SEBUAH KEJADIAN

1558 Kata
Sore itu ia kembali mendapat tugas untuk mengantar barang. Pemuda itu sekalian minta ijin mencari beberapa buku di taman kota, kemarin ia melihat ada penjual buku bekas yang ia inginkan. “Boleh, tapi Lu anterin dulu barang orang sampai ke tempatnya ya,” “Iya koh,” Aindra menggeber kuda besinya. Ia melewati jalan tikus untuk menghindari jalan panjang dan macet. Sampai tempat, pemuda itu langsung menurunkan barang dan memastikan semua dalam kondisi menyala. Ia juga memvideokan buktinya. “Koh, barang udah sampai dengan selamat ya. Ini nyala semua,” “Iya, makasih ... jarang ada karyawan yang sesigap kamu, pake dibuktiin jika barang sesuai dan dalam kondisi baik,” ujar penerima barang. Sailendra pun pamit setelah tanda bukti diterimanya. Ia juga menyimpannya dengan baik. Segera ia menggeber motor untuk ke lokasi di mana kemarin ia melihat pedagang loakan yang menjual barang-barang bekas dan masih layak pakai. Sesampainya di sana. Tempat itu sudah ramai oleh pejalan kaki dan motor yang berjalan pelan-pelan. Ia juga memelankan laju motor dan mencari pedagang buku-buku. Setelah sepuluh menit berjalan akhirnya ia menemukan pedagang itu. Ia pun segera mencari buku yang ia mau. Dengan harga tiga ratus ribu, ia sudah mendapat delapan buku yang jika dibeli di toko resmi, mencapai dua kali lipat harga per bukunya. Usai membeli, Aindra juga membeli beberapa kemeja yang cukup bagus untuk pergi ke kampus juga celana bahan. Bahkan ia juga membeli dua pasang sepatu dari branded ternama. Ia hanya tinggal memperbaikinya saja dengan biaya tambahan sepuluh ribu sepasang sepatu. “Makan dulu enak kali ya,” gumamnya.. Terbiasa memakai masker, membuat wajah tampannya tak banyak yang memperhatikan. Aindra memilih memakan nasi goreng pinggir jalan. Satu hal yang tak mungkin dulu ia lakukan ketika menjadi raja. “Permaisuri, jika kau lihat aku sekarang di sini. Mungkin kau akan langsung menolakku,” gumamnya lirih. Aindra sengaja memilih tempat paling pojok dan menghadap dinding. Entah mengapa sampai sekarang ia paling malas bertatapan dengan khalayak ramai kecuali para pendatang yang datang ke toko tempat ia bekerja. “Ini mas, nasi goreng dan teh tawarnya,” ujar penjual dan menaruh satu piring nai goreng dan satu gelas teh tawar hangat di atas meja. Beberapa orang melirik cara dia makan. Begitu sopan dan memakai tata krama makan ala bangsawan. Sungguh menjadi perhatian khalayak ramai. Di mana semua orang makan akan berbunyi sendok dengan piring atau sendok dengan gigi mereka. Aindra tidak sama sekali. Pemuda itu makan tanpa suara bahkan ia mengunyah makanan dengan pelan seakan menikmati apa yang ia kunyah. Usai makan, Aindra mengusap mulutnya dengan tisu yang ia bawa, lalu minum teh secara perlahan. Sungguh semua orang jadi berhenti dari kegiatan makan mereka karena melihat tata cara dirinya makan dan minum. Usai minum pun pemuda itu tidak langsung berdiri. Aindra memilih diam sejenak dan mengatur ritme jantung dan napasnya agar tak sesak. Setelah lima menit ia berdiam. Aindra kembali memakai maskernya, barulah orang-orang seperti tersadar dan melanjutkan kegiatannya. Pemuda itu membayar makanannya tadi. Setelah itu ia pulang menuju tokonya. Tak butuh waktu lama, hanya sepuluh menit ia sampai di toko, Ashen masih berdiri di sana. “Eh ... kok cepet?” tanya Ashen. “Loh, emang saya cepet Koh? Perasaan tadi lama deh?” sahut Aindra bingung. “Gue kira elu sampe dua atau lima jam di luar buat nongkrong dulu. Ini nggak nyampe satu jam loh kamu keluar!” sahut pria bermata sipit itu juga bingung. “Astaga, ngapain saya sampe lima jam di luar koh?’ Aindra menggeleng tak percaya. Pemuda itu membawa bukunya ke dalam dan mulai membantu atasannya bekerja. Hanya ada dua pembeli kipas angin saja malam ini. Ashen memilih menutup cepat tokonya. Pria itu sedikit kurang enak badan. “Lu besok tutup aja. Lagian nggak ada barang masuk atau keluar. Owe kurang enak badan soalnya,” pinta pria itu. Aindra mengangguk dan menurut. Ashen memang selalu menyuruh karyawannya tutup jika ia tak bisa datang ke tempat penyimpanan barang dagangannya itu. Bukan masalah tak percaya. Tapi pria itu juga memberi libur pada karyawannya. Toko tutup awal. Aindra menolak menjual barang karen sudah diperintah untuk tutup toko dari bossnya. Akhirnya pendatang itu membeli di toko lain. Ashen tak pernah mempermasalahkan hal itu. “Rejeki sudah ada yang atur. Kali aja owe nolak rejeki hari ini. Mudah-mudahan besok ada rejeki lain,” begitu alasannya. “Duit bisa dicari. Tapi badan sehat itu susah buat jagain nya,” lanjutnya. Satu pelajaran yang kembali diterima oleh Sailendra jika semua harus dilakukan sesuai komposisi dan kapasitas tubuh kita. Karena sakit yang rasain adalah tubuh sendiri dan membuat pekerjaan lain terbengkalai. Pagi hari menjelang, seperti biasa Aindra membersihkan dulu seluruh tokonya. Ia tetap membuka rolling dor untuk mengelap kacanya. Tetapi kembali ia tutup sesuai perintah atasannya. Usai menyelesaikan semua pekerjaan. Pemuda itu membersihkan diri, memakai seragam kampus karena ini adalah jadwal memakai seragam dan juga jaket almamaternya. Di kelas ia duduk sendirian selama delapan menit lalu satu per satu mahasiswa lain masuk berbondong-bondong dengan berlari. Mereka segera buka buku dan membaca sekilas. Dodo masuk dengan napas sesak dan muka memerah. Ia nyaris terlambat jika saja ia tak berlari dengan cepat. “Sial, ekonomi dasar itu mata kuliah penting. Bisa di DO jika sampe di-alpa!” keluhnya. “Lagian tau mata kuliah penting, bukannya bangun lebih pagi malah sengaja bangunnya siang.” sindir Aindra. “Gue nemenin bokap di rumah sakit tadi malam,” sahut Dodo lemah. “Sorry bro, gue ....” “Dah, nggak apa-apa, gue juga kadang langsung nge-judged orang kok. Nggak usah dipikir,” potong Dodo menenangkan temannya itu. Dosen datang dan langsung membagikan kuis pada anak didiknya. Semua mengeluh panjang, bahkan ada yang berani protes pada dosen killer itu. “Itu semua materi kemarin presentasi Aindra. Jika kalian ingat, pasti bisa jawab,” sahut sang dosen. “Eh ... siapa ya, yang kemarin bilang materinya sama kek Aindra punya?” seru salah seorang mahasiswa. Seluruh kelas terkikik geli. Sedang yang kemarin mengaku-ngaku hanya duduk dan diam saja menahan malu. Melihat kelas yang tiba-tiba riuh, membuat dosen killer itu menggebrak meja hingga semua mahasiswa diam. “Kalian ini sudah dewasa. Jangan seperti anak TeKa!” bentaknya. “Kerjakan dalam tugas, mau nyontek silahkan ...,” dosen itu menghentikan ucapannya. “Asal nggak ketauan saya!” ujarnya melanjutkan dengan menyembunyikan senyumnya. Baru para mahasiswa senang dengan perkataan awal dosen mereka. Namun harus kembali kecewa mendengar perkataan