Lima ratus tahun kemudian.
Sosok pria tampak berlari. Beberapa kali ia menoleh ke belakang memastikan dirinya tak dikejar oleh orang lain. Tubuhnya sudah lemah, ia sudah lelah. Ia menyerah kalah. Seumur hidupnya ia dihina, dituduh sesuatu yang bukan kesalahannya. Dikasari hingga nyaris dilecehkan. Ia sudah lelah, jiwanya semakin lemah.
Ia berbelok ke lorong kecil dan sempit. Bajunya yang lusuh, kakinya lecet karena berlari tanpa alas kaki. Ia dituduh mencuri roti. Padahal roti yang ia makan baru saja dia ambil dari tong sampah. Ia dihajar habis-habisan oleh sekelompok orang yang tidak tahu permasalahannya apa. Bahkan ia nyaris dibakar jika saja ia tadi tak melarikan diri.
Tubuhnya luruh. Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun. Pria itu kelelahan setengah mati. Entah berapa jauh ia lari. Ia tidak tahu.
"Tuhan. Aku lelah!" teriaknya.
"Apa salahku! Kenapa Kau coba aku sejauh ini!" teriaknya lagi.
Ia menangis, berteriak dan meraung sekeras-kerasnya. Lalu meluruhkan tubuhnya di jalanan yang kotor. Ia menangis tersedu-sedu. Pria itu memejamkan mata erat. Jiwanya yang lemah tak mampu bertahan lagi.
Lama terpejam, mata itu tiba-tiba bergerak perlahan. Sebuah lenguhan keras terdengar dari mulutnya. Mata yang terpejam perlahan terbuka. Sedang tubuhnya yang kaku secara perlahan pun bergerak. Rintihan kesakitan keluar dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah. Ia berusaha membangunkan dirinya.
"Aarrghh!"
Pria itu kesakitan. Tubuhnya seperti remuk, sendi-sendinya seperti lepas. Berusaha bangkit.
Brugh!
Tubuhnya lagi-lagi terjatuh. Ia lemah tak bertenaga. Sekuat tenaga ia membangkitkan tubuh kurusnya. Tapi lagi-lagi ia terjatuh. Kepalanya sangat sakit. Berkali-kali ia bangkit. Berkali-kali pula ia jatuh. Ia pun terduduk berusaha membangkitkan kembali energinya. Mengatur napas dan ritme detak jantungnya. Iris abu-abu itu mengerjap, lalu memindai sekelilingnya.
Kotor, pengap dan bau. Itulah penilaiannya pertama kali melihat tempat ini. Ia memijit-mijit tubuhnya. Tiba-tiba sebuah tangan menjulur memberinya satu bungkus nasi dan beberapa air mineral dalam kemasan gelas. Ia mendongak. Menatap sosok wanita berjas putih. Ia tak tahu raut wajah wanita itu karena memakai masker.
"Untuk Bapak," ujarnya lembut.
Pria itu menatap mata indah itu menyipit. Ia tahu jika sang wanita tengah tersenyum.
"Terima kasih," ungkapnya tulus.
"Sama-sama," sahutnya ramah.
Wanita itu berbalik dan menjauh. Pria itu mengernyit. Melihat jalan yang ditempuh wanita tadi. Memasuki lorong sejauh ini dan memberi makan padanya? Ia hanya menggeleng pelan mengusir pikiran aneh yang menyerangnya tiba-tiba.
Pria itu melihat kedua telapak tangannya. Kotor dan berdebu. Mengambil satu gelas mineral untuk mencuci tangannya, lalu membuka bungkus makanan. Sebenarnya dunia tempatnya dulu tinggal sangat berbeda dengan tempatnya sekarang.
"Ah, nanti saja aku pikirkan. Sebaiknya aku makan agar tenagaku pulih," ujarnya bermonolog.
