Ditemani cahaya bulan interaksi keduanya disaksikan ribuan bintang bersama sepi menari indah di sekitar. Detik demi detik terlewati menemani waktu kian terkikis. Luka kembali tercipta menimbulkan pengakuan, jika sejatinya apa yang diharapkan tidak sesuai keinginan. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.
Diam menjadi teman setia mengendap dalam jiwa. Hanya sorot mata sebagai pernyataan bagaimana hati berbicara.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu pula dengan kesedihan. Namun, untuk mencapai semua itu membutuhkan air mata yang tidak sedikit dan setelahnya memberikan kebahagiaan tiada tara.
Rintik tangisan langit perlahan turun dengan sendirinya. Gelombang petir saling bersahutan memberikan cahaya menyilaukan. Kilat menyambar membuat pemuda yang tengah membantu mengobati luka Permata tersentak.
Sudut kemerahannya sedikit terangkat kala melihat tangan tegap Kenzie yang tengah memberikan betadine di pelipisnya gemetaran.
"Apa kamu takut petir?" tanya Permata langsung, mengejutkan.
Kenzie menarik kembali tangannya dan memandangi ke dalam manik kecokelatan di sana. "Apa yang kamu tanyakan? Mana ada," kata-kata dusta terlontar lagi.
"Benarkah? Terus kenapa tanganmu gemetaran seperti itu, tremor? Atau belum makan?"
Kenzie berdecih dan melepaskan kontak mata dengan Permata. "Iya aku takut dengan petir, kenapa? Puas? Kamu mau terus menggali kelemahan ku untuk menyebarkannya di sekolah?" ocehannya membuat sang gadis menggeleng.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Kenapa kamu terus berpikir negatif tentangku? Aku juga punya ketakutan-"
"Apa? Apa yang kamu takutkan? Bukankah kamu selalu memberikan yang terbaik di sekolah?" Kenzie memotong perkataannya cepat.
Senyum lemah terpendar menggetarkan d**a tuan muda. Kenzie tahu ada sesuatu yang tengah disembunyikan Permata.
Darah yang telah mengering di seragam sekolah dan luka lebam di lehernya membuat Kenzie tertegun. Ia sadar telah terjadi sesuatu dengan gadis ini beberapa saat lalu, rasa penasaran itu muncul membuatnya terkesiap sendiri.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu pulang membawa luka lebam dan berdarah seperti ini?" lanjut Kenzie mencairkan suasana sambil mengobati lukanya lagi.
"Tidak ada yang terjadi."
"Dusta, katakan yang sebenarnya Permata," sambar Kenzie, sinis.
Gadis cantik itu tidak langsung menjawab perkataan barusan. Ia menunduk dalam seraya meremas jari jemarinya kuat.
Ada hal yang tidak bisa dikatakan begitu saja pada siapa pun. Biarkanlah menjadi sebuah rahasia dan hanya waktu yang akan menjawabnya.
"Kita tidak sedang berada dalam hubungan untuk membicarakan keadaan masing-masing, kan? Saya minta maaf pulang terlambat dan tidak melayani Tuan muda. Terima kasih sudah merawat luka saya," jawab Permata kembali bersikap formal, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.
Setelah itu ia beranjak dari duduk meninggalkan berjuta kebimbangan dalam diri Kenzie. Tuan muda tersebut mematung mencerna setiap kata yang keluar dari bibir menawan Permata.
Benar apa yang dikatakan gadis itu tadi, jika sekarang mereka sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi, selain sebatas pelayan dan majikan semata.
"Apa yang kamu pikirkan, Kenzie?" Ia lalu mengusak rambutnya sekilas.
Sekembalinya ke kamar pribadi, Permata duduk diam di tempat tidur. Wajahnya datar tanpa satu ekspresi terlihat.
Satu hal yang menjadi kebiasannya dulu kini kembali lagi. Tanpa rasa takut dan sakit, ia pun melakukannya.
Sedetik kemudian senyum mengembang di wajah cantik itu menambah kentara perasaan terdalam. "Iyah, aku masih hidup," gumamnya kemudian.
Air mata tidak lepas dari kesendirian. Cairan bening terus menetes membasahi seragam sekolah. Ia tidak bisa menghilangkan fakta jika kebiasaan itu masih menunjukan jika dirinya masih menghirup udara bebas, tetapi memberikan racun secara perlahan.
***
Hari demi hari berlalu, pekerjaan Permata sebagai pelayan pribadi Kenzie kini sudah hampir satu bulan lamanya. Terhitung dari taruhan waktu itu kebersamaan mereka sudah mendekati dua bulan. Kebiasaan dan kehadiran satu sama lain mengantarkan pada dunia baru.
Hari ini menjadi waktu paling bersejarah bagi seorang Kenzie Pratama. Tepat pada tanggal xx-xx-xxxx ia berulang tahun ke-delapan belas.
