Athar rasanya sulit sekali untuk berterus terang. Ia memotong roti di piringnya, menyuapkan ke dalam mulut dengan kurang bersemangat. "Pagi ini dia nggak dateng, Ma. Mungkin dia nggak akan Dateng selama beberapa hari ke depan." Athar menjawab dengan jujur. Berusaha membuat raut wajahnya tanpa beban, seolah tak terjadi apa - apa. Meski itu sangat sulit. Terang saja, mendengar jawaban Athar itu, Siska dan Brama terkejut. Padahal mereka sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana sosok kekasih Athar, sosok wanita yang pasti sangat istimewa karena berhasil mengalihkan perasaan Athar yang hampir permanen pada Jena. "Kenapa kok nggak jadi?" Siska segera bertanya. "Dia butuh waktu, Ma." "Butuh waktu untuk apa sayang?" "Butuh waktu untuk mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan kalian." Sis