Ia pun memakan makanan itu dengan lahap. Seperti orang ratusan tahun tak makan. Hanya hitungan menit, makanan itu habis tak tersisa. Pria itu sampai bersendawa akibat kekenyangan. Meminum habis semua air mineral yang ada. Ketika hendak membuang bungkus ia melihat kertas bergulung.
"Sepertinya ini uang?" Ia pun membuka gulungan.
"Lima puluh ribu?" ia pun mengantongi uang itu.
Setelah tenaganya pulih. Ia pun berdiri lalu keluar dari lorong sepi itu. Panasnya aspal membuat ia berjalan berjinjit. Banyak mata memandangnya jijik, berdecis bahkan membuang ludah.
Melihat alas kaki orang-orang. Dulu kakinya beralas kain sutra bahkan terompahnya dilapisi emas. Banyak orang berebutan menciumi kakinya. Bahkan jika terluka sedikit saja, semuanya berebutan untuk mengusap kakinya, bahkan mereka dihukum karena itu.
Ia pun berjalan ke sebuah kios kecil. Sosok wanita tua menatapnya dengan ketakutan. Matanya yang menyorot dingin. Hanya menunjuk alas kaki yang dipakai wanita tua itu. Lalu merogoh saku dan memberinya uang yang didapat dari wanita baik hati tadi.
Si wanita tua yang tadi ketakutan, bernapas lega. Ia pun mengambil benda yang diinginkan. Lalu memberinya.
"Nih, ambil aja nggak usah bayar!" ujarnya menolak uang yang diberikan pria tadi.
Pria itu membuka plastik lalu memakai sandal yang diberikan wanita itu. Lalu, ia tersenyum. Wajahnya memang masih kotor, tirus dan tidak terawat. Tapi, senyumannya mampu membuat orang terpana termasuk wanita tua itu.
Pria itu hendak pergi. Tetap, wanita itu memanggilnya.
"Tunggu!" Ia berhenti lalu menoleh.
"Nih, buat kamu!" ujarnya lalu memberi satu bungkus roti tawar dan satu botol air mineral ukuran besar.
Pria itu memandang lekat wanita tua yang tak dikenalnya. Sosok baik satu lagi dijumpainya.
"Terima kasih," ungkapnya tulus.
"Kalau mau bersih-bersih. Di pasar ada kamar mandi gratis. Kamu bisa kesana!" ujarnya memberi tahu.
"Pasar?"
"Kamu jalan aja lurus ke sana lalu belok kiri. Kamu akan lihat banyak orang berjualan sayuran dan lain sebagainya. Itu namanya pasar!" jelas wanita tadi.
Pria itu mengangguk. Ia pun berjalan kembali.
"Hati-hati jika menyebrang jalan!" teriak wanita tua tadi memperingatinya.
Pria itu menoleh dan mengangguk. Ia pun berjalan kembali, menuju pasar. Wanita tua itu memandang pugung lebar yang menjauh. Lalu menepuk dahinya.
"Kenapa nggak kuajak ke rumah aja!" runtuknya sesal.
Ia pun kembali menjalankan aktivitasnya. Sedangkan pria itu terus berjalan. Mengamati orang-orang. Ada yang memandangnya iba, jijik, curiga dan lain sebagainya. Ia pun mengamati dirinya di kaca besar sebuah toko. Pria itu terkejut bukan main melihat penampilannya.
"Astaga!"
Orang-orang yang di sekitarnya tertawa. Mereka menganggapnya gila. Salah seorang petugas keamanan mengusirnya pergi.
"Hush ... pergi sana! Mengganggu saja!"
Pria itu pergi. Berjalan ke arah yang tadi ibu tua katakan. Sebuah tempat di mana orang-orang berjualan. Banyak yang mengusirnya pergi. Walau ada sebagian yang memberinya roti. Pria itu mengumpulkan roti dalam satu plastik yang ia bawa.
Ia mencari kamar mandi gratis yang tadi dikatakan wanita tua penjaga kios. Tetapi, ia tak menemukannya.
"Kau cari apa! Jangan di sini. Pergi sana!" usir salah satu penjaga toko baju.