terakhir dosen mereka. Hanya butuh waktu sepuluh menit menjawab kuis dadakan itu. Kertas kembali diberikan pada dosen. Jam kuliah sudah selesai dari tadi. Aindra masih harus ke perpustakaan untuk menyusun materi besok. Dodo kembali mengikuti cara belajar temannya itu. “Ndra, ada yang liatin kamu tuh!” bisik Dodo. “Biar, dia kan punya mata,” sahut Aindra tak acuh dan masih fokus dengan bukunya. :Ish .. cakep Ndra, buat gue nih kalo nggak mau!” sahut pemuda itu. “Ambil aja,” ujar AIndra masih tak acuh pada temannya yang super heboh. Satu jam sudah Aindra menyusun review-nya di buku. Pemuda itu tinggal mengetiknya di komputer dan menge-print hasilnya. Aindra melupakan sosok Dodo yang sudah tak lagi bersuara. Pemuda itu juga sudah pergi dari perpustakaan bersama gadis manis yang dari tadi memperhatikan mereka. Sesaat Aindra berhenti, ia seperti melupakan sesuatu, tapi ia sendiri lupa apa itu. Memilih tak peduli, pemuda itu melanjutkan ke ruang komputer yang memang disediakan oleh pihak kampus. Ketika ia berbelok di salah satu koridor kampus yang cukup sepi, ia mendengar suara-suara aneh. Sebuah suara desahan dan cecapan antara dua bibir yang beradu. Memilih tak peduli, Aindra melanjutkan melangkahkan kaki. Suara itu makin lama membuat ia makin merinding. “Masa ada hantu sih?” gumamnya. “Masa juga aku takut hantu!” Ia akhirnya penasaran. Mengikuti asal suara yang makin lama membuat orang makin berpikiran buruk. Di sana, di sebuah pojok ruang. Aindra dengan jelas bagaimana Dodo tengah mencumbu seorang gadis. Pakaian mereka sudah terbuka ke mana-mana. Bahkan celana dodo sudah melorot dan memperlihatkan setengah b****g telanjangnya. “Aaahh ... Do,” erang gadis itu. “Bentar sayang ...,” erang pemuda itu yang menunduk dan tengah berusaha memasukkan miliknya. Keduanya tengah dirasukin setan. Aindra tadinya memilih untuk membiarkan hal tak senonoh itu terjadi. Toh jika terjadi sesuatu, yang menanggung konsekuensinya mereka berdua. Tetapi bayangan wajah mendiang istrinya yang terbaring dengan darah bersimbah melintas di pikiran pemuda itu. “Do ... ngapain Lu!” teriaknya. Terdengar suara gaduh di belakang tubuh Aindra. Ya, Aindra memilih membelakangi keduanya agar tak membuat malu sang gadis. Butuh waktu lima menit. Gadis yang dicumbu oleh Dodo berlari dan melewati begitu saja tubuh tinggi Aindra. “Ndra ... lu liat semuanya?” Aindra membalikkan tubuhnya dan menatap pemuda itu dengan pandangan kecewa. “Tenang. Elena bukan gadis baik-baik kok, dia biasa ngelakuin ini dengan pria lain,” terang Dodo sangat santai. “Jadi, karena dia bukan gadis baik-baik, Lo nggak apa-apa jadi cowok berengsek nya?” tanya Aindra penuh intimidasi. Di jamannya dulu, memang ada wanita yang menjajakan diri. Bahkan ada lokalisasi dan legal, beberapa bangsawan juga ada yang kedapatan memangku para gadis macam Elena, dengan pakaian tidur yang tipis dan belahan d**a rendah. Para p****************g suka membenamkan wajah mereka di gundukan empuk itu sambil sesekali meremasnya. Aindra mengingat seorang madam pengasuh gadis-gadis penjaja cinta itu. “Madam Roseline Eastwood,” gumamnya. “Siapa?” tanya Dodo membuyarkan lamunan Sailendra. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya lalu pergi menuju ruang komputer tanpa menghiraukan Dodo yang ikut menyusulnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN