Jena langsung membacanya. Namun tak segera membalas. Kini ia sedang coba mengetik balasan. Lama sekali. Pasti ia sudah mengetik sesuatu, kemudian merasa apa yang sudah diketok kurang tepat, lalu menghapusnya lagi, dan menulis pesan baru lagi. Jena pasti terkejut dengan ucapan Athar. Tentu saja. Alih - alih membalas pesan Athar, Jena kini justru meneleponnya. Athar sebenarnya tak ingin menerima telepon itu. Karena dengan berbicara menggunakan mulut, ia akan sedikit lebih kesulitan dalam mengatur strategi pura - pura penuh kebohongan, demi bisa segera berpisah dari Jena, atas hubungan tanpa status mereka selama ini. "Iya, Jena ...." "Athar ... maksud kamu apa, sih? Kenapa mengucapkan hal seperti itu?" Iya, kan. Jena pasti sangat bingung. Sudah ada rasa kecewa saat ini di hatinya. Namun