"Orang gila ... orang gila ... orang gila!" sekelompok anak-anak mengatainya sambil bertepuk tangan dan tertawa.
Pria itu diam saja. Ia hanya mengamati anak-anak itu. Lalu menggeleng. Tak habis pikir, walau ia gila, setidaknya anak-anak tidak mengatai orang tua sembarangan.
Pria itu menggubris mereka. Ia terus berjalan lalu berbelok ke sebuah kios-kios tertutup. Matanya mengedar. Sebuah gang bertulis "WC Umum gratis". Pria itu berjalan ke arah yang ditunjuk. Benar saja, di sana ada kamar mandi berserat.
"Mau mandi Pak?" tanya salah seorang warga.
Ia menoleh. Lalu mengedarkan pandangan, ternyata kamar mandi gratis itu berada di sebuah perkampungan yang tak jauh dari pasar.
"Iya, Pak," jawabnya kemudian.
"Oh, masuk saja, gratis kok," ujarnya.
"Kamu nggak bawa handuk dan baju ganti. Juga peralatan mandi lainnya?" pria itu menggeleng.
"Kalau begitu tunggu sebentar," titahnya, "duduk dulu di situ ya."
Pria itu duduk di sebuah kursi kayu panjang. Udara di perkampungan itu sangat bersih, bahkan pot-pot dengan tanaman hijau berjejer bersusun. Air-air yang mengalir di parit juga tidak begitu keruh. Pria baik hati tadi datang membawa satu stel pakaian dan peralatan mandi satu kali pakai.
"Nih, handuk, sabun, sikat dan pasta gigi. Juga satu set pakaian luar juga pakaian dalam. Sekarang, mandi sana!"
Pria itu mengangguk, membawa semua peralatannya ke bilik mandi. Ia pun membersihkan diri. Setelah membersihkan diri ia pun keluar. Pria baik hati tadi sudah tidak ada.
"Aku belum mengucap terima kasih," ujarnya bermonolog.
Ia pun meninggalkan kampung yang bersih ini. Ia akan kembali ke pusat kota. Walau ia tak tahu untuk apa ia ke sana. Pria itu hanya mengikuti kata hatinya.
Malam menjelang. Pria itu masih berpikir, kenapa ia malah berada di tubuh yang lemah ini. Kurus dan tak terawat. Ia berjalan di sebuah jalanan besar yang sepi. Tiba-tiba.
"Tolong!" ia mendengar teriakan seseorang.
Pria itu mengedarkan pandangan. Lagi-lagi ia mendengar teriakan minta tolong. Arahanya dari selatan. Ia pun bergegas ke arah teriakan.
Di sana ia melihat seorang pria berusaha mempertahankan tas miliknya dari salah seorang penjambret. Pria itu langsung berlari dan menendang dengan keras pejambret itu hingga tersungkur.
"Awas Lo ya!" ancam penjambret itu, lalu berlari ketika pria itu menggertaknya.
"Terima kasih anak muda," ujar pria berperut buncit dengan napas terengah-engah.
Ia mengusap kakinya yang sakit akibat menendang penjambret tadi. Ia geleng-geleng. Dulu, tenaganya tak selemah ini. Ia bisa membunuh orang dengan tendangan tadi.
"Ini untukmu, anak muda!" ujar pria tadi menyerahkan dua ikat uang.
"Saya ikhlas, Pak," ujranya tulus.
"Saya juga tulus dan sepertinya kau membutuhkannya. Ambillah," ujarnya juga tulus.
Pria bernama Sailendra Hovert atau dipanggil Aindra itu, sedikit ragu. Pria itu langsung menaruh uang itu ke genggamannya.
"Ambil dan gunakan sebaik mungkin," ujarnya lalu, ia menaiki kendaraan yang ia bawa tadi.
Setelah kepergian pria itu. Matanya berkaca-kaca. Ia terharu. Sedemikian banyak orang yang menghinanya. Masih ada yang menganggapnya manusia.
