekhem. Jadi ... anda yang bernama Karmin?” Jasmine mengerjap, sebelum akhirnya sadar atas sikapnya yang tengah memperhatikan si boss baru dengan sedikit berlebihan. Malu. Eh, tapi, apa tadi katanya, Karmin? Angel yang ikut mendengar ucapan Rangga, segera meralatnya. “Sir, perkenalkan. Ini adalah Jasm---“ “Baiklah, mengerti. Kalian mau makan siang, 'kan? Kalau begitu silakan.” Tangan Rangga menunjuk ke arah pintu. Tanda pengusiran. Si Dodol, selalu saja memotong omongan orang. “Apa anda mau saya pesankan sesuatu, Sir?” tanya Angel. “Tak perlu. Saya bisa sendiri.” “Baik, Sir.” .... “Jel, jujur sama gua. Kalian udah saling mengenal, 'kan?” tuntut Jasmine mengintimidasi. “Ck, kan gua bawahannya. Gimana si lu?” Jasmine menggeplak lengan Angel. “Yeee, lu pinter, tentu paham maksud gua.” “Kenal dari mana? Kalau gua kenal lebih awal, pasti lu tahu, 'kan.” “Andai lu tahu, manusia itulah yang gua peluk saat itu, Jass.” “Beneran lu?” Angel memutar bola matanya. “Ish, lu itu menyeramkan. Kenapa gak percaya sama gua?” Jasmine menggaruk pelipisnya. “Karena feeling gua mengatakan jika tatapan pak Rangga saat menatap lu, sangat berbeda saat melihat gua. Sepertinya dia tertarik sama lu deh, Jel.” “Jangan ngaco, lu! Sembarangan aja.” “Dasar Jassy dodol. Gegara mulut lemes lu, jantung gua kembali jumpalitan.” “Pak Rangga itu sudah punya bini kali. Lagi hamil pula.” Jasmine sontak tertawa. “Jangan ngaco lu! Jelas-jelas dalam datanya doi masih single.” Karena memang Jasmine bekerja di bagian HRD. Angel melotot. “Justru lu yang ngaco. Hati-hati lu bicara. Terdengar sama bininya, mampus lu.” “Yeee, ngeyel. Dibilang masih single gak percaya lu.” “Ck, asal lu tahu, pria yang waktu itu gue pel---.” Angel menutup mata sambil menggigit lidahnya. Hampir saja dirinya keceplosan. “Asal gua tahu apa?” tuntut Jasmine semakin intens. Benar 'kan perasaannya jika mereka berdua sudah saling mengenal. “Ck, perut gua udah lapar. Jangan bahas apapun! Gua butuh nutrisi sebelum kembali memeras otak gua.” “Jangan lu pikir bisa lolos dari gua, Njel.” “Terserah.” Yang penting jangan sekarang. “Aaah, harumnya. Yok, selamat makan!” seru Angel menatap lapar pada menu yang dipilihnya. Setelah berdoa, Angel mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut. “Jel. Bagaimana hari pertama lu bekerja dengan boss baru kita. Pasti makin semangat ya. Bossnya lebih segar dan tampan.” Angel menghembuskan napasnya kasar. “Boro-boro. Yang ada sebentar lagi gua bakalan punya riwayat jantung.” “Astaga!” pekik Jasmine dengan wajah memerah. Namun, disusul pekikan berikutnya karena kepalanya digetok oleh Angel. “Jangan berkeliaran ke mana-mana tu otak! Lu bayangin aja, belum genap 6 jam gua bekerja dengannya, gua udah dibentak lebih dari angka 6.” “Masa sih dia tukang bentak, perasaan dia itu cool, dan datar.” Angel memutar bola matanya malas. “Terserah. Udah ah, gua mau makan.” Jasmine pun akhirnya diam, dan ikut makan. ? Kumenangiiiiis, membayangkan ....? Bruuppp ... Uhuk-uhuk-uhuk. Angel menyambar