“Maaf, Sir. Sa—saya permisi ke kamar kecil dulu.” Rangga menatap Angel lekat. “Kamu, tidak mencoba menghindar dari saya, bukan?” Angel menggeleng. “Perut sa—saya tidak nyaman,” jawabnya jujur. Perutnya memang sangat sakit seperti dililit. “Ayo, saya antar.” Rangga akan berdiri, kalau saja Angel tidak mencegahnya. Pria itu menatap Angel penuh tanya. “Sa—saya bisa sendiri, Sir.” “Memang kamu tahu di mana tempatnya?” Angel menunjuk satu papan tidak jauh dari tempatnya. “Sudah ada petunjuknya, Sir.” Pada akhirnya, Rangga hanya bisa mengembuskan napasnya—keberatan. Sebenarnya, dia tidak takut jika Angel akan tersesat, tetapi, dia lebih takut kalau gadis itu kembali bertemu bahkan didekati Erik. SoalnErik, Rangga bisa saja membuat pria itu babak belur saat itu juga, tetapi dia ti