Aindra pun berlalu dari sana. Dengan uang yang ia dapatkan, ia bisa menyewa satu rumah kecil dan membeli beberapa kebutuhannya. Ia pun tidur di sebuah pos jaga yang sepi. Uang itu ia letakkan dalam plastik berisi makanan yang ia dapat dari beberapa orang bak. Kini berada di bawah kepalanya. Ia tidur menunggu pagi menjelang.
Pagi datang. Ia pun membuka mata perlahan. Aindra merentangkan tangan merenggangkan ototnya yang kaku. Meraba perut kempir. Ia lapar. Mengambil satu takup roti pemberian wanita tua. Lalu memakannya.
Usai makan, ia pun berjalan mencari perumahan yang cukup dengan uangnya. Ia berjalan menuruti langkah kakinya. Kakinya berhenti di sebuah gang yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Ia tidak tahu nama kendaraan itu apa. Tetapi ingatannya berputar. Sebuah kata "mobil" terselip di otaknya.
Ia pun mulai bertanya pada pemilik warung yang ada di pinggir jalan besar. Lagi-lagi ia bertemu orang baik.
"Oh, mau nyewa rumah atau mau beli?" tanya pemilik kios.
"Saya mau sewa saja," jawab Aindra. Ia yakin jika untuk membeli uangnya tidak cukup.
"Ada tempat saya ngontrak. Satu rumah kecil, satu bulan itu harganya tujuh ratus ribu, tapi kalau satu tahun, dia minta lima juta saja," jawab pemilik kios.
Aindra mengingat jumlah uangnya. Satu ikat uang bernilai sepuluh juta. Jadi dengan satu ikat itu ia bisa menyewa rumah selama dua tahun.
"Bisa antar ke sana, Pak?' pintanya memohon.
Pria itu melihat benda bulat di dinding kiosnya. Lalu mengangguk setuju.
"Ayo, kebetulan, saya juga belum pulang dari tadi malam," ujarnya kemudian.
Setelah membantu menutup kiosnya. Pria itu menuju samping kios, menaiki kendaraan roda dua. Dalam otak Aindra, jika kendaraan tersebut dinamakan "motor".
"Ayo, naik!" ajak pria baik itu.
Dengan ingatan di kepalanya. Aindra menaiki motor. Dengan kecepatan sedang, pria baik bernama Sapto itu menjalankan motornya melalui gang kecil.
Butuh waktu dua puluh menit, mereka sampai di tempat. Sapto langsung menunjukkan rumah yang disewakan.
"Nah, ini tempatnya," jelasnya.
"Tapi, saran saya sih mendingan, kamu ngekos aja deh. Sayang uangnya kalau dipakai buat nyewa rumah ini. Bukan hanya itu, pemilik rumah ini ...."
Sapto menghentikan ucapannya. Ia merasa terlalu jauh memberi informasi pada orang asing.
"Ngekos?" Sapto mengangguk.
"Iya, kamu nggak perlu repot beli kasur atau lemari. Sudah disiapkan oleh pemilik rumah. Tapi, jika kamu mau nyewa rumah ini. Kamu kan mesti barang-barang itu lagi," jelas Sapto memberi pendapat.
Aindra mengangguk. Ia pun juga tidak tahu, berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk membeli barang-barang tersebut.
"Nih, ngekos mah di tempat itu yang pagarnya ijo," tunjuk Sapto pada sebuah rumah bertingkat.
Sapto melajukan kendaraannya. Memarkirnya di depan pagar. Lalu mengetuk pagar. Sosok pria beruban keluar dengan senyum ramah.
"Mas Sapto. Masuk, Mas. Parkir di dalam motornya!" titah pria itu.
Sapto mendorong pagar dibantu Aindra. Memasuki motor lalu menutup pagar kembali. Bangunan bertingkat itu agak menjorok ke dalam, jadi memiliki halaman yang cukup luas.