ponselnya yang berdering sambil terbatuk. Me-rejeck tanpa melihat siapa yang menelponnya. “Astaga, kaget gua. Dodol, ini pasti kerjaan si Risa.” “Pprtt, Astaga, gua gak nyangka, lu se-mellow itu bertengkar sama si Gio, hahahaha.” Angel mendengus, wajahnya sudah memerah malu, apalagi semua yang ada di sana pasti mendengarnya. “Awas saja nanti, Risa kampr*t.” ? Kumenangiiiiis, membayangkan ....? “Ada apa, hah?” “Kamu berani bentak saya?” Mata Angel hampir keluar, saking kesalnya gara-gara nada dering ponselnya. Tanpa dilihat, dia mengangkat telponnya dan langsung membentak si penelepon. Karena kecerobohannya, dia malah menggali kuburannya sendiri. “Maaf, Sir. S--saya tidak tahu, bahwa anda yang menelpon.” “Kamu belum menyimpan nomor saya?” “Bukan begitu maksud---“ “Bahkan saya adalah sudah menjadi orang terpenting dalam urusanmu. Tapi dengan beraninya tidak menyimpan nomor saya.” Perut Angel tiba-tiba merasa mual. Mulut manusia yang tengah nyerocos di seberang sana, selain pedas, PDnya bikin orang mati kebo. “Kamu mendengarkan saya bicara tidak?!” Memejamkan mata seraya mencoba menghirup udara sebelum mengembuskannya secara perlahan. “Tentu, Sir. Saya mendengarkan. Mohon maaf atas sikap saya barusan yang tidak saya sadari.” “Jadi, nomorku beneran belum kamu simpan.” “Ya ampuuuun, cerewet sekali pria ini. Rese.” “Sudah, Sir. Setelah anda memberikannya, saya langsung men-save no-mor an-da.” “Ck, bisa biasa saja. Gak usah dipenggal-penggal kata-katanya!” Angel menyambar bakwan di hadapannya. Dengan gemas, menggigitnya dengan gerakan brutal. “Gua maunya penggal palalu, Dodol.” “Maaf, Sir. Akan saya ingat.” “Kamu ... save nomor saya dengan contact name apa?” Si Kepoooooo. “Presdir Dewa Permana,” jawab Angel, menggigit bibirnya sambil menatap nama yang tertera di layar ponselnya 'Dewa Yama’ yang artinya dewa kematian (menurut kepercayaan Hindu). “Kamu menghilangkan satu nama saya.” Astaga!!! “Akan saya tambahkan, Sir. Presdir Rangga Dewa Permana. Sudah cukup, Sir?” tanya Angel lembut sekali. Kesabarannya sudah di titik angka 1 dan kemarahannya mencapai titik 99. “Sama sekali tidak cukup.” “Sabaaar! Jangan mati sekarang, pleasee. Gua masih muda. Belum bertemu pangeran Charming gua dan belum menikah.” “M dan Y, belum kamu sematkan di depan nama saya.” Tut. Wajah Angel memberengut. Berpikir keras. M dan Y, apa maksudnya? “Jel, pak Rangga menelpon apa? Kok gua ngeri lihat ruat wajah lu?” “Jass, M dan Y. Maksudnya apa?” “My?” Jasmine ikut mengernyit. “Emang kenapa?” Angel kembali berfikir. My? Apa maksudnya? “M dan Y, belum kamu sematkan di depan nama saya.” “My Presdir Rangga Dewa Permana?” gumam Angel tanpa sadar. Jasmine sontak memuntahkan makanannya. “Apa lu bilang? My Presdir?” Mata Angel mengerjap. Seketika menjerit tertahan, merutuki kesalahannya. Apa-apaan pria itu. Dasar hidung belang. Sudah dapat istri cantik, masih berani menggoda perempuan lain. “Rangga Dewa Permana. Gua sumpahin, aset lu panuan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN