Angel berjalan sedikit berlari ke arah meja kerjanya, mengambil napas beberapa kali, lalu dia embuskan dengan pelan-pelan. Brak! Astaga! Mata Angel terpejam, sangat tahu siapa yang melemparkan setumpuk berkas ke atas mejanya. “Tenang, Njel! Jangan diladeni!” batinnya terus mendoktrin agar dirinya tetap tenang. Berdiri dan membungkuk. “Pagi, Sir!” sapa Angel seraya menatap Rangga tenang. Rangga mendengus keras, tatapannya dingin dan tajam, berharap manik kecokelatan itu merasa takut akan pandangannya. Namun, tak ada satu pun ketakutan di sana. “Bantu saya koreksi semua laporan itu!” “Baik, Sir.” Angel kembali membungkuk dan langsung mengambil berkas-berkas itu untuk dirapikannya. Tak memedulikan keberadaan Rangga yang masih di sana menatapnya. Tangan Rangga terkepal kuat, melihat