"Ini pemilik kos, namanya Pak Sueb!" jelas Sapto memperkenalkan pria beruban itu.
"Saya, Sailendra Pak. Panggilannya Aindra," sahut pria itu memperkenalkan dirinya.
Sapto langsung menjelaskan kedatangannya. Aindra butuh tempat tinggal.
"Kamu punya KTP?" tanya Sueb.
"KTP?" ingatan Aindra pada sebuah kartu yang ada foto dirinya.
Pria itu mengingat jika ia tak memiliki kartu identitas tersebut. Aindra menggeleng. Ada sedikit keraguan pada Sueb untuk memperbolehkan pemuda itu menempati salah satu kamar kosnya.
Manik abu-abu milik Aindra yang begitu kuat dan memancarkan kemisteriusan. Membuat Sueb gamang. Sapto tidak banyak membantu, ia yakin jika pria bernama Sueb ini akan menerima pemuda yang berada di sisinya.
"Baiklah, kau boleh tinggal di sini. Mau berapa lama?" tanya Sueb.
"Kalau satu tahun berapa, Pak?" tanya Aindra.
"Satu tahun, saya kenakan satu juta saja," jawab Sueb.
Aindra mengeluarkan uang dari plastik. Dengan memori yang ada di kepalanya, ia bisa menghitung jumlah uang yang tepat. Jamannya dulu tentu berbeda dengan jamannya sekarang. Terlebih, ia dulu memang tak pernah menyentuh namanya uang atau koin emas yang menjadi alat pembayaran di kerajaan dulu.
Setelah membayar. Sueb mengusulkan agar Aindra membuat kartu tanda penduduk, agar ia memiliki identitas.
"Tapi, saya tidak tahu buatnya di mana," sahut Aindra.
"Nanti saya antar," sahut Sueb.
Aindra mengangguk. Sekali lagi ia mendapat orang baik. Setelah meletakan tas kresek berisi roti dan air mineral. Aindra berniat membersihkan diri. Ada kamar mandi di dalam. Jadi ia tak perlu repot-repot keluar kamar. Beruntung ia membawa semua peralatan mandi kemarin.
Usai mandi pintunya diketuk. Aindra membuka pintu. Sueb mengajaknya untuk mengurus data diri.
"Kunci kamarmu. Ini kita buat gembok. Biar aman!" saran Sueb sambil memberikan satu alat kunci bernama gembok.
Setelah memasang gembok dan mengunci rapat pintu. Mereka pun pergi mengurus data diri. Sueb menjadikannya keponakan. Mengaku semua data diri Aindra hilang dijambret.
Dengan sedikit mengeluarkan uang lebih. Kini Aindra memiliki kartu identitas diri. Bahkan namanya ada di kartu keluarga Sueb sebagai keponakan. Sueb mengajaknya berbelanja. Membeli pakaian juga perlengkapan mandi.
Setelah pulang Aindra menanyakan berapa uang Sueb habis untuk berbelanja.
"Sudah, nggak usah kau pikirkan. Saya merasa kamu adalah orang hebat. Jika ramalan saya tepat. Ingat saya nanti, ya," ujarnya sambil terkekeh.
Aindra mengangguk. Ia pasti mengingat semua orang baik yang menolongnya. Ia sudah berjanji dalam hati, akan membalas semua perbuatan orang padanya.
"Oh ya, tadi saya beli kan kamu ponsel pintar. Itu saja deh kamu ganti uangnya. Hehehehe," selorohnya.
Aindra pun mengangguk. Ia membuka semua kunci pintunya. Lalu masuk. Menghitung uang senilai harga ponsel yang tadi dibelikan. Lalu menyerahkannya pada Sueb. Setelah itu ia menutup kamar dan menguncinya di dalam. Merebahkan tubuhnya di atas kasur yang lumayan empuk. Udara agak panas. Sueb sudah bilang nyalakan kipas angin. Aindra menyalakannya. Perlahan ia pun tertidur lelap.