Momen paling ditunggu, paling mendebarkan dan paling berharga bagi semua orang datang menerpa. Namun, tidak dengannya, tanggal tersebut memberikan fakta jika nyatanya ia seperti tidak diinginkan oleh siapa pun.
Termasuk orang tuanya, Winter dan Edwin.
Kenzie sudah terbiasa sendirian saat melewati hari kelahiran dan hanya ada tumpukan kado dari rekan bisnis orang tua, juga beberapa teman. Para maid yang bekerja di sanalah yang setiap kali menemaninya. Ia sudah muak dan butuh suasana baru.
Di sinilah Kenzie berada, tengah memberikan undangan pesta ulang tahun. Hampir semua angkatan kelas tiga diundang, hal tersebut menjadi kegembiraan untuk mereka.
Kenzie jarang mengundang teman-temannya ke dalam mansion keluarga Pratama. Biasanya pemuda itu akan menolak mentah-mentah pada siapa saja yang ingin berkunjung. Tidak terkecuali kekasihnya, Lusi.
Permata yang tengah duduk di kursi menyibukkan diri dengan membaca buku. Teriakan kegembiraan teman sekilas tidak dihiraukan. Ia terlalu muak dan juga tidak tertarik dengan kesenangan mereka.
"Jadi, ini hari ulang tahunnya? Dan malam nanti Kenzie akan mengadakan pesta di mansion? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku tidak usah datang bekerja? Tapi bagaimana dengan perjanjian dengan nyonya Winter jika aku harus melayaninya dengan baik? Baiklah Permata ini demi mamah, aku harus bekerja," monolog Permata sibuk dengan pikiran sendiri.
Tidak lama berselang ponselnya bergetar, buru-buru ia mengeluarkan benda pintar tersebut di saku seragam. Tertera tuan muda di layar, ia mengerutkan kening dalam lalu segera membuka pesan tersebut.
"Jangan sampai kamu bolos kerja. Aku tidak peduli jika nanti teman-teman tahu kamu bekerja menjadi pelayan untukku. Ingat itu!!"
Isi pesan yang tidak ingin dibantah membuat Permata menghela napas. Mau tidak mau ia memang harus melakukan tugasnya dengan baik.
Ia juga tidak peduli dengan teman-teman sekolahnya, sebab bagaimanapun Permata tidak diinginkan oleh mereka.
"Baiklah, aku harus melakukan yang terbaik," batinnya lagi.
Jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Mansion megah keluarga Pratama disulap menjadi pesta semalam dengan berbagai macam dekorasi menyambut ulang tahun sang tuan muda. Berbagai macam makanan, minuman dan juga bunga terhampar di sepanjang mata memandang.
Langit terlihat cerah malam itu, bintang bertaburan dengan cahaya bulan mendominasi. Pekarangan bunga yang berada di belakang dengan luasnya sama seperti lapangan sepak bola dengan air mancur di tengah-tengah menjadi tempat utama.
Di sudutnya terdapat kolam renang yang tidak kalah menarik. Balon-balon berbagai warna mengapung di permukaan dan di sisinya terdapat lilin-lilin kecil memancarkan cahaya menyilaukan.
Satu persatu tamu undangan berdatangan, para maid nampak sangat sibuk melayani. Musik lembut pun menjadi pengiring menyambut kedatangan mereka.
Siswa dan siswi yang hadir terlihat berbeda dengan tatanan rambut dan juga gaya berbusana. Para gadis ingin terlihat menonjol dengan gaun-gaun melekat indah di tubuh ramping masing-masing. Kaum Adam pun tidak kalah menampilkan sisi maskulinnya. Mereka bercengkrama satu sama lain menunggu sang pemeran utama datang.
Kenzie masih berada di dalam kamar tengah di dandani oleh penata busana terkenal. Ayah dan ibu yang tidak bisa hadir pun hanya bisa mendatangkan orang-orang ternama di bidangnya. Mau tidak mau ia menerima dan menikmati apa yang sudah diberikan.
Toxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu melekat pas di tubuh atletisnya. Gaya rambut yang disisir rapih menambah ketampanan tuan muda satu ini. Aroma citrus dan mint menguar menjadi daya tarik. Pria berusia dua puluh empat tahun yang mendandaninya tersenyum puas melihat hasil karya sendiri.
"Pangeran yang tampan," ucapnya membuat seulas senyum hadir di wajah Kenzie. "Sudah selesai, silakan Tuan Muda segera menghadiri pesta," lanjutnya lagi.
Kenzie beranjak dari duduk dan merapihkan jas singkat. Setelah memperhatikan sebentar pantulan dirinya di cermin besar, ia pun meninggalkan kamar pribadinya.
Baru saja pintu terbuka langkah kakinya terhenti seketika. Matanya beradu pandang dengan sosok manis yang juga baru keluar dari ruangan sebelah. Tatapan mereka saling mengunci berbicara lewat sorot mata masing-masing